Harga Kedelai Naik, DKI Imbau Warga Sesuaikan Kebutuhan Pangan
Jakarta – Kenaikan harga kedelai belakangan ini memaksa Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, memberikan arahan kepada masyarakat. Ia menyarankan agar warga Jakarta menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangan dengan menggunakan bahan-bahan alternatif yang tetap sehat namun lebih murah.
“Dengan melakukan diversifikasi pangan, masyarakat bisa meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai,” ujar Hasudungan di Jakarta, Kamis.
Selain itu, ia mengusulkan masyarakat untuk mencoba pertanian perkotaan sebagai langkah adaptasi. Menurutnya, metode ini bisa meningkatkan ketahanan pangan di tingkat keluarga secara mandiri.
Di sisi lain, kenaikan harga kedelai terasa nyata di pasar tradisional. Harga per kilogram di tingkat pedagang berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000, naik dari sebelumnya Rp13.000 hingga Rp18.000. Di tingkat pengrajin tahu dan tempe, harga kedelai mencapai Rp10.500 hingga Rp11.000 per kg, dari Rp8.000 hingga Rp8.600 sebelumnya.
Pengrajin Keripik Tempe Terdampak Kenaikan Harga
Kenaikan harga kedelai juga memengaruhi pengrajin keripik tempe. Di Jakarta Selatan, produsen keripik tempe Kramat Pela, Joko Asori (57), mengungkapkan harga produknya meningkat dari Rp65.000 per kilogram menjadi Rp70.000 per kg.
“Harga keripik tempe saat ini mencapai Rp19 ribu per bungkus 250 gram,” kata Joko di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, kenaikan harga kedelai mulai dirasakan sejak Februari 2026, saat harga per kuintal mencapai Rp930.000. Pada April 2026, harga melonjak hingga Rp1.100.000, bahkan lebih.
Menurut Joko, lonjakan harga bahan baku ini menyebabkan pengrajin tempe dan tahu kesulitan mengurangi biaya produksi. “Naiknya hampir Rp200.000 per kuintal,” tambahnya.
Dalam upaya mengatasi kenaikan biaya, Joko mengatakan produsen keripik tempe memangkas berat produk. “Misalnya, yang semula sekilonya Rp12.500, kini dijual dengan berat 970 gram, dikurangi 30 gram,” ujarnya.
Ia berharap konsumen tetap setia dan memahami perubahan harga ini. Joko juga menyoroti perlunya dukungan pemerintah untuk UMKM lokal yang terdampak.
