Kebijakan IDAI: Anak Lebih Baik Berada di Dalam Ruangan Saat El Nino “Godzilla”
Dari Jakarta, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan saran agar anak-anak lebih sering beraktivitas di ruang tertutup selama fenomena alam El Nino yang disebut sebagai “Godzilla”. Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem, baik panas tinggi maupun hujan deras, bisa mengurangi daya tahan tubuh anak.
“Secara umum, mungkin sebaiknya anak-anak banyak di dalam ruangan. Pada saat cuaca ekstrem, apakah panas yang tinggi atau curah hujan yang tinggi,” kata Piprim.
Ia menambahkan, cuaca ekstrem seperti kemarau berkepanjangan berisiko membuat anak-anak lebih mudah lelah karena memerlukan energi besar untuk menyesuaikan diri. Berada di dalam ruangan dianggap lebih aman, sehingga orang tua bisa mengawasi lebih mudah dan menghindari risiko penyakit.
Kalaupun anak harus berada di luar, orang tua dianjurkan membawa perlengkapan seperti jas hujan atau payung untuk mengantisipasi perubahan iklim tiba-tiba. Selain itu, kesehatan anak juga perlu diperhatikan dengan makanan bergizi dan sehat.
Makanan Hewani Dianjurkan untuk Peningkatan Nutrisi Anak
Menurut Piprim, asupan nutrisi anak harus diperbaiki, terutama melalui protein hewani seperti ayam, daging, telur, ikan, dan hati ayam. “Nutrisi anak juga perlu diperbaiki, misalnya lewat protein hewani supaya anak bisa lebih fit menghadapi cuaca ekstrem seperti ini,” ujarnya.
Konteks Nama “Godzilla” dalam Fenomena El Nino
Nama “Godzilla” populer oleh ilmuwan NASA Bill Patzert pada 2015 untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas. Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggunakannya untuk merujuk potensi variasi El Nino yang bisa menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kering.
Pada wilayah selatan Indonesia serta daerah timur laut seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku, dampaknya bisa berbeda. Oleh karena itu, BRIN meminta kementerian/lembaga terkait untuk menyiapkan mitigasi berdasarkan risiko kekeringan dan banjir yang mungkin terjadi.
Prediksi BMKG: Tahun 2026 Berpotensi Lebih Kering
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa kondisi iklim 2026 kemungkinan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Indikasi menunjukkan musim kemarau bisa datang lebih awal dan berlangsung lebih lama.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, pada Selasa (7/4) mengungkapkan ENSO masih dalam fase netral, namun pada semester kedua 2026 berpeluang berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat, dengan persentase 50–80 persen. “Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” katanya.
