Indo Crowd Funding
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi kewirausahaan sosial dunia

Published 24 Oktober, 2026 · Updated 24 Oktober, 2026 · By Sarah Anderson - indocrowdfunding.com

Foto : Sarah Anderson - indocrowdfunding.com

Dua Pengusaha Indonesia Menang Kompetisi Sosial Global di Shanghai

Indocrowdfunding.com – Dua inovator perempuan asal Indonesia, Azalea Ayuningtyas dan Jihan Alfiyyah Munajat atau Alfi Munajat, meraih penghargaan dalam kompetisi kewirausahaan sosial internasional Unlock Her Future 2026 di Shanghai, Jumat (23/10). Keduanya berpeluang memperoleh akses pendanaan hingga 100 ribu dolar AS, sekitar Rp1,8 miliar, untuk mengembangkan dampak usaha mereka.

Azalea memimpin Birufinery, perusahaan rintisan dari Nusa Tenggara Timur yang mengolah rumput laut menjadi biostimulan pertanian. Sementara itu, Alfi menjadi CEO HerLens, platform berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu bidan melakukan pemeriksaan awal kanker serviks, terutama bagi perempuan di wilayah perdesaan Indonesia.

Inovasi dari NTT hingga layanan kesehatan perempuan

Birufinery berdiri pada 2024 dan beroperasi dengan basis di Flores serta Kupang, Nusa Tenggara Timur. Produk utamanya berupa biostimulan, atau vitamin tanaman, yang dihasilkan dari rumput laut. Produk tersebut ditujukan untuk mendukung kesuburan tanah sekaligus membantu mengurangi eutrofikasi laut melalui penyerapan nitrogen.

Azalea memandang penghargaan tersebut sebagai pengakuan atas kerja kolektif tim Birufinery. Ia berharap dukungan yang tersedia dapat memperluas edukasi bagi petani kecil mengenai pemanfaatan biostimulan berbahan rumput laut.

“Saya sangat bersyukur bisa berada di sini.”

Ia juga menilai tambahan pendanaan penting untuk memperkuat rantai pasok rumput laut di NTT. Rencana itu mencakup pembelajaran budidaya rumput laut yang lebih ramah bagi laut serta penyediaan bibit unggul bagi petani. Pengembangan tersebut dapat mempertemukan kebutuhan pertanian, kelautan, dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir dalam satu model usaha sosial.

Di sektor kesehatan, HerLens membawa fokus yang berbeda tetapi sama pentingnya. Perusahaan yang dikembangkan pada 2024 itu menggunakan AI untuk mendukung bidan dalam skrining awal kanker serviks. Kehadiran alat bantu seperti ini dapat memberi dukungan bagi tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan perempuan di daerah yang memiliki akses layanan terbatas.

Data Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia berada di posisi ketiga dunia untuk kasus kanker serviks. Setiap tahun, sekitar 36.000 perempuan di Indonesia menerima diagnosis penyakit tersebut dan sekitar 21.000 orang meninggal dunia. Situasi itu membuat upaya pendidikan kesehatan serta deteksi dini menjadi bagian penting dari misi HerLens.

“Terima kasih telah memercayai saya dan memercayai misi kami.”

Di atas panggung, Alfi menyampaikan rasa gugup sekaligus komitmennya untuk terus mengembangkan manfaat HerLens. Ia menekankan bahwa masih ada pekerjaan besar agar misi tersebut dapat menjangkau lebih banyak perempuan, terutama di Indonesia.

Terpilih dari sekitar 1.500 pendaftar

Azalea dan Alfi termasuk empat pemenang Unlock Her Future 2026. Dua penerima penghargaan lainnya ialah Kyle Li dari China melalui 38 Fixers serta Nhung Tran Huyen dari Vietnam melalui Tham Nhung Social Enterprise.

38 Fixers berfokus melatih perempuan agar memiliki keterampilan sebagai teknisi perbaikan rumah. Adapun Tham Nhung Social Enterprise menyediakan pendampingan kesehatan mental dan bantuan hukum bagi pekerja migran perempuan di kawasan pabrik.

Kompetisi itu juga memberikan honorable mention kepada Jieun Lee dari Korea Selatan, pendiri Giboo. Usahanya mengembangkan AI untuk mempertemukan pendana filantropi dengan program sosial yang memerlukan pembiayaan. Penghargaan serupa diterima Prangthong Tiengkate dari Thailand melalui Bamboo Family Market, pasar kerajinan komunitas yang telah memberdayakan lebih dari 60 perempuan perajin.

Ke-12 finalis berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara, setelah tersaring dari sekitar 1.500 pendaftar. Ajang tahunan ini telah berlangsung sejak 2022 dan diselenggarakan oleh The Bicester Collection, perusahaan Inggris yang bergerak di bidang ritel mewah serta wisata belanja.

Penilaian mencakup gagasan dan kemampuan berkembang

Dewan juri mempertimbangkan sejumlah unsur sebelum menentukan para pemenang, mulai dari kualitas gagasan, potensi perluasan skala usaha, hingga cara setiap peserta menjalankan solusi yang ditawarkan. Supermodel Thailand Cindy Bishop, yang mewakili dewan juri, menyebut proses penetapan pemenang berlangsung ketat dan memerlukan waktu empat jam dalam sesi pengambilan keputusan.

“Ini merupakan keputusan yang sangat sulit.”

Kemenangan dua wakil Indonesia memperlihatkan bahwa kewirausahaan sosial dapat berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Birufinery menempatkan rumput laut sebagai sumber solusi bagi pertanian dan lingkungan laut, sedangkan HerLens mengarahkan teknologi AI untuk membantu layanan kesehatan perempuan.

Bagi kedua perusahaan rintisan tersebut, peluang pendanaan bukan hanya soal pengembangan bisnis. Dukungan itu dapat memperluas pelatihan, edukasi, akses teknologi, serta jangkauan manfaat bagi petani, pembudidaya rumput laut, bidan, dan perempuan yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan lebih awal.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi?

Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi matter?

Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.