Key Strategy: BPOM dan Kemendukbangga gelar aksi nasional cegah penyalahgunaan OOT
BPOM dan Kemendukbangga Gelar Aksi Nasional Cegah Penyalahgunaan OOT
Key Strategy – Tanjungpinang menjadi pusat kegiatan nasional yang digelar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) untuk menangkal penggunaan obat-obatan tertentu (OOT). Kegiatan ini bertujuan mengurangi dampak negatif dari OOT yang kini semakin merambah ke berbagai kalangan, terutama remaja dan pemuda. Kepala BPOM RI, Profesor Taruna Ikrar, mengatakan bahwa alasan aksi ini dilakukan berdasarkan data intelijen dan penindakan yang terus mengalir, menunjukkan adanya peningkatan penggunaan OOT secara nasional.
OOT: Jenis Obat yang Berpotensi Memicu Ketergantungan
Menurut Ikrar, OOT memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan narkotika. Meski hukumannya lebih ringan, efek yang dihasilkan oleh OOT bisa sama kuat dengan narkoba, bahkan mengarah pada ketergantungan yang berkelanjutan. “Obat-obat ini tidak sepenuhnya tergolong narkotika, namun mereka bisa memicu efek psikotropik yang sama, itulah yang disebut obat-obat tertentu,” jelas Ikrar seusai membuka acara di Aula Wan Seri Beni, Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Senin malam.
“Bayangkan, jika kapsul ini diterima oleh anak dan cucu kita, masa depan bangsa akan terancam. Apalagi berdasarkan data WHO, sekitar 14 persen remaja usia 14-19 tahun terbukti menggunakan OOT,”
Ikrar menambahkan, OOT juga berdampak signifikan di tempat hiburan, tempat yang sering menjadi lokasi pertama bagi penggunaan obat ini. BPOM, sebagai lembaga pengawas, telah mengidentifikasi 12 jenis OOT yang perlu dipantau secara intens. Di antaranya, Tramadol, Triheksilfenidil, Amitriptillin, serta gas ketawa atau Nitrux Oxide yang baru masuk ke peredaran.
BPOM: Tindakan Nyata Tahun 2025
Dalam lima tahun terakhir, BPOM mencatat jumlah penggunaan OOT yang semakin mengkhawatirkan. Pada 2025 saja, tim BPOM berhasil menindak sekitar enam miliar kapsul ilegal yang didapati beredar di beberapa kota besar seperti Batam, Banten, Bandung, hingga Semarang. Angka ini menjadi indikator bahwa OOT tidak hanya menjadi masalah lokal, tetapi juga mencapai skala nasional.
“Kita perlu menangkal kebiasaan penggunaan OOT yang telah meresahkan banyak generasi muda. Ini bukan lagi isu kecil, melainkan tantangan besar yang mengancam keberlanjutan bangsa,”
Gerakan ini menjadi langkah strategis untuk menghentikan ekspansi OOT ke berbagai kalangan, terutama di lingkungan pendidikan. Dalam sesi pembukaan, Ikrar menegaskan bahwa aksi nasional ini tidak hanya bertujuan membatasi distribusi OOT, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahayanya.
Peran Kemendukbangga dalam Pencegahan OOT
Sebagai mitra utama BPOM, Kemendukbangga menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keberlanjutan aksi pencegahan ini. Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menyambut baik upaya kolaborasi antarinstansi dan pemerintah daerah di Kepri. “Kita perlu konsistensi dalam pencegahan, khususnya dari unit terkecil yaitu keluarga,” kata Isyana, yang turut hadir dalam acara tersebut.
“Biasanya remaja membutuhkan ruang untuk berbagi cerita dengan sesama usia mereka. Program-program seperti forum duta genre dan pusat konseling remaja bisa menjadi sarana penting dalam mengubah perilaku ini,”
Isyana juga mengungkapkan bahwa Kemendukbangga telah memiliki beberapa program yang siap berkolaborasi untuk mengendalikan penggunaan OOT. Diantaranya, program bina remaja yang fokus pada pendidikan karakter, serta layanan informasi dan konseling yang memberikan wawasan tentang dampak jangka panjang penggunaan OOT. “Kita juga melibatkan remaja sebagai duta genre dalam menggalang dukungan masyarakat luas,” tambahnya.
Gubernur Kepri: Kesbangpol Masuk Sekolah sebagai Langkah Strategis
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menegaskan bahwa aksi nasional ini menjadi tanggung jawab bersama. “Media massa juga harus berperan aktif dalam menyebarkan pesan strategis tentang OOT, karena ini berkaitan erat dengan masa depan bangsa,” ujar Ansar.
“Pemprov Kepri memiliki program rutin Kesbangpol Masuk Sekolah (Kemas) yang kita harapkan bisa menjadi wadah edukasi bagi siswa. Dengan bantuan BPOM Batam dan pihak lainnya, kita akan menyampaikan pesan kritis mengenai OOT melalui metode yang menyenangkan dan mudah dipahami,”
Ansar menambahkan bahwa pemerintah daerah di Kepri akan terus mendorong partisipasi seluruh pemangku kepentingan, seperti institusi pendidikan, komunitas lokal, dan media. Kepri sendiri dipilih sebagai lokasi utama karena menjadi daerah yang rawan dalam peredaran OOT, terutama melalui jalur laut yang menjadi akses utama.
Perspektif Nasional: Aksi yang Menjangkau Seluruh Wilayah
Aksi nasional ini tidak hanya fokus pada Kepri, tetapi juga menjadi contoh kecil bagaimana pemerintah bisa bergerak bersama untuk melindungi generasi muda. BPOM dan Kemendukbangga berharap, melalui gerakan ini, akan tercipta kesadaran kolektif masyarakat bahwa OOT bukan hanya ancaman kecil, melainkan bahaya yang bisa mengubah pola hidup seorang individu.
Dalam kaitan dengan keberhasilan aksi tersebut, data dari BPOM menjadi dasar utama. Menurut Ikrar, sejumlah besar kapsul ile
