Key Strategy: Undira-Mercu Buana perkuat pemberdayaan desa binaan lewat teknologi

Key Strategy: Undira-Mercu Buana Perkuat Desa Lewat Teknologi

Key Strategy – Sebagai Key Strategy utama dalam pengembangan wilayah, Jakarta menandai langkah penting melalui kerja sama antara Universitas Dian Nusantara dan Universitas Mercu Buana. Kedua institusi pendidikan tinggi ini telah memperkuat sinergi dalam menjalankan Program Pemberdayaan Desa Binaan dengan menyerahkan berbagai peralatan teknologi tepat guna kepada warga Desa Pondok Kelor. Lokasi penyerahan berada di Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, yang menjadi fokus utama program ini.

Implementasi Sistem Berbasis Teknologi

Proyek yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi ini merupakan wujud nyata dari implementasi sistem yang telah dirancang bersama masyarakat selama beberapa bulan terakhir. Menurut Desiana Vidayanti, Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan dari Universitas Mercu Buana, momen penyerahan alat-alat tersebut menandai dimulainya fase operasional yang sesungguhnya. Key Strategy ini terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat lokal.

Ini bukan sekadar penyerahan alat. Ini merupakan awal implementasi sistem yang dibangun bersama masyarakat. Harapannya, pengelolaan sampah semakin tertata, usaha masyarakat semakin berkembang, dan secara bertahap identitas Desa Pondok Kelor sebagai desa yang lekat dengan tanaman kelor dapat hidup kembali.

Peralatan teknologi yang diserahkan akan dikelola oleh Karang Taruna Desa Pondok Kelor untuk keperluan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menghidupkan kembali tradisi penanaman kelor yang merupakan ciri khas desa tersebut. Kelompok usaha makanan lokal yang berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa juga mendapat perhatian khusus. Nani Setiawati sebagai ketua kelompok usaha menerima peralatan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi pangan lokal yang berbahan dasar singkong dan kelor.

Fondasi Program Pemberdayaan Berkelanjutan

Program Pemberdayaan Desa Binaan yang dijalankan oleh Universitas Mercu Buana merupakan penerima hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendiktisaintek untuk tahun 2026. Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan dosen-dosen dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari Universitas Dian Nusantara. Pemilihan Desa Pondok Kelor sebagai lokasi program didasarkan pada berbagai pertimbangan, termasuk masalah pengelolaan sampah rumah tangga yang belum memiliki sistem terorganisir.

Selain itu, tanaman kelor yang dulunya menjadi identitas desa kini semakin jarang ditemui. Perubahan penggunaan lahan dan belum optimalnya pemanfaatan kelor sebagai sumber pangan bergizi maupun komoditas ekonomi menjadi alasan lain pemilihan desa ini. Program yang dimulai sejak April 2026 melalui koordinasi intensif dengan pemerintah desa telah melakukan identifikasi kebutuhan masyarakat, pemetaan potensi, serta penyusunan rencana pemberdayaan bersama kedua mitra. Key Strategy ini memastikan setiap tahap berjalan terarah.

Tahapan awal tersebut menjadi fondasi penting agar implementasi program benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mampu berkelanjutan setelah masa pendanaan berakhir. Pada tanggal 12 Juni 2026, seluruh tim melaksanakan sosialisasi yang melibatkan berbagai pihak termasuk pemerintah desa, ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, Karang Taruna, kelompok usaha BUMDes, serta warga.

Kegiatan sosialisasi tidak hanya memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan gerakan menanam kelor, tetapi juga diisi dengan pelatihan literasi keuangan, pembukuan sederhana, manajemen usaha, dan penguatan kapasitas pelaku usaha. Pendampingan kemudian dilanjutkan melalui Focus Group Discussion bersama Karang Taruna untuk menyusun sistem layanan pengelolaan sampah, mekanisme operasional, pembagian peran, serta gerakan penanaman kembali kelor di lingkungan permukiman.

Pengelolaan sampah, gerakan menanam kelor, maupun pengembangan usaha pangan lokal tidak cukup hanya didukung oleh peralatan. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat agar program dapat berjalan secara mandiri setelah pendampingan selesai.

Sri Hesti, anggota tim Program PDB dari Universitas Dian Nusantara, menekankan bahwa keberhasilan pemberdayaan masyarakat sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif warga itu sendiri. Sementara itu, Kepala Desa Pondok Kelor, Junaedi, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi kedua perguruan tinggi yang telah menjawab kebutuhan masyarakat dalam pengelolaan sampah sekaligus mengembangkan potensi tanaman kelor.

Program Pemberdayaan Desa Binaan di Desa Pondok Kelor dirancang untuk berlangsung selama tiga tahun penuh. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan fondasi sistem pengelolaan sampah, gerakan tanam kelor, dan penguatan kapasitas kelompok usaha pangan lokal. Tahun kedua diarahkan pada penguatan operasional dan pengembangan usaha, sedangkan tahun ketiga difokuskan pada penguatan kelembagaan dan keberlanjutan program secara menyeluruh. Melalui Key Strategy yang tepat, program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan desa yang replicable.