Komunikasi terbuka hingga literasi bantu anak berani lapor kekerasan

Komunikasi Terbuka Hingga Literasi Bantu Anak Berani Melaporkan Kekerasan

Indocrowdfunding.com – Jakarta – Komunikasi terbuka hingga literasi bantu anak dalam membangun keberanian untuk melaporkan berbagai bentuk kekerasan. Menurut Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis spesialis anak dan remaja, pendekatan ini menjadi kunci utama. Pendekatan tersebut mencakup komunikasi yang terbuka serta peningkatan literasi baik di lingkungan domestik maupun di dunia digital. Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini menekankan bahwa menciptakan suasana komunikasi yang kondusif di rumah merupakan fondasi utama. Hubungan yang hangat dan responsif antara anak dengan orang tua atau pengasuh menjadi salah satu faktor protektif paling kuat dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak-anak.

Literasi Digital dan Pendampingan Bertahap

Keberanian anak untuk melaporkan tindakan kekerasan atau perundungan, khususnya yang terjadi di ruang digital, memerlukan pembangunan literasi dan pendampingan sejak dini. Komunikasi terbuka hingga literasi bantu anak dalam memahami dunia maya dengan lebih baik. Pendampingan digital hendaknya dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan usia dan tingkat kematangan psikologis anak. Orang tua disarankan untuk secara rutin mengajak anak berdiskusi mengenai konten-konten yang mereka temui selama beraktivitas di dunia maya. Selain itu, penting juga untuk mengajarkan nilai-nilai menjaga privasi, melindungi data pribadi, serta menjadi lebih waspada terhadap keberadaan orang asing di internet.

“Anak juga perlu memahami cara melakukan perlindungan diri di ruang digital, seperti memblokir akun, melaporkan konten, keluar dari percakapan, dan meminta bantuan orang dewasa,” tutur Ocha.

Lebih jauh, pendampingan ini mencakup pengenalan tanda-tanda interaksi yang berpotensi membahayakan bagi anak. Dengan pemahaman yang baik, anak akan lebih siap menghadapi situasi tidak menyenangkan di dunia virtual tanpa merasa takut atau bingung. Komunikasi terbuka hingga literasi bantu anak dalam mengenali situasi berbahaya sejak dini.

Edukasi Sejak Dini dan Peran sebagai Upstander

Ocha juga menyarankan agar orang tua memberikan edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan sejak usia dini, disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Anak tidak hanya perlu mengetahui apa saja yang termasuk kategori kekerasan, tetapi juga harus memahami langkah-langkah konkret yang dapat mereka lakukan ketika mengalami hal tersebut. Selain itu, anak perlu dibekali pengetahuan tentang bagaimana cara membantu teman yang menjadi korban kekerasan.

“Anak juga perlu dibekali mengenai apa yang dapat dilakukan ketika mereka melihat temannya menjadi korban, yaitu bagaimana anak mampu menjadi upstander (yaitu berani mencari bantuan kepada orang dewasa ketika melihat kekerasan),” ujar psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu.

Konsep menjadi upstander ini sangat penting karena mengajarkan anak untuk tidak hanya pasif, tetapi aktif mencari pertolongan ketika melihat ketidakadilan terjadi pada orang lain. Komunikasi terbuka hingga literasi bantu anak dalam mengembangkan empati dan keberanian sosial.

Melatih Kemampuan Asertif dan Menjaga Batasan Diri

Dalam membangun keberanian anak untuk melapor, pelatihan kemampuan asertif dan menjaga batasan diri juga menjadi aspek krusial. Anak perlu memahami bahwa mereka memiliki hak penuh untuk mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman, meskipun pihak yang melakukan adalah orang yang lebih tua atau orang yang sudah dikenal. Kemampuan ini harus dilatih secara konsisten melalui berbagai metode yang menyenangkan bagi anak.

“Misalnya, mengenalkan kata ‘aku tidak mau’, ‘berhenti’, atau ‘aku akan memberi tahu mamaku’ dapat dilatih melalui permainan peran (role play), diskusi, maupun studi kasus yang sesuai dengan usia anak,” ujar Ocha.

Selain itu, meluangkan waktu setiap hari untuk mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi, menyalahkan, atau terburu-buru memberi solusi juga menjadi kunci penting.

“Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak setiap hari tanpa langsung menghakimi, menyalahkan, atau terburu-buru memberi solusi,” kata Ocha ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, pada Kamis.

Ketika anak terbiasa merasa didengar dalam cerita-cerita sederhana sehari-hari, mereka akan lebih percaya bahwa orang tua juga akan mendengarkan ketika mereka menghadapi masalah yang lebih serius. Dengan demikian, kombinasi antara komunikasi terbuka, literasi digital, dan pelatihan asertif akan membentuk anak yang berani dan percaya diri dalam melaporkan setiap bentuk kekerasan yang mereka alami atau saksikan. Komunikasi terbuka hingga literasi bantu anak menjadi investasi jangka panjang untuk generasi yang lebih kuat dan berani.