Latest Program: Sekolah yang tidak menerima pendaftaran
Sekolah yang tidak menerima pendaftaran
Latest Program – Di tengah tantangan pendidikan yang dihadapi oleh masyarakat berpenghasilan rendah, sebuah inisiatif unik muncul di Tabanan, Bali. Program Sekolah Rakyat, yang berbeda dari pendekatan tradisional, memberikan solusi bagi anak-anak yang sebelumnya terabaikan. Berbeda dengan sekolah umum yang meminta orang tua mendaftarkan anak mereka secara aktif, Sekolah Rakyat justru menemui keluarga yang membutuhkan. Mekanisme ini mengubah paradigma pengambilan peserta didik, memastikan pendidikan mencapai anak-anak yang terlunta-lunta dari kekurangan ekonomi.
Kisah Rizky, seorang bocah yang sejak lulus SD tidak pernah mengikuti pendaftaran ke sekolah manapun, menjadi contoh nyata dari keberhasilan program ini. Bukan karena keengganan, tapi karena kondisi ekonomi ibunya, Ni Putu Yuniawati, yang bekerja sebagai buruh tani, tidak mampu menutupi biaya pendidikan. Dari enam anaknya, lima keluarga telah berhenti di jenjang SMP. Bagi mereka, pendidikan bukanlah impian yang bisa dipenuhi, melainkan kebutuhan yang sulit diakses. Tapi Sekolah Rakyat membawa harapan baru.
Program ini bekerja berdasarkan data yang dihimpun dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dikelola Badan Pusat Statistik. Dinas Sosial dan tim pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) melakukan verifikasi langsung ke lapangan, mengunjungi keluarga, dan memastikan anak-anak yang layak masuk ke dalam sistem pendidikan. Seorang pendamping dari PKH, yang mengetuk pintu rumah Rizky, menjadi penentu utama. Dia menanyakan dengan tegas: “Apakah Rizky bersedia kembali bersekolah?” Langkah ini tidak hanya mengganti metode penerimaan siswa, tapi juga memberikan kepastian bahwa anak-anak dari keluarga paling miskin akan ditemani hingga menyelesaikan pendidikan.
Ground Check dan Seleksi yang Berbeda
Kepala Sekolah SRMP 17 Tabanan, I Putu Jaya Negara, menjelaskan bahwa proses seleksi Sekolah Rakyat disebut “ground check.” “Kita lakukan pengecekan langsung apakah kondisi keluarga sudah memenuhi syarat atau belum,” ujarnya. “Jika ya, maka anak tersebut langsung diterima. Kalau tidak, kita lihat lagi.” Metode ini memastikan bahwa setiap siswa yang masuk benar-benar memerlukan bantuan, bukan hanya sekadar memiliki minat belajar. Dengan pendekatan ini, sekolah tak hanya memberikan akses pendidikan, tapi juga menghindari risiko anak-anak terlantar di tengah proses seleksi.
Keluarga peserta program ini umumnya terdiri dari petani dan buruh harian. Untuk I Nyoman Sukonado, seorang buruh tani yang anaknya terdaftar dalam Sekolah Rakyat, tawaran itu seperti mimpi yang terwujud. “Saya tidak pernah bayangkan anak saya bisa sekolah gratis, berasrama, dan makan tiga kali sehari,” katanya. Program ini menyediakan seragam, perlengkapan belajar, dan kebutuhan sehari-hari tanpa ada pungutan. Dengan sistem ini, orang tua tidak lagi terbebani biaya, sementara anak-anak bisa fokus pada belajar.
Model Pendidikan yang Berbeda
Sekolah Rakyat bukan hanya sekadar tempat belajar, tetapi juga membangun lingkungan yang mendukung perkembangan karakter. Kurikulum di sini mengikuti standar nasional, tetapi lebih menekankan pada disiplin dan pembentukan nilai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa tiga hal utama harus dihindari di lingkungan Sekolah Rakyat: perundungan, kekerasan fisik dan seksual, serta intoleransi. “Jika ada pelanggaran, maka siswa atau guru yang terlibat akan dikeluarkan secara langsung,” tambahnya. Hal ini memastikan bahwa sekolah tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memupuk rasa aman dan percaya diri pada para siswa.
Contoh nyata dari perubahan ini adalah kisah Gede Bagus Abimanyu, seorang siswa SRMP 17 yang dulu sering menjadi korban bullying sejak SD. Dulu, ia pendiam dan tidak suka bergaul, hampir putus sekolah karena rasa putus asa. Namun, setelah bergabung dengan Sekolah Rakyat, kepribadiannya berubah. “Saya ingin mencegah perundungan di sekolah saya sendiri,” kata Abimanyu. “Saya harap dengan ikut program ini, teman-teman saya tidak mengalami hal yang saya alami dulu.” Perubahan ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat bukan hanya mengubah nasib, tetapi juga membentuk individu yang lebih tangguh.
Di sisi lain, Rizky, yang dulu hanya berharap tamat SMP, kini punya impian menjadi insinyur pertanian. Pendidikan yang diberikan melalui Sekolah Rakyat memotivasi anak-anak untuk mengejar ambisi lebih besar. “Dulu, saya tidak percaya bisa sampai SMA,” katanya. “Tapi sekarang, saya melihat jalan yang terbuka.” Ini menunjukkan bahwa program tersebut memberikan kesempatan yang sebelumnya tidak terduga bagi keluarga miskin.
Program Sekolah Rakyat dirancang dengan konsep yang berbeda. Alih-alih menunggu orang tua datang ke sekolah, pemerintah menemui mereka. Proses ini memastikan bahwa anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2—yang berada di posisi paling bawah dalam skala kesejahteraan nasional—diberikan akses pendidikan secara langsung. Sistem ini mempercepat proses penerimaan siswa, mengurangi hambatan ekonomi, dan meningkatkan peluang pendidikan di masa depan.
Kebijakan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk mendekatkan pendidikan ke masyarakat yang paling rentan. Dengan menggabungkan bantuan langsung dari PKH dan verifikasi lapangan, Sekolah Rakyat menjadi solusi praktis bagi anak-anak yang terlantar. Keberhasilan program ini tidak hanya terlihat dari jumlah siswa yang mendaftar, tetapi juga dari perubahan sikap orang tua dan potensi yang terbuka bagi para siswa. Dalam waktu singkat, program ini telah mengubah hidup banyak keluarga, memberikan mereka alasan untuk berharap.
