Special Plan: Film “Jejak Wallacea” angkat konservasi pesisir berbasis komunitas

Film “Jejak Wallacea” angkat konservasi pesisir berbasis komunitas

Special Plan – Jakarta – Sebuah upaya konservasi wilayah pesisir yang melibatkan partisipasi masyarakat di kawasan Indonesia Timur kini diangkat dalam bentuk film dokumenter berjudul “Jejak Wallacea.” Dokumentasi ini mencatatkan langkah-langkah yang dilakukan komunitas lokal untuk menjaga ekosistem laut dengan cara yang memadukan kearifan adat serta sistem hukum tradisional mereka. Film berdurasi 45 menit tersebut merupakan bagian dari Proyek Kemitraan Wallacea II, yang dijalankan oleh organisasi nirlaba Burung Indonesia bersama berbagai mitra, serta diproduksi oleh ARISE! Communication dengan dukungan dari Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF).

Upaya Mendokumentasikan Praktik Konservasi

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat lalu, Co-Founder ARISE! Indonesia, Dian Sunardi, menjelaskan bahwa film ini dibuat untuk merekam keberhasilan komunitas pesisir dalam menjaga lingkungan laut. “Tujuan kami adalah menggali strategi konservasi yang telah dilakukan masyarakat bersama Burung Indonesia di berbagai wilayah,” kata Dian. Ia menekankan bahwa pendekatan film dokumenter dipilih agar cerita dan praktik yang ada di lapangan lebih mudah dipahami oleh publik secara luas. “Dengan format ini, kita bisa menyampaikan pesan konservasi secara lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat,” tambahnya.

Dian menjelaskan bahwa film ini menyoroti empat lokasi utama di kawasan Wallacea, yaitu Solor di Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Pangkajene dan Barrang Caddi di Sulawesi Selatan, Wabula di Sulawesi Tenggara, serta Ambelang dan wilayah pesisir Togean-Banggai di Sulawesi Tengah. Dalam pengambilan gambar, tim produksi memfokuskan pada narasi visual yang menggambarkan perjuangan dan kebijakan lokal yang diterapkan masyarakat untuk melindungi sumber daya alam mereka. “Film ini menjadi cerminan dari bagaimana komunitas bisa menjaga lingkungan sekaligus menjaga penghidupan mereka sendiri,” ujarnya.

Peran Masyarakat dalam Konservasi

Menurut Wahyu Teguh Prawira, perwakilan Burung Indonesia, pendekatan konservasi berbasis komunitas adalah elemen penting dalam menjaga ekosistem pesisir kawasan Wallacea. “Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna sumber daya, tetapi juga aktor utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” katanya. Wahyu menjelaskan bahwa kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun menjadi alat penting bagi komunitas untuk mengelola wilayah pesisir mereka secara efektif. “Praktik pengelolaan sumber daya yang telah berjalan di tingkat desa, seperti penegakan hukum adat atau pengaturan wilayah tangkap, menunjukkan bahwa kebijakan konservasi bisa berjalan tanpa harus mengandalkan kekuasaan pemerintah,” imbuhnya.

Menurut Wahyu, film ini tidak hanya menggambarkan keberhasilan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan ancaman yang mengintai ekosistem pesisir. “Penangkapan ikan yang berlebihan, serta penggunaan alat pancing yang merusak habitat laut, menjadi tantangan yang harus diatasi secara bersama,” katanya. Dengan menggambarkan kondisi nyata di lapangan, dokumenter ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk menyebarkan pengetahuan tentang pentingnya konservasi laut.

Kelanjutan dari Program Sebelumnya

Program Kemitraan Wallacea II adalah pengembangan dari fase pertama yang berfokus pada penguatan manajemen sumber daya alam dan konservasi berbasis masyarakat. Proyek ini mencakup sejumlah wilayah prioritas, termasuk daerah di Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku, yang merupakan bagian dari kawasan Wallacea yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Dengan pendekatan kolaboratif, Burung Indonesia dan mitra-mitranya berusaha membangun kebijakan yang berkelanjutan serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam perlindungan lingkungan.

Dian Sunardi menambahkan bahwa pemutaran film ini tidak hanya untuk mengenalkan praktik konservasi yang telah berjalan, tetapi juga untuk membangun kesadaran publik tentang pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. “Dengan menyebarkan informasi ini, kita bisa membuka peluang kerja sama lebih luas, baik dengan pemerintah maupun pihak swasta,” jelasnya. Film ini juga menjadi media untuk menarik perhatian investor dan organisasi internasional yang tertarik mendukung proyek konservasi lokal.

Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

Dalam proses produksi, tim ARISE! Communication menggali cerita dari masyarakat pesisir yang terlibat langsung dalam proyek ini. Dian menyampaikan bahwa pendekatan visual yang dipilih sangat efektif untuk menggambarkan kompleksitas hubungan antara manusia dan lingkungan. “Film ini menampilkan bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak bisa terlepas dari keikutsertaan masyarakat dalam setiap tahapan.

Menurut Dian, film ini juga menjadi wadah untuk menyampaikan berbagai inisiatif yang telah dilakukan oleh komunitas. Misalnya, ada upaya mengelola wilayah tangkap secara bersama, penggunaan teknik penangkapan ikan yang ramah lingkungan, serta pembentukan kelembagaan lokal untuk menegakkan hukum adat. “Ini adalah langkah awal, tetapi kita ingin memberikan ruang untuk masyarakat bisa berpartisipasi lebih aktif dalam proses konservasi,” kata Dian. Ia berharap film ini bisa menjadi pengingat bahwa kebijakan lingkungan yang efektif harus berakar pada kehidupan masyarakat.

Harapan untuk Kolaborasi yang Lebih Luas

Wahyu Teguh Prawira menambahkan bahwa film ini memiliki potensi untuk memperkuat kolaborasi antara berbagai pihak. “Dengan memperlihatkan berbagai praktik yang sudah berjalan, kita bisa menarik perhatian pihak lain untuk berpartisipasi,” katanya. Dalam upaya menjaga ekosistem pesisir, Burung Indonesia berharap film ini menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu bersifat top-down, tetapi bisa dilakukan secara kolektif oleh masyarakat.

“Kami yakin bahwa kearifan lokal masyarakat pesisir bisa menjadi dasar untuk menciptakan kebijakan yang lebih baik. Dengan film ini, kami ingin menggambarkan bahwa konservasi bisa dilakukan dengan cara yang berkelanjutan dan menarik,” ujar Wahyu. Pemutaran film ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi komunitas lain yang ingin menerapkan kebijakan serupa, serta memberikan ruang untuk berdiskusi tentang bagaimana konservasi dapat berjalan secara lebih inklusif.

Dengan durasi 45 menit, “Jejak Wallacea” dirancang agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda yang sering kali terlepas dari isu lingkungan. Dian Sunardi menilai film ini bisa menjadi alat edukasi yang menarik, terutama untuk membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan laut. “Kami juga berharap film ini bisa menjadi bentuk apresiasi terhadap masyarakat pesisir yang sudah berperan aktif dalam konservasi,” katanya.