Key Discussion: ANTARA Biro Bali perkuat kapasitas lansia menangkal hoaks

ANTARA Biro Bali Tingkatkan Keterampilan Lansia Menghadapi Informasi Palsu

Key Discussion – Denpasar, Bali – Biro Kantor Berita ANTARA di Bali melaksanakan inisiatif baru untuk meningkatkan kemampuan lansia dalam mengenali dan mengantisipasi hoaks. Sebagai kelompok yang rentan terpapar disinformasi, lansia menjadi fokus utama dalam upaya ini. Kepala Biro ANTARA Bali, Ardi Irawan, menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan memberdayakan warga tua agar lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh berita viral yang belum terverifikasi. “Kami ingin lansia mampu berpikir kritis, memilah informasi secara tepat, serta mengurangi risiko terpapar hoaks yang bisa menyebarkan polarisasi di masyarakat,” katanya dalam diskusi di Denpasar, Sabtu (12/07).

Program Literasi yang Inklusif

Dalam rangkaian kegiatan, ANTARA Biro Bali menyasar lansia sebagai bagian dari strategi literasi yang lebih luas. Program ini tidak hanya menjangkau pelajar dan mahasiswa, tetapi juga masyarakat lanjut usia, yang dinilai perlu didorong untuk memperkaya pemahaman tentang media digital. Menurut Ardi, saat ini aliran informasi di ruang digital sangat cepat, sehingga literasi menjadi kunci untuk menjaga kualitas informasi dan mencegah penyebaran berita palsu. “Dengan memperkuat kapasitas lansia, kita bisa menciptakan dampak jangka panjang, terutama di kalangan yang sering terabaikan,” tambahnya.

“Kami ingin membangun cara berpikir kritis lansia agar mereka tidak mudah terpapar hoaks yang menyesatkan dan merugikan masyarakat,” ujar Ardi Irawan.

Program literasi ini diinisiasi oleh Dewa Ketut Sudiarta Wiguna, pewarta ANTARA Biro Bali yang baru saja mengikuti beasiswa Australia Awards 2026 di University of Queensland. Ia mengatakan bahwa pengetahuan tentang misinformasi, disinformasi, dan malinformasi harus disampaikan secara menyeluruh kepada lansia. “Materi yang diberikan mencakup pengenalan jenis-jenis informasi palsu serta langkah praktis untuk menghindari penyebaran berita hoaks,” jelasnya.

Pendekatan Interaktif dalam Edukasi

Kegiatan literasi berlangsung di Sekolah Lansia Wredha Harum Mahottama, Desa Tegal Harum, Monang Maning, Denpasar. Sebanyak 55 lansia hadir dalam acara ini, yang juga merupakan bagian dari program pembelajaran informal mereka. Sesinya dirancang agar peserta merasa nyaman dan terlibat aktif, dengan kombinasi diskusi, kuis, serta latihan fisik sederhana seperti peregangan. Selain itu, materi disampaikan melalui contoh visual, termasuk foto dan video, untuk memudahkan pemahaman. “Kami mencoba menyampaikan konsep ini secara menyenangkan agar tidak membosankan,” tambah Sudiarta.

“Literasi ini menambah daya tahan lansia dan mendorong kualitas hidup mereka lebih baik,” kata Sekretaris Desa Tegal Harum, Ida Ayu Putu Cahya Sugiantari.

Menurut Cahya, program literasi tersebut sangat relevan dalam mendukung lansia tetap sehat, aktif, dan produktif. “Kami berharap lansia tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga penyebar yang cerdas dan kritis,” imbuhnya. Ia menegaskan bahwa keterlibatan ANTARA Biro Bali dalam kegiatan ini memberikan dampak positif, terutama dalam memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menilai kebenaran informasi sebelum membagikannya.

Kelompok Usia 60-75 Tahun Jadi Fokus Utama

Sejumlah lansia yang hadir mengungkapkan antusiasme terhadap materi yang disampaikan. Widowati Sugandi, peserta berusia 70 tahun, mengatakan bahwa pelatihan ini membantunya menghadapi tantangan hoaks yang kini sering muncul. “Kegiatan ini membantu kami menanggapi hoaks yang menjadi momok. Kami bisa mengajarkan hal ini kepada anak cucu agar mereka tidak menelan informasi mentah-mentah,” ujarnya.

Sementara itu, lansia lain, Pramono, menyambut baik upaya ini karena menambah kemampuan mereka dalam menilai kebenaran berita. “Saya merasa lebih siap menghadapi informasi palsu di media sosial. Ini menambah pengetahuan kami dalam mengisi masa tua secara bermakna,” katanya. Para peserta juga aktif membagikan materi yang dipelajari kepada keluarga dan komunitas sekitar, menunjukkan respons positif terhadap program ini.

“Kegiatan ini membantu kami menanggapi hoaks yang kini menjadi momok. Kami bisa ketuk tular kepada anak cucu agar informasi tidak ditelan mentah-mentah,” ucap Widowati Sugandi.

Salah satu aspek penting dalam program ini adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkaya pemahaman peserta. Sudiarta menjelaskan bahwa contoh sederhana seperti penggunaan alat bantu AI dalam verifikasi informasi digunakan untuk membuat materi lebih relevan dengan kebutuhan lansia. “Teknologi ini bukan hanya untuk generasi muda, tetapi juga bisa dipakai oleh lansia untuk meningkatkan kemampuan mengakses dan memahami informasi secara lebih baik,” katanya.

Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan lembaga lokal, seperti Sekolah Lansia Wredha Harum Mahottama, untuk memastikan pendekatan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan warga tua. Diskusi diisi dengan pertanyaan terbuka dan respons peserta, menciptakan lingkungan belajar yang dinamis. Selain itu, keterlibatan aktif peserta dalam kegiatan tersebut membuktikan bahwa lansia mampu terlibat dalam proses pendidikan digital.

Menurut Ardi, keberhasilan program ini tergantung pada kesinambungan dan perluasan. “Kami ingin melibatkan lebih banyak lansia di masa depan, sekaligus mengembangkan materi yang lebih menyesuaikan dengan kebutuhan setiap individu,” katanya. Dengan memperkuat kemampuan kritis lansia, diharapkan masyarakat dapat lebih tahan terhadap disinformasi dan menjaga harmoni dalam ruang digital.

“Ini menambah pengetahuan kami dalam mengisi masa tua,” ucap Pramono, lansia berusia 74 tahun.

Adapun upaya ini juga diharapkan menjadi contoh bagus dalam menyediakan layanan informasi yang inklusif. Ardi menekankan bahwa lansia bukan hanya penerima informasi, tetapi juga bagian dari sistem komunikasi yang lebih efektif. “Dengan pendekatan seperti ini, lansia bisa menjadi agen perubahan yang mendorong masyarakat sekitarnya untuk lebih waspada terhadap hoaks,” pungkasnya.

Sebagai langkah awal, kegiatan literasi ini menjadi pembukaan untuk program lebih besar. Ardi menyebutkan bahwa target ke depan adalah menyebarkan pengetahuan tentang media digital ke lebih banyak lansia, serta mengintegrasikan teknologi dalam pemahaman mereka. “Kami ingin memastikan setiap lansia memiliki alat untuk mengenali informasi palsu, baik melalui teknologi maupun metode tradisional,” katanya.

Kehadiran lansia di bawah usia 75 tahun juga menjadi nilai tambah. Mereka terbukti aktif dalam diskusi dan menunjukkan minat untuk belajar lebih lanjut. Sudiarta menambahkan bahwa peran lansia dalam memperkuat literasi media sangat strategis, terutama dalam membangun kepercayaan pada sumber informasi yang akurat. “Dengan keterlibatan lansia, kita bisa menciptakan generasi yang lebih cermat dalam mengolah informasi,” jelasnya.

Dalam beberapa minggu terakhir, kegiatan serupa telah diadakan di beberapa desa di Bali, dengan respon positif dari masyarakat. Pemuda dan pemudi yang berpartisipasi dalam diskusi sering kali menjadi pengawas dan pembantu dalam menyebarluaskan pengetahuan ini ke lingkungan sekitar