Important Visit: Lima tokoh “Nandur Eling” tandai pembukaan Festival Lima Gunung 2026

Important Visit: Lima Tokoh Nandur Eling Buka Festival Lima Gunung 2026

Important Visit – Upacara sakral Nandur Eling menjadi momen bersejarah dalam pembukaan Festival Lima Gunung edisi ke-25 tahun 2026. Ritual kontemporer ini dihadiri oleh lima tokoh masyarakat yang bersama-sama melakukan penanaman bibit pohon sebagai simbol penghormatan. Important Visit ini berlangsung di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah pada hari Jumat yang lalu.

Lima sosok penting yang hadir dalam Important Visit ini adalah Darto, sesepuh warga berusia 76 tahun; Budiono sebagai Kepala Dusun Warangan; Solichin, Sekretaris Desa Muneng Warangan; Sujono, Ketua Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang; serta Sutanto Mendut, budayawan Magelang yang juga Presiden Komunitas Lima Gunung.

Simbol Penanaman Lima Bibit Pohon

Sebagai bagian dari Important Visit, kelima tokoh tersebut menanam lima jenis bibit pohon di tanah bengkok dusun. Pohon-pohon yang ditanam meliputi Krengsek, Kersen, Pule, Jambu, dan Durian. Ritual ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.

Festival tahunan yang diselenggarakan secara mandiri ini pertama kali diprakarsai oleh para seniman petani dari Komunitas Lima Gunung. Sutanto Mendut merintis pembentukan komunitas ini pada tahun 1997. Kabupaten Magelang dikelilingi oleh lima gunung megah, yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Bertepatan dengan peringatan seperempat abad, festival kali ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 10 hingga 12 Juli 2026. Dusun Warangan merupakan lokasi pertama yang dipilih untuk menyelenggarakan festival ini pada tahun 2002. Tahun ini, setidaknya 85 grup kesenian dengan total 1.274 personel dijadwalkan untuk menggelar berbagai pementasan.

Tema Festival dan Makna Nandur Eling

Festival tahun ini mengangkat tema Makin Goblok Bareng. Tema tersebut merupakan ajakan kepada seluruh masyarakat untuk bersikap tawaduk dalam mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik di alam semesta. Important Visit melalui prosesi Nandur Eling atau Menanam Ingatan dimulai dengan arak-arakan panitia lokal yang dipimpin oleh Sujono dari jalan dusun menuju area festival.

Kirab budaya ini melewati tempat pameran seni rupa yang dipimpin oleh seniman setempat bernama Gentur. Tabuhan alat musik tradisional berupa truntung dan bende mewarnai suasana arak-arakan. Di pintu masuk ruang pameran, sekitar 15 lukisan karya 15 pelukis Magelang dipajang bersama pameran foto serta dokumen Festival Lima Gunung di Warangan pada masa lalu.

Haris Kertorahardjo atau Lie Thian Hauw, seorang tokoh utama Komunitas Lima Gunung, melakukan pemotongan pita sebagai tanda resmi pembukaan pameran. Pameran juga menampilkan foto-foto Magelang masa lampau yang menjadi dokumentasi sejarah penting.

Pesan dari Para Tokoh Penting

Kepala Dusun Warangan, Budiono, menyampaikan bahwa penanaman pohon merupakan wujud syukur warga atas kehidupan bersama dengan sesama dan lingkungan alam. Ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta dan berharap Komunitas Lima Gunung terus berkembang dalam kebaikan-kebaikan berkesenian dan kebudayaan.

Kami bersyukur atas hidup bersama, atas alam dan Sang Pencipta. Mudah-mudahan KLG terus ngrembaka dalam kebaikan-kebaikan berkesenian dan kebudayaan.

Sujono, Ketua KLG, menjelaskan bahwa Nandur Eling mengingatkan warga komunitas untuk memperkuat kesadaran tentang jalan kebudayaan. Tujuannya adalah meninggalkan jejak-jejak nilai-nilai budaya desa, terus-menerus menjaga kearifan lokal, dan mewariskan jejak kebaikan kepada generasi masa depan.

Menanamkan ingatan untuk kelangsungan nilai-nilai budaya masyarakat desa dan gunung.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai budaya masyarakat desa mencakup gotong royong, kekeluargaan, sopan santun, kepedulian, serta menjaga hubungan harmonis dengan alam. Masyarakat juga dihimbau untuk menghormati leluhur dan meluhurkan nama Tuhan.

Perkembangan zaman yang ditandai kemajuan teknologi informasi harus diterima secara arif dan bijaksana oleh masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik dan berkemajuan. Namun, nilai-nilai luhur warisan pendahulu tetap harus dipegang teguh agar masyarakat desa zaman kini memiliki karakter luhur bangsa.

Segala sesuatu kebaikan telah ditanam, oleh karena itu harus dijaga dan dirawat dengan baik dan ikhlas.

Berbagai pementasan dalam Festival Lima Gunung XXV/2026 menampilkan kesenian tradisional, modern, kontemporer, dan kolaborasi serta performa seni. Ragam kesenian yang ditampilkan meliputi tarian, musik, pembacaan puisi, pameran seni, kirab budaya, pidato kebudayaan, sarasehan, dan pemberian penghargaan Lima Gunung Award.

Pementasan dilakukan oleh berbagai grup seniman petani Komunitas Lima Gunung yang telah menjadi ciri khas festival ini sejak awal penyelenggaraannya.