Latest Program: BNPB ingatkan seluruh Kalaksa BPBD terjun langsung ke lokasi bencana

BNPB Himbau Kalaksa BPBD untuk Berada di Lokasi Bencana Langsung

Latest Program – Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memberikan arahan kepada seluruh Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Indonesia. Pemimpin BNPB, Suharyanto, menekankan bahwa para kepala pelaksana harus selalu siap untuk menghadapi situasi darurat dan segera turun ke lokasi bencana. Menurutnya, kesiapan ini menjadi kunci dalam memberikan dukungan yang optimal kepada masyarakat dan pemerintah daerah. “Meskipun dalam posisi jabatan, ketika bencana terjadi, para Kalaksa harus segera berada di tengah-tengah korban untuk memastikan tindakan penanggulangan berjalan efektif,” jelas Suharyanto dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.

Pola Penanganan Bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Dalam kesempatan pembukaan Senior Disaster Management Training (SDMT) gelombang ketiga, Suharyanto memberikan contoh praktis tentang cara penanganan bencana yang dilakukan tim BNPB di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Ia menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan pendekatan yang berfokus pada koordinasi lintas sektor, pengambilan keputusan cepat, dan penggunaan sumber daya secara optimal. “Kita harus menjadi contoh yang baik dalam menangani bencana hidrometeorologi, karena ini menunjukkan bagaimana pengambilan keputusan yang tepat dapat mengurangi dampak buruk dan mempercepat pemulihan,” tambahnya.

SDMT 2026 yang berlangsung di Pusdiklat Penanggulangan Bencana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diikuti oleh 68 Kalaksa BPBD dari berbagai provinsi, kabupaten, dan kota. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan responsif para pemimpin BPBD saat menghadapi bencana. Suharyanto menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya memperkuat pengetahuan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir yang kolaboratif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Peran Kalaksa BPBD sebagai Garda Depan

Dalam keterangan lebih lanjut, Suharyanto mengingatkan bahwa keberadaan Kalaksa BPBD di tengah bencana sangat krusial. Ia menyatakan, kepemimpinan di bidang penanggulangan bencana harus bersifat proaktif dan mampu mengambil inisiatif tanpa menunggu instruksi lebih lanjut. “Kalaksa BPBD harus menjadi garda depan dalam memberikan bantuan langsung kepada warga terdampak, karena tindakan cepat akan menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerugian,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengalaman langsung dari bencana sebelumnya. “Dari studi kasus yang diangkat dalam pelatihan ini, kita bisa belajar bagaimana menangani tantangan yang serupa di masa depan,” tambah Suharyanto. Menurutnya, melalui SDMT ini, para Kalaksa BPBD tidak hanya diberikan teori, tetapi juga kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi strategi dengan rekan sejawat. “Kita adalah teman sepertujuangan dalam menghadapi krisis, jadi saling berbagi pengalaman adalah langkah penting untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana nasional,” tutur mantan Kepala BNPB tersebut.

Program SDMT 2026 sebagai Gelombang Ketiga

SDMT Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2026 ini merupakan gelombang ketiga setelah diadakan pada 2024. Pemilihan tema pelatihan SDMT mengacu pada kebutuhan peningkatan kapasitas pemimpin BPBD dalam mengelola situasi darurat. “Setiap gelombang pelatihan ini dirancang untuk memberikan perspektif yang lebih luas dan menyesuaikan dengan tantangan bencana terkini,” kata Suharyanto. Ia menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan kekeringan tetap menjadi fokus utama, mengingat frekuensi dan dampaknya yang signifikan di berbagai wilayah Indonesia.

Pelatihan yang berlangsung selama 12 hari ini melibatkan studi kasus dari berbagai kejadian bencana sebelumnya. Materi yang disampaikan mencakup kepemimpinan selama krisis, manajemen informasi kebencanaan, logistik bantuan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Selain itu, peserta juga diberikan latihan simulasi posko darurat untuk mengasah kemampuan mengambil keputusan dan berkoordinasi dalam kondisi mendesak. “Kita ingin memastikan para Kalaksa BPBD tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata,” papar Suharyanto.

Manfaat Pelatihan bagi Kalaksa BPBD Bengkayang

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bengkayang, Dwi Berta Meiliana, menyatakan bahwa pelatihan SDMT memberikan manfaat besar bagi peningkatan kualitas penanggulangan bencana di daerahnya. Ia menekankan bahwa para pemimpin BPBD harus memahami prosedur penanganan bencana secara mendalam, sehingga bisa memberikan layanan yang lebih baik kepada warga. “Dengan mengetahui tata cara yang tepat, kita bisa memastikan bantuan tiba tepat waktu dan mengarah pada solusi yang efektif,” ujarnya.

Dwi berharap pelatihan ini membantu mereka menyusun perencanaan penangganan bencana yang lebih terstruktur. “Kita ingin masyarakat mendapatkan manfaat maksimal dari upaya penanggulangan bencana, karena Kalaksa BPBD harus menjadi pihak yang paling dekat dengan kebutuhan warga,” tambahnya. Ia menilai bahwa keterlibatan langsung kepala pelaksana dalam proses tanggap darurat akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem penanggulangan bencana di daerah masing-masing.

Strategi Pemulihan Pasca-Bencana

SDMT 2026 tidak hanya fokus pada pencegahan dan respons darurat, tetapi juga melibatkan pembelajaran tentang tahap pemulihan. Menurut Suharyanto, rehabilitasi dan rekonstruksi adalah bagian yang tidak kalah penting. “Kita harus memastikan bahwa setelah bencana selesai, warga tidak hanya menerima bantuan awal, tetapi juga memiliki akses ke sumber daya yang stabil untuk memulihkan kehidupan normal,” jelasnya. Ia menambahkan, pelatihan ini dirancang untuk memberikan panduan tentang bagaimana menyusun rencana pemulihan yang berkelanjutan dan inklusif.

Dalam menjalani pelatihan, para peserta diharapkan bisa memperoleh pengalaman langsung melalui simulasi dan diskusi. “Dengan melalui berbagai studi kasus, Kalaksa BPBD bisa memahami dinamika kejadian bencana secara holistik, dari tahap persiapan hingga evaluasi,” tutur Suharyanto. Ia juga menekankan bahwa peran Kalaksa BPBD tidak hanya sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai mediator antara pemerintah daerah dan warga yang terdampak.

Persiapan untuk Tantangan Masa Depan

BNPB terus berupaya meningkatkan kesiapan daerah dalam menghadapi bencana. Dengan SDMT gelombang ketiga, pihaknya menargetkan perbaikan sistem komunikasi, koordinasi, dan kecepatan respons. “Kita harus selalu siap menghadapi kemungkinan bencana yang tidak terduga, baik secara geografis maupun jenisnya,” kata Suharyanto. Ia menambahkan, peningkatan kapasitas pemimpin BPBD akan menjadi fondasi kuat untuk menjamin kemanfaatan bantuan dalam berbagai skenario.

Para peserta SDMT 2026 juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan tim BNPB pusat. “Melalui dialog langsung dengan para ahli, Kalaksa BPBD bisa memperoleh wawasan tentang kebijakan nasional dan praktik terbaik dalam penanggulangan bencana,” ujarnya. Suharyanto menegaskan bahwa SDMT ini adalah bagian dari upaya BNPB untuk membangun kekuatan kolektif dalam menghadapi bencana. “Kita semua adalah bagian dari satu sistem, jadi kolaborasi