New Policy: Timo Scheunemann sebut pembinaan MLSC selaras dengan rencana FIFA
Timo Scheunemann: Pembinaan MLSC Sesuai Rencana FIFA
New Policy – Kudus, Jawa Tengah (ANTARA) – Pelatih utama MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026, Timo Scheunemann, menilai sistem pengembangan bakat sepak bola putri yang dijalankan program tersebut selaras dengan rencana Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dalam menyelenggarakan Piala Dunia U15. Dalam wawancara di Supersoccer Arena, Kudus, Minggu, Timo menjelaskan bahwa format pertandingan dalam MLSC konsisten dengan pendekatan yang diambil FIFA dalam menyediakan kompetisi internasional untuk usia muda. “FIFA memiliki strategi jangka panjang, setiap tahun menyelenggarakan Piala Dunia U15 baik untuk putra maupun putri. Formatnya mirip seperti Piala Gothia, yaitu 9 lawan 9, yang sama seperti yang kami terapkan di sini,” ujarnya.
Perubahan Format Turnamen
MLSC, yang dikembangkan oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation, telah menerapkan beberapa modifikasi untuk meningkatkan kualitas dan keterlibatan atlet. Dalam edisi 2026, durasi pertandingan diperpanjang dari sebelumnya 2 x 15 menit menjadi 2 x 20 menit, dengan jeda istirahat yang juga ditingkatkan dari 5 menit menjadi 10 menit. Meski begitu, ukuran lapangan tetap dijaga agar tidak berubah, yaitu 50 x 35 meter, dengan gawang berukuran 2 x 5 meter. Timo menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan memperkuat pengalaman para pemain di lapangan sebelum mereka naik ke level yang lebih profesional.
Kuota pemain per tim juga ditingkatkan dari 14 menjadi 16 orang, didampingi oleh empat ofisial. “Dengan menambah jumlah pemain, kami mengharapkan adanya interaksi yang lebih intensif antar pasukan, sehingga kemampuan individu dan tim bisa dikembangkan secara lebih maksimal,” terang Timo. Modifikasi ini dilakukan sebagai langkah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pertandingan yang lebih kompleks dan memperluas ruang bagi pengembangan keterampilan teknis.
Perspektif Global dalam Pembinaan
Timo mencatat bahwa dunia sepak bola putri mengalami dua arah pengembangan yang berbeda, yaitu pendekatan dari Belanda-Jerman dan Inggris-Amerika. Dalam hal pertama, Belanda-Jerman lebih menekankan pertandingan di lapangan lebih kecil dengan jumlah pemain yang sedikit, tetapi durasi yang lebih panjang. Sementara, Inggris-Amerika cenderung mengarahkan sepak bola putri agar segera bermain dalam format 11 lawan 11. “Saya lebih menyetujui pendekatan Inggris-Amerika karena berdasarkan pengalaman sebagai penikmat olahraga ini, semakin banyak sentuhan bola, semakin bagus hasilnya,” katanya dalam wawancara.
Menurut Timo, pendekatan ini sangat relevan dengan pertumbuhan sepak bola putri di Tanah Air. “MLSC sebenarnya sudah memperhatikan hal ini sejak awal. Untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), kami tetap menggunakan format 9 lawan 9, tetapi seiring berjalannya waktu, para atlet mulai beradaptasi dengan format yang lebih menantang. Sebagai contoh, turnamen Hydroplus Super League yang digelar untuk usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah menerapkan 11 lawan 11, sehingga transisi ke format profesional lebih mulus,” jelasnya.
Kesiapan Menuju Tantangan Global
Dengan mengadopsi format 9 lawan 9 di edisi kedua MLSC All-Stars 2026, Timo menilai program ini telah membangun fondasi kuat untuk pengembangan bakat. “Sejak awal, kami berpikir bahwa format ini cocok untuk mengasah kemampuan para pemain muda. Durasi pertandingan yang lebih panjang juga memberi mereka kesempatan untuk mengasah stamina dan konsentrasi dalam waktu yang lebih lama,” tuturnya.
Timo menjelaskan bahwa pendekatan pembinaan di MLSC memang dirancang untuk sejalan dengan progres global sepak bola putri. “Kami ingin memberikan pemain muda pengalaman sejalan dengan standar internasional. Jadi, ketika mereka mencapai usia U15 atau U18, mereka sudah terbiasa bermain dalam format yang lebih intensif, seperti di Piala Dunia U15 FIFA,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa keberhasilan seorang atlet dalam jenjang awal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mereka di masa depan.
MLSC All-Stars 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga platform untuk menilai bakat-bakat yang berpotensi mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. “Saya melihat MLSC sebagai bagian dari jaringan pembinaan yang menyeluruh, mulai dari usia SD hingga SMP, sehingga mereka tidak hanya memperoleh pengalaman bertanding, tetapi juga keahlian dalam strategi, taktik, dan manajemen tim,” imbuh Timo. Ia menambahkan bahwa penggunaan teknologi dan metode latihan modern dalam program ini merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan potensi para pesepak bola putri.
Kompetisi ini juga menjadi sarana untuk membangun ketahanan mental para atlet. “Dengan format pertandingan yang berbeda dari edisi sebelumnya, mereka terbiasa menghadapi tekanan dan keterbatasan dalam kondisi tertentu. Ini adalah latihan yang sangat berharga untuk menghadapi tantangan di Piala Dunia U15,” kata Timo. Ia menilai bahwa keberhasilan pembinaan MLSC bergantung pada konsistensi dalam pengembangan program serta keterlibatan masyarakat dan sponsor yang mendukung.
Selain itu, Timo juga memaparkan bahwa keberhasilan sebuah program sepak bola muda tidak hanya diukur dari prestasi di lapangan, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar. “MLSC telah membuka peluang bagi anak-anak di berbagai daerah untuk terlibat dalam olahraga ini. Mereka bisa berkompetisi secara nasional dan memperoleh pengalaman berharga yang bisa memperkaya karier mereka,” ujarnya. Ia berharap, keberhasilan ini bisa menjadi contoh bagi program serupa di luar negeri.
Perspektif Internasional dan Harapan Masa Depan
Dalam wawancara tersebut, Timo juga menyinggung tentang pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendukung sepak bola putri. “Kami perlu kerja sama yang lebih luas, baik dari pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, akan memberi dampak besar bagi pertumbuhan olahraga ini,” katanya. Ia menekankan bahwa pembinaan sepak bola putri tidak bisa dilakukan secara individu, tetapi memerlukan sistem yang terpadu.
Sebagai pelatih Tim Nasional Putri Indonesia U17, Timo mengungkapkan bahwa pengalaman menangani tim nasional memberinya wawasan yang lebih luas tentang kebutuhan pemain muda. “Saya melihat bahwa format 9 lawan 9 tetap efektif untuk mengasah fondasi permainan, tetapi penting juga untuk secara bertahap mengarahkan mereka ke format yang lebih mendekati kompetisi internasional,” ujarnya. Ia berharap MLSC bisa menjadi bagian dari jalan menuju kesuksesan di tingkat dunia.
Timo menambahkan bahwa seluruh kompetisi MLSC dirancang agar memadukan pendekatan lokal dan global. “Kami mempertimbangkan kebiasaan lokal, tetapi juga memperhatikan standar internasional. Jadi, ketika mereka mencapai usia U15, mereka
