Trauma, BPBD: Korban Gempa Adonara NTT Masih Pilih Tidur di Luar Rumah
Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menjadi lokasi perhatian setelah gempa bumi terjadi pada Jumat (9/4) pukul 00.30 WITA. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyampaikan bahwa sejumlah warga yang terdampak hingga kini masih memilih untuk beristirahat di tenda. Mereka menghindari tidur di dalam rumah akibat kekhawatiran akan gempa susulan yang terus terjadi.
Wilayah Terkena Guncangan
Gempa dengan magnitudo 4,7 mengguncang dua desa, Terong dan Lamahala Jaya, mengakibatkan ratusan rumah rusak. Saat ini, total jumlah warga yang mengungsi mencapai 1.383 orang, tersebar di berbagai titik. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nebo Tukan, menjelaskan bahwa tenda tidak dikumpulkan di satu tempat, melainkan dibangun di lokasi dekat dengan tempat tinggal warga.
“Kita tidak mendirikan tenda di satu lokasi, tetapi tersebar di beberapa titik. Karena warga masih memiliki pekerjaan, tidak seperti situasi saat erupsi Lewotobi,” ujarnya.
Pengungsi Tetap Berhati-hati
Satu warga dari Desa Baniona, Kecamatan Wotan Ulumado, Josep, mengaku telah menginap di teras rumah selama empat malam berturut-turut. Meskipun desanya tidak terkena kerusakan, ia bersama sejumlah penduduk sekitar memilih tidur di luar untuk mengantisipasi guncangan lebih besar.
“Di desa kami tidak ada rumah yang rusak, tetapi saya dan warga lainnya tetap berjaga-jaga. Kita tidak ingin ada kejadian tak terduga kembali,” katanya.
BMKG sebelumnya mencatat gempa terjadi pada Kamis (9/4) pukul 00.30 WITA. Episenter berada di koordinat 8,36 derajat Lintang Selatan dan 123,15 derajat Bujur Timur, tepatnya di darat sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman 5 kilometer. Selain itu, logistik seperti beras telah didistribusikan kepada para pengungsi untuk memenuhi kebutuhan dasar.
