Sekolah Rakyat Indramayu gunakan “smart board” dukung KBM digital

Sekolah Rakyat Indramayu Gunakan Smart Board untuk Transformasi Pembelajaran Digital

Sekolah Rakyat Indramayu gunakan smart board sebagai salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan digital di daerah. Proyek pembangunan gedung permanen untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 40 Kabupaten Indramayu telah mencapai tahap yang sangat menggembirakan. Terletak di kawasan Cikawung, Kecamatan Terisi, konstruksi bangunan ini sudah melampaui batas 80 persen penyelesaian. Target penggunaan fasilitas baru tersebut direncanakan akan dimulai pada tahun ajaran mendatang, memberikan ruang belajar yang lebih representatif bagi para peserta didik.

Saat ini, kegiatan pembelajaran masih berlangsung di Gedung Balai Latihan Kerja yang menjadi milik Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu. Lokasi sementara ini telah berfungsi dengan baik, namun kehadiran gedung permanen akan memberikan kenyamanan maksimal bagi seluruh komunitas sekolah. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kabupaten Indramayu, Waskam, menyampaikan bahwa pembangunan ini merupakan investasi penting untuk masa depan pendidikan daerah. Dengan fasilitas yang semakin lengkap, sekolah dapat menampung lebih banyak siswa dari keluarga kurang mampu.

Integrasi Teknologi dalam Proses Belajar Mengajar

Salah satu inovasi utama yang diterapkan di SRT 40 adalah penggunaan smart board di setiap ruang kelas. Kepala Sekolah, Mardiani, yang ditemui di Indramayu pada hari Kamis, menjelaskan bahwa seluruh ruang kelas telah dilengkapi dengan perangkat canggih ini sebagai media pembelajaran interaktif. Teknologi tersebut tidak hanya memodernisasi cara mengajar, tetapi juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Kehadiran smart board memungkinkan guru menyajikan materi dengan lebih menarik dan dinamis.

“Kalau di Sekolah Rakyat, satu kelas satu smart board. Anak-anak juga mendapatkan fasilitas laptop, satu siswa satu laptop untuk belajar,” katanya.

Selain smart board, setiap siswa juga memperoleh satu unit laptop yang digunakan secara eksklusif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kombinasi kedua perangkat digital ini menciptakan ekosistem pembelajaran yang terintegrasi dan mendukung transformasi menuju KBM digital. Menurut Mardiani, pemanfaatan perangkat digital tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses belajar di Sekolah Rakyat secara menyeluruh. Guru-guru juga telah dilatih untuk memanfaatkan teknologi ini secara optimal dalam setiap sesi pembelajaran.

Kurikulum Ganda dan Sistem Asrama

Sekolah Rakyat menerapkan pendekatan pendidikan yang unik melalui dua kurikulum sekaligus. Kurikulum akademik mengikuti standar sekolah reguler, sementara kurikulum karakter dijalankan melalui sistem pendidikan berasrama. Pendekatan ini memastikan siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan akademis, tetapi juga pembentukan karakter yang kuat. Sistem berasrama menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter siswa.

“Di Sekolah Rakyat ada dua kurikulum, yaitu kurikulum akademis yang sama dengan sekolah reguler dan kurikulum karakter yang diterapkan di asrama,” ujarnya.

Dengan tinggal di lingkungan sekolah, anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan nilai-nilai kehidupan sehari-hari di bawah bimbingan pendidik. Pemerintah daerah juga menyediakan seluruh kebutuhan pendidikan peserta didik secara gratis, mulai dari seragam, alat tulis, asrama hingga perlengkapan penunjang belajar lainnya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan akses pendidikan yang setara bagi semua lapisan masyarakat.

Demografi Siswa dan Ekspansi Masa Depan

Sekarang, SRT 40 Indramayu menampung total 100 siswa yang terbagi rata antara 50 siswa sekolah dasar (SD) dan 50 siswa sekolah menengah pertama (SMP). Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi masyarakat yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 atau keluarga miskin dan miskin ekstrem. Seluruh biaya pendidikan di Sekolah Rakyat ini memang gratis, sesuai dengan misi sosialnya. Program ini telah terbukti berhasil meningkatkan angka kelulusan dan prestasi akademik siswa.

Melihat antusiasme dan kebutuhan yang ada, sekolah berencana melakukan ekspansi signifikan pada tahun ajaran baru. Waskam mengatakan bahwa sekolah tersebut akan menerima 270 siswa baru dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Dengan penambahan ini, total peserta didik akan mencapai 370 orang, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan. Ekspansi ini juga akan disertai dengan penambahan fasilitas dan tenaga pengajar.

Investasi dalam teknologi digital, fasilitas fisik, dan kurikulum holistik ini menunjukkan komitmen serius pemerintah daerah Indramayu dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Dengan smart board, laptop, dan gedung permanen yang hampir selesai, Sekolah Rakyat Terintegrasi 40 siap menjadi model pendidikan inklusif yang dapat diteladani daerah lain. Keberhasilan program ini diharapkan dapat menginspirasi inisiatif serupa di berbagai wilayah Indonesia.