Menjaga Masa Depan Sasi: Penjaga Bentang Laut Kepala Burung
Pukul 09.00 WITA di Jakarta mengiringi suara musik yang riuh bergabung dengan tawa menggema di sebuah jalanan kecil di Desa Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Kegiatan rutin para ibu di sana, yang dimulai setelah sarapan bersama, mencakup peregangan tubuh, gerakan tangan, serta aktivitas kaki, sebelum mereka mengejar berbagai tugas untuk mewujudkan tujuan utama: menjaga keberlanjutan praktik sasi.
Kelompok sasi laut yang terlibat berasal dari tiga desa di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya, yaitu Waifuna dari Kampung Kapatcol, Joom Jak dari Kampung Aduwei, dan Zakan Day dari Kampung Salafen. Mereka berkumpul untuk mengamankan keberlanjutan sasi, aturan adat yang membatasi penggunaan sumber daya alam, baik daratan maupun perairan, selama periode tertentu guna melindungi ekosistem lokal.
Aturan Adat yang Menjaga Keseimbangan Ekosistem
Sasi berfungsi sebagai kebijakan tradisional yang mengatur pengambilan sumber daya alam. Dalam masa sasi, masyarakat dilarang menggali sumber daya sebelum batas waktu yang ditentukan. Setelah periode itu berakhir, mereka diperbolehkan menangkap bahan alam dengan alat sederhana, tanpa merusak lingkungan.
Ya, mereka semua adalah bagian dari kelompok sasi laut dari tiga desa, yakni Kelompok Waifuna dari Kampung Kapatcol, Kelompok Joom Jak dari Kampung Aduwei, dan Kelompok Zakan Day dari Kampung Salafen, yang keseluruhannya berasal dari Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya.
Bagi para ibu, sasi seperti ibu kandung mereka, menjaga bentang laut kepala burung—sebuah julukan untuk Kabupaten Raja Ampat—agar tetap sehat dan lestari. Mereka percaya, memastikan keberlanjutan sasi berarti menjamin masa depan anak cucu sebagai komunitas pesisir yang harmonis.
Perjalanan ke Bali untuk Berkolaborasi
Dalam lima hari bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), para ibu melibatkan generasi berbeda untuk menyatukan harapan tentang kelangsungan sasi. Mereka melakukan perjalanan jauh ke Pulau Dewata demi bertukar pengalaman dan wawasan dengan kelompok serupa, menghadapi tantangan krisis global yang mengancam lingkungan mereka.
