New Policy: Menteri Arifah dorong perempuan jadi agen perubahan di dunia digital

Menteri Arifah Dorong Perempuan Sebagai Agen Perubahan di Era Digital

New Policy – Di Jakarta, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menekankan pentingnya perempuan memainkan peran aktif dalam mengubah paradigma dunia digital. Menurutnya, semangat perjuangan para pionir perempuan, seperti RA Kartini, tetap relevan dalam menghadapi tantangan baru yang dihadirkan teknologi modern. “Perempuan harus tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga sebagai pencipta dan penggerak perubahan di ruang digital,” imbuh Arifah dalam keterangan resmi, Kamis. Ia menyoroti bahwa keberadaan teknologi yang berkembang pesat memerlukan peran perempuan yang lebih kuat dalam membentuk lingkungan digital yang sehat, aman, serta inklusif.

RA Kartini sebagai Inspirasi di Tengah Perubahan

Arifah menyebut RA Kartini sebagai sosok yang berani mengungkapkan pikiran, mengajukan kritik, dan berjuang untuk kemanusiaan di tengah keterbatasan akses pendidikan. Meski era saat ini berbeda dari zaman RA Kartini, tantangan yang dihadapi perempuan masih terus berkembang. “Teknologi sekarang tak terbatas oleh waktu dan ruang, jadi kita harus bersama-sama memastikan perempuan bukan hanya mengikuti, tetapi juga memimpin perubahan,” jelasnya. Tantangan ini meliputi berbagai bentuk kekerasan baru, seperti Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), pelecehan di media sosial, penyebaran konten intim tanpa persetujuan, hingga eksploitasi digital terhadap perempuan dan anak.

“RA Kartini telah menyalakan cahaya seabad yang lalu. Tugas kita sekarang adalah memastikan cahaya itu tetap hidup dan menyala di ruang digital. Mari kita bersama-sama menjadikan teknologi sebagai alat untuk membawa perubahan positif bagi kemajuan perempuan Indonesia,” kata Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi.

Menurutnya, teknologi bukan hanya sarana hiburan atau komunikasi, tetapi juga alat yang bisa digunakan untuk memperkuat identitas diri, membangun komunitas, hingga meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari. “Kita perlu memastikan teknologi dipakai sebagai penyelesaian masalah, bukan penyebab baru kekerasan,” tambahnya. Ia menekankan bahwa perempuan harus memanfaatkan peluang dalam dunia digital dengan cara yang progresif dan bertanggung jawab.

Majelis Nyala Purnama: Diskusi tentang Ruang Digital

Dalam kegiatan Majelis Nyala Purnama bertema “Menghidupkan Kartini di Era Digital” yang diadakan di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Arifah Fauzi memberikan pandangan tentang pentingnya inklusi perempuan dalam perubahan digital. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk akademisi, pengusaha, dan aktivis perempuan. “Kita perlu mengembangkan ruang digital yang tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga memastikan keadilan dan perlindungan bagi semua pengguna, terutama perempuan dan anak,” ujarnya. Ia berharap diskusi ini menjadi titik awal untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih manusiawi.

Arifah juga menyebut bahwa perempuan tidak hanya bisa menjadi korban teknologi, tetapi juga pelaku perubahan. “Dunia digital adalah ruang baru yang perlu diisi oleh perempuan dengan inisiatif, kreativitas, dan keberanian,” katanya. Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi menawarkan banyak peluang, tetapi di balik itu terdapat risiko kekerasan yang bisa memengaruhi kehidupan perempuan. “Kita harus mengantisipasi berbagai bentuk kejahatan digital, seperti cyberbullying dan penyebaran konten intim, agar perempuan tidak terabaikan dalam perjalanan transformasi ini,” tegasnya.

Program dan Kebijakan untuk Membangun Ruang Digital yang Aman

Kementerian PPPA, menurut Arifah, terus berupaya menciptakan kebijakan yang mendukung ruang digital yang aman dan inklusif. “Setiap program dan kebijakan kita dirancang untuk melibatkan seluruh pihak, termasuk keluarga, institusi pendidikan, komunitas, dan penyelenggara platform digital,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa peran keluarga sangat penting dalam membentuk kebiasaan digital anak-anak. “Keluarga harus menjadi garda terdepan dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi,” tambahnya.

Di sisi lain, institusi pendidikan dianggap sebagai penyangga dalam memastikan generasi muda memahami dampak teknologi secara bijak. “Sekolah dan kampus harus menyediakan pelajaran tentang keamanan digital, serta mengajarkan cara menggunakan teknologi untuk menyejahterakan diri dan masyarakat,” kata Arifah. Ia juga menyoroti peran komunitas dalam memberikan edukasi dan bantuan bagi perempuan yang masih terlambat mengikuti perkembangan digital. “Komunitas bisa menjadi wadah untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang teknologi,” imbuhnya.

“Perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan digital. Mereka harus menjadi penggerak, pembuat kebijakan, dan pemimpin dalam menghadirkan ruang yang lebih sehat dan adil,” ucap Arifah Fauzi.

Arifah menegaskan bahwa teknologi tidak akan bisa memajukan masyarakat jika hanya dipakai secara pasif. “Kita perlu mengubah cara berpikir masyarakat terhadap peran perempuan di dunia digital. Mereka harus dianggap sebagai bagian dari proses inovasi, bukan sekadar benda yang dipakai,” jelasnya. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, swasta, dan lembaga-lembaga lain, untuk bekerja sama dalam mendorong keberanian perempuan dalam berinteraksi di ruang digital.

Tantangan dan Harapan di Era Teknologi Cepat

Arifah Fauzi mengungkap bahwa kehadiran teknologi yang berkembang sangat cepat memerlukan respons yang cepat pula. “Teknologi bisa merubah dunia dalam waktu singkat, jadi kita harus bersiap dan responsif,” katanya. Ia menyoroti bahwa keberhasilan perubahan digital bergantung pada partisipasi aktif perempuan. “Mereka harus tidak hanya mengakses informasi, tetapi juga menghasilkan, membagikan, dan memimpin arah perubahan,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini, Arifah juga memperkenalkan beberapa inisiatif yang sedang dijalankan Kementerian PPPA. “Beberapa program kami dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan digital, serta memberikan pelatihan untuk perempuan agar bisa memanfaatkan teknologi secara optimal,” ucapnya. Ia ber