Latest Program: BPOM: PMR kuatkan daya saing pangan olahan nasional
BPOM: PMR Kuatkan Daya Saing Pangan Olahan Nasional
Latest Program – Jakarta, Antaranews — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa Program Manajemen Risiko (PMR) Keamanan Pangan berperan penting dalam memperkuat kompetitivitas industri pangan olahan dalam negeri. Menurut Kepala BPOM, Taruna Ikrar, keamanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga merupakan investasi yang menjaga kepentingan konsumen serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “PMR menjadi cara efektif untuk membangun budaya keamanan pangan yang tangguh di sektor industri olahan pangan Indonesia,” ujarnya.
Pengembangan PMR Selama 10 Tahun
Sejak diperkenalkan sepuluh tahun lalu, PMR telah menunjukkan perkembangan signifikan. Awalnya, program ini hanya diterapkan pada industri pangan yang berkaitan dengan gizi khusus untuk bayi dan anak, namun kini cakupannya meluas hingga mencakup produk pangan olahan berisiko tinggi, termasuk makanan steril komersial. Taruna Ikrar menjelaskan bahwa PMR membantu industri dalam mengendalikan titik kritis produksi serta menerapkan sistem manajemen mutu secara konsisten. “Dengan pendekatan ini, pelaku usaha diharapkan dapat bertindak sebagai pihak utama yang menjamin kualitas produk,” katanya.
“Keamanan pangan bukan hanya urusan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi merupakan investasi untuk melindungi konsumen sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. PMR menjadi instrumen penting untuk membangun budaya keamanan pangan yang kuat di industri pangan olahan Indonesia,” ujar Taruna Ikrar.
Prospek Produk Pangan Steril Komersial
Menurut Taruna, industri pangan steril komersial menjadi salah satu fokus utama pengembangan PMR, karena prospeknya terus meningkat. Produk-produk ini dikenal memiliki masa simpan panjang, distribusi efisien, serta mempertahankan mutu dan keamanan tanpa penggunaan bahan pengawet. “Karena karakteristik tersebut, pemanfaatan pangan steril semakin luas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti makanan siap santap untuk perjalanan, kebutuhan rumah tangga, cadangan pangan keluarga, hingga penyediaan makanan dalam situasi darurat bencana,” jelasnya.
“Produk seperti rendang steril kemasan, gudeg siap santap, sup ayam steril, lauk siap saji, hingga pangan bergizi khusus kini menunjukkan peluang pasar yang semakin besar,” ujar Taruna.
Kapasitas SDM sebagai Kunci Keberlanjutan
Ketua Pengurus Harian Forum Proses Termal Pangan Indonesia (FPTPI), Feri Kusnandar, menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia menjadi fondasi utama keberlanjutan industri. “Kami sedang menghimpun berbagai pihak terkait yang fokus pada pembinaan SDM, terutama dalam PMR yang membutuhkan kompetensi khusus untuk pengembangan pangan steril komersial,” tuturnya. Feri menjelaskan bahwa upaya membangun kapasitas SDM bertujuan menciptakan ekosistem yang kondusif, sehingga mendorong kerja sama lintas sektor.
Manfaat PMR bagi UMKM
BPOM juga berupaya memfasilitasi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) melalui berbagai skema. Mulai dari penerapan Izin Penerapan Program Manajemen Risiko (IP PMR) hingga penyusunan pedoman teknis, program ini membantu UMKM dalam memenuhi standar keamanan pangan secara bertahap. “Kebijakan ini memungkinkan UMKM yang sebelumnya hanya mampu menjangkau pasar lokal kini dapat menembus pasar modern maupun ekspor,” kata Taruna.
“Teknologi sterilisasi termal dan kemasan kedap udara memberikan peluang baru bagi pangan khas nusantara serta produk UMKM untuk meningkatkan nilai tambah,” ujar Taruna.
Pendekatan Berbasis Risiko di Sektor Perikanan
Senada dengan Taruna, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ishartini, menyatakan bahwa pendekatan berbasis risiko yang diterapkan BPOM sangat relevan bagi sektor perikanan. “PMR sangat berguna untuk kami di sektor perikanan, terutama dalam menangani ikan segar maupun ikan olahan,” ujarnya. Ishartini menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mengaplikasikan PMR pada seluruh produk perikanan.
“Program Manajemen Risiko sangat baik untuk kami di sektor perikanan, khususnya ikan segar maupun ikan olahan. Kami berkomitmen agar pendekatan ini dapat diterapkan pada produk-produk perikanan,” kata Ishartini.
Peran PMR dalam Membangun Ketahanan Pangan
Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menilai bahwa keamanan pangan merupakan fondasi penting dalam menciptakan ketahanan pangan nasional. “Perluasan penerapan PMR akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk pangan dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing industri,” katanya. Adhi menegaskan bahwa PMR telah terbukti menjadi bagian vital dalam produksi pangan olahan selama 10 tahun terakhir.
“Kami berkomitmen mendorong pelaku usaha mengolah pangan secara aman melalui PMR yang telah terbukti menjadi elemen kunci dalam keberlanjutan produksi,” ujar Adhi S. Lukman.
Kesiapan Industri dan Tantangan
Taruna Ikrar menekankan bahwa peluang yang ditawarkan PMR harus diiringi dengan kesiapan industri dalam menjaga kualitas produk. “PMR mendorong kemandirian industri pangan olahan dalam menjamin keamanan produk, berbeda dengan pendekatan pengawasan konvensional yang lebih fokus pada inspeksi pasca-produksi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa peningkatan daya saing tidak bisa tercapai tanpa peningkatan kapasitas SDM dan teknologi.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Program Manajemen Risiko Keamanan Pangan diharapkan dapat terus dikembangkan untuk memenuhi tantangan pasar yang semakin dinamis. BPOM berkomitmen untuk memperluas cakupan PMR serta memberikan dukungan kepada industri pangan olahan nasional agar dapat bersaing secara global. “Dengan pendekatan yang lebih proaktif, kita bisa memastikan produk pangan dalam negeri tetap kompetitif dan aman untuk dikonsumsi,” pungkas Taruna. Kesuksesan PMR, menurutnya, bergantung pada kerja sama yang solid antar stakeholders, serta komitmen untuk terus meningkatkan standar mutu.
Dengan adanya PMR, industri pangan olahan nasional tidak hanya memperkuat daya saingnya, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan strategis masyarakat, seperti dalam kondisi darurat atau sebagai bagian dari kebutuhan jemaah haji. Penerapan program ini menjadi bukti bahwa keamanan pangan adalah investasi yang memperkuat ekonomi sekaligus melindungi konsumen. Dukungan dari berbagai pihak, baik dari BPOM maupun sektor perikanan, menunjukkan bahwa PMR adalah langkah penting dalam transformasi industri pangan Indonesia.
