Dino: Target 100 GW energi bersih Prabowo realistis

Dino Patti Djalal: Visi Energi Bersih Prabowo Mencapai 100 GW Dapat Terealisasi

Indocrowdfunding.com – Dino – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, baru-baru ini mengumumkan ambisi besar pemerintah untuk mengembangkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total mencapai 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan pada tanggal 9 Juli saat menghadiri acara peluncuran mandatori B50 yang berlokasi di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat. Menurut kepala negara, pengembangan PLTS ini merupakan salah satu strategi utama Indonesia untuk mencapai kemandirian energi sekaligus menurunkan emisi karbon secara signifikan.

Merespons pernyataan tersebut, Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menyatakan bahwa target ambisius tersebut sebenarnya sangat realistis untuk dicapai. Ia memberikan perbandingan dengan pencapaian China yang mampu memproduksi 250 gigawatt hanya dalam waktu enam bulan. Dengan demikian, menurut Dino, keinginan Presiden Prabowo untuk mewujudkan 100 GW dalam beberapa tahun mendatang bukanlah hal yang mustahil.

Koordinasi Lintas Sektor Kunci Keberhasilan

Meskipun memberikan pandangan optimis, Dino tidak lupa mengingatkan bahwa pencapaian target tersebut sangat bergantung pada keberhasilan proyek percontohan sebelum dilakukan ekspansi secara nasional. Rencana pembangunan PLTS di 52 ribu desa dengan alokasi lahan satu hektare per desa memerlukan sinergi yang kuat antar berbagai kementerian. Mulai dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Desa, hingga Badan Pertanahan Nasional (BPN) harus bekerja sama secara efektif.

“Yang diinginkan oleh Presiden Prabowo, 100 GW dalam beberapa tahun ini, sebetulnya tidak terlalu sulit. Karena kalau kita lihat China, dalam waktu 6 bulan memproduksi 250 gigawatt,” jelas Dino dalam wawancara khusus dengan ANTARA di Jakarta, Senin.

Dino juga menyoroti rencana pembangunan PLTS sebesar 17 gigawatt yang telah dimulai oleh PLN pada tahun 2026. Ia menilai proyek ini berpotensi terealisasi dengan baik apabila didukung oleh pendanaan yang memadai, koordinasi antarkementerian yang solid, kepemimpinan yang jelas, serta pelaksanaan yang berkelanjutan. Hal ini penting untuk menghindari hambatan-hambatan yang sering dialami oleh proyek-proyek sebelumnya.

Tantangan Korupsi dan Tata Kelola

Salah satu isu krusial yang diangkat oleh Dino adalah potensi korupsi dalam implementasi proyek energi bersih. Ia menyebutkan beberapa contoh kasus seperti proyek MBG dan pengadaan motor yang ternyata menjadi proyek pencarian keuntungan semata. Meskipun ide awalnya bagus, masalah tata kelola sering muncul dalam pelaksanaannya.

“Dan yang paling penting, jangan sampai ada korupsi. MBG korupsi, pengadaan motor korupsi… ternyata jadi proyek cari uang. Idenya bagus, tapi dalam implementasinya banyak masalah tata kelola. Ini juga harus dijaga nanti,” tegas Dino.

Dino menambahkan bahwa kepercayaan investor sangat bergantung pada tata kelola yang baik. Jika terjadi korupsi, akan sulit menarik investor untuk berinvestasi. “Karena saya yakin sekali 100 persen pasti ada orang yang mau memanfaatkan untuk memperkaya diri. Kalau sudah begitu, cari investor susah. Kita maunya investor percaya (sama kita), terutama dengan tata kelola,” tambahnya.

Generasi Terakhir Penyelamat Bumi

Selain fokus pada aspek energi, Dino juga menilai Indonesia masih bersikap reaktif daripada preventif dalam menghadapi krisis iklim. Ia mendorong agar edukasi iklim dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional untuk membangun kesadaran sejak dini. Dino juga menekankan bahwa periode 2020-2030 merupakan jendela krusial untuk beralih ke pembangunan rendah karbon demi mempertahankan target pembatasan kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius.

“Bukan 2040. Apalagi 2050, 2050 sudah terkunci. Jadi kita generasi terakhir. Sekarang, pertanyaan saya kembalikan kepada pemuda generasi sekarang. ‘If you know (about) this, what do you do?'” kata Dino.

Dino menilai bahwa generasi saat ini adalah generasi terakhir yang memiliki peluang untuk menyelamatkan Bumi. Ia mendorong generasi muda untuk melakukan tindakan nyata dalam menghadapi perubahan iklim.

Indonesia Net Zero Summit 2026

Dalam konteks yang lebih luas, FPCI akan menyelenggarakan Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 pada tanggal 1 Agustus di Jakarta. Acara ini bertujuan untuk mengangkat aksi iklim sebagai prioritas nasional bagi pembangunan dan keamanan, serta memosisikan Indonesia untuk berperan aktif dan berpengaruh dalam membentuk agenda iklim di tingkat regional dan global. Tahun ini, INZS 2026 berupaya menunjukkan bagaimana transisi energi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang nyata serta kemakmuran bersama bagi seluruh rakyat Indonesia.