Historic Moment: Fadli Zon sebut kegiatan ziarah di Gunung Kawi bagian tradisi lama
Fadli Zon sebut kegiatan ziarah di Gunung Kawi bagian tradisi lama
Historic Moment – Jakarta – Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon, menyoroti pentingnya kegiatan ziarah yang dilakukan di Gunung Kawi, Jawa Timur, sebagai bagian dari warisan budaya yang masih hidup. Dalam wawancara di Jakarta pada Senin, ia menegaskan bahwa tradisi ini mencerminkan keberagaman masyarakat dalam merayakan kehidupan spiritual dan budaya. “Gunung Kawi, itu kan contoh dari keberagaman kita dalam memahami tradisi, termasuk praktik yang terjadi di tempat ini dan di berbagai wilayah lain. Jadi, itu merupakan bagian dari mozaik budaya yang dulu dikenal,” ujarnya.
“Sejak awal, kegiatan ziarah seperti ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Selama ia bisa memberi manfaat, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi budaya bagi masyarakat sekitar, dan tidak menyebabkan kerusakan lingkungan, maka kita anggap hal tersebut sebagai bentuk realitas kehidupan yang sehat,” tambah Fadli Zon.
Belakangan, kegiatan ziarah di Gunung Kawi semakin diperbincangkan di berbagai platform media sosial, khususnya setelah muncul konten yang mengaitkan praktik tersebut dengan upaya pesugihan. Pesugihan, sebagai bentuk ritual mencari keberuntungan atau kekuatan, sering dianggap sebagai bagian dari kepercayaan lokal yang memiliki akar sejarah. Namun, Fadli Zon menekankan bahwa ziarah ke Gunung Kawi bukan hanya tentang kepercayaan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menjaga kearifan lokal dalam konteks modern.
Sejarah dan makna tempat ziarah
Pesarean Gunung Kawi, yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, merupakan tempat peristirahatan almarhum Kiai Zakaria II, atau Raden Mas Soeryo Koesoemo, serta Raden Mas Iman Soedjono. Menurut cerita yang berlaku, kedua tokoh tersebut dianggap memiliki kekuatan spiritual yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Tempat ini sering dikunjungi oleh masyarakat setempat, terutama pada momen perayaan Tahun Baru Hijriah, yang dirayakan dengan penuh semangat.
Prosesi ziarah di Gunung Kawi mencakup kirab oleh warga sekitar dan ritual tabur bunga sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan. Aktivitas ini dilakukan setiap tanggal 1 Muharam, yang juga disebut sebagai 1 Syuro, dan menjadi bagian dari tradisi tahunan yang turun-temurun. “Masyarakat yang berziarah ke Gunung Kawi bukan hanya mengejar keberkahan, tetapi juga mempertahankan ikatan budaya yang menjadi bagian dari identitas lokal,” jelas Fadli Zon.
Konteks sosial dan budaya modern
Dalam wawancaranya, Fadli Zon menyoroti bagaimana tradisi seperti ziarah di Gunung Kawi tetap relevan di tengah dinamika masyarakat yang semakin berkembang. “Budaya yang berubah tidak selalu berarti hilang. Asalkan ia tetap menjaga nilai-nilai intinya, maka tradisi seperti ini bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini,” katanya. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan wisata budaya yang berkelanjutan.
Kebudayaan di Gunung Kawi dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia mampu menjaga keberagaman dalam satu kesatuan. Fadli Zon menambahkan bahwa setiap wilayah memiliki ciri khasnya sendiri, dan Gunung Kawi adalah salah satu contoh yang menarik. “Aktivitas ziarah di sini bisa menjadi bukti bahwa tradisi lama tidak perlu berkonflik dengan perkembangan zaman. Justru, ia bisa menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ekonomi dan pariwisata,” tuturnya.
Dalam konteks kekinian, kegiatan ziarah di Gunung Kawi juga menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Kehadiran mereka bukan hanya untuk berdoa atau berharap, tetapi juga untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah dan makna budaya di balik ritual ini. “Banyak orang yang datang ke Gunung Kawi karena tertarik dengan cerita sejarah dan keunikan ritualnya. Jadi, kegiatan ini bisa menjadi sarana edukasi dan penguatan identitas budaya,” imbuh Fadli Zon.
Kemunculan konten di media sosial yang mengaitkan ziarah ke Gunung Kawi dengan pesugihan menunjukkan minat publik terhadap tradisi lokal. Pesugihan, yang dalam konteks tertentu dianggap sebagai bentuk perayaan untuk mendapatkan keberuntungan, diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19. “Pada masa kolonial, orang-orang Jawa banyak mempraktikkan pesugihan sebagai bagian dari ritual keagamaan dan kepercayaan mereka. Kini, Gunung Kawi menjadi tempat di mana kepercayaan itu tetap hidup,” jelasnya.
Pesarean Gunung Kawi bukan hanya menjadi tempat berziarah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya. Masyarakat sekitar kerap mengadakan berbagai upacara di lingkungan ini, termasuk dalam rangka memperingati hari besar keagamaan. “Kita harus melihat bahwa tradisi seperti ini tidak hanya punya nilai spiritual, tetapi juga ekonomi. Dengan adanya kunjungan wisatawan, masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari pengelolaan tempat ziarah,” kata Fadli Zon.
Menurut Fadli Zon, pentingnya menjaga tradisi seperti ziarah di Gunung Kawi adalah untuk memastikan bahwa kebudayaan lokal tetap hidup. “Jika tradisi ini dibiarkan mengendap, maka kita bisa kehilangan bagian penting dari warisan budaya kita. Jadi, kegiatan seperti ini harus dijaga dengan baik,” ujarnya. Ia menekankan bahwa peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi sangat vital.
Berziarah ke Gunung Kawi juga menjadi bagian dari ritual penghormatan terhadap leluhur dan tokoh-tokoh spiritual yang dianggap memiliki kekuatan. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan oleh warga Jawa, tetapi juga oleh kelompok lain yang tertarik dengan budaya Jawa. “Budaya yang bisa menarik perhatian berbagai kalangan adalah budaya yang masih relevan. Maka, Gunung Kawi menjadi contoh bagus bahwa tradisi bisa tetap hidup dalam konteks modern,” tambah Fadli Zon.
Dalam kesimpulan, kegiatan ziarah di Gunung Kawi dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal yang patut dipertahankan. Fadli Zon menilai bahwa budaya seperti ini bisa menjadi sarana memperkuat rasa nasionalisme dan identitas budaya. “Selama tradisi ini tetap dihormati dan tidak merusak lingkungan, maka kita bisa menikmati manfaatnya, baik secara spiritual maupun ekonomi,” tutupnya.
