Key Strategy: Koordinator aksi sebut MBG berpihak pada rakyat kecil dan usaha mikro

Key Strategy: MBG Berpihak Rakyat Kecil dan Usaha Mikro

Aksi Damai Mendukung Program Gizi Nasional

Key Strategy – Jakarta — Koordinator Presidium Relawan dan Simpatisan Dukung Makan Bergizi Gratis, Ahmad Yazdi, menegaskan bahwa program MBG harus terus berjalan karena secara konsisten berpihak kepada masyarakat kecil. Key Strategy ini menjadi fokus utama dalam menjaga keberlangsungan program bagi pelaku usaha mikro serta para mitra yang telah terlibat aktif. Pernyataan ini disampaikan Ahmad Yazdi di tengah aksi damai di depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) Jakarta Pusat pada hari Rabu. Ratusan peserta dari berbagai wilayah Indonesia turut serta dalam demonstrasi ini untuk menunjukkan solidaritas mereka terhadap program nasional tersebut.

“Key Strategy kita tetap solid, kita mengonsolidasikan gerakan ini. Tujuannya demi keberlangsungan MBG yang berpihak kepada rakyat kecil,” kata Ahmad Yazdi dengan tegas di hadapan para peserta. Ia menjelaskan bahwa para peserta yang hadir merupakan mitra usaha mikro dan relawan yang selama ini menjadi bagian integral dari pelaksanaan program MBG di berbagai daerah. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolis, melainkan wujud nyata dari komitmen untuk mempertahankan program yang telah memberikan manfaat bagi banyak pihak. Key Strategy ini menjadi fondasi kuat bagi gerakan masyarakat sipil.

Menurut Ahmad, para peserta aksi datang dengan satu tujuan utama, yaitu menyampaikan aspirasi agar pelaksanaan program tetap memberikan ruang yang adil bagi pelaku usaha kecil. Key Strategy ini menunjukkan betapa pentingnya peran relawan dalam memastikan program berjalan dengan baik di tingkat lokal. Mereka merasa bahwa program MBG telah memberikan peluang bagi usaha-usaha mikro untuk berkembang dan berkontribusi dalam pemenuhan gizi masyarakat. “Kita datang sebagai mitra UMKM yang merekrut relawan-relawan yang bekerja sebagai pejuang dapur,” ujarnya. Key Strategy ini menjadi panduan dalam setiap langkah perjuangan mereka.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad mengaku tetap menghormati proses penyampaian aspirasi meskipun massa belum dapat berdialog langsung dengan pimpinan BGN. Ia meyakini bahwa aspirasi yang disampaikan oleh peserta aksi telah diterima oleh pihak terkait, meskipun belum memperoleh tanggapan secara langsung. “Memang hari ini kita tidak bisa ditemui, tapi yakinilah apa yang telah kita suarakan pastinya telah didengar,” katanya. Key Strategy ini didasarkan pada pengalaman sebelumnya di mana aspirasi masyarakat sering kali tersampaikan melalui berbagai saluran komunikasi yang tersedia.

Ahmad juga menyampaikan permohonan maaf kepada para peserta aksi karena aspirasi mereka belum dapat disampaikan secara langsung kepada pimpinan BGN dalam aksi tersebut. Ia berharap relawan tidak berkecil hati dan tetap menjaga ketertiban dalam memperjuangkan aspirasi melalui jalur yang damai. “Kami meminta maaf karena belum bisa menyampaikan langsung keluh-kesah teman-teman relawan selama BGN diliburkan kemarin,” ujarnya. Key Strategy ini menunjukkan rasa hormat Ahmad terhadap para relawan yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir dalam aksi tersebut.

Menurut Ahmad, pihaknya akan terus mengonsolidasikan para relawan dan mitra penyelenggara MBG di berbagai daerah untuk menyampaikan masukan secara konstruktif kepada pemerintah mengenai pelaksanaan program tersebut. Konsolidasi ini penting untuk memastikan bahwa suara masyarakat kecil tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk kebijakan nasional. Key Strategy ini menjadi panduan dalam setiap langkah perjuangan mereka. Dengan tetap bersatu, para relawan dan mitra diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi perbaikan program MBG ke depan.

Sebelumnya, ratusan peserta aksi berjalan kaki dari kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan menuju Kantor BGN di Kebon Sirih. Perjalanan ini bukan hanya sekadar mobilitas fisik, melainkan juga simbol dari perjalanan panjang perjuangan masyarakat kecil untuk mendapatkan tempat yang layak dalam program-program pemerintah. Key Strategy ini menjadi fondasi kuat bagi gerakan masyarakat sipil. Dalam aksi tersebut, mereka meminta adanya dialog dengan pimpinan BGN serta mendorong perbaikan tata kelola pelaksanaan MBG agar keberlangsungan program itu tetap memberikan manfaat bagi masyarakat luas, khususnya pelaku usaha mikro yang menjadi mitra program.

Perbaikan tata kelola yang diminta oleh para peserta mencakup berbagai aspek, mulai dari transparansi dalam pengelolaan dana hingga keadilan dalam distribusi peluang bagi usaha mikro. Mereka berharap bahwa program MBG tidak hanya menjadi simbol politik, melainkan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kecil. Key Strategy ini menjadi panduan dalam setiap langkah perjuangan mereka. Dengan demikian, program ini dapat menjadi contoh bagi program-program pemerintah lainnya dalam melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Ahmad Yazdi juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil. Ia berharap bahwa gerakan ini tidak hanya berhenti pada aksi damai, melainkan terus berlanjut melalui berbagai mekanisme yang tersedia. Key Strategy ini menjadi fondasi kuat bagi gerakan masyarakat sipil. Dengan demikian, suara masyarakat kecil akan terus terdengar dan diperjuangkan hingga tercapai tujuan bersama. Key Strategy ini akan terus diterapkan dalam setiap langkah selanjutnya.