Indo Crowd Funding
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Peran pemangku kepentingan dalam ekosistem budaya dinilai perlu dirumuskan

Published 20 Oktober, 2026 · Updated 20 Oktober, 2026 · By Jessica Jones - indocrowdfunding.com

Foto : Jessica Jones - indocrowdfunding.com

Peran Pemangku Kepentingan dalam Ekosistem Budaya Jakarta

Indocrowdfunding.com – Peran pemangku kepentingan dalam ekosistem budaya dinilai perlu dirumuskan secara jelas agar perkembangan budaya di Jakarta dapat berjalan berkelanjutan. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta menilai kolaborasi berbagai pihak penting untuk menjawab sejumlah tantangan, terutama dalam penyelenggaraan festival internasional dan penguatan pengalaman budaya di ibu kota.

Kepala Bappeda Provinsi DKI Jakarta Atika Nur Rahmania mengatakan, dari sudut pandang perencanaan masih terdapat sejumlah persoalan yang harus diidentifikasi dan diselesaikan bersama. Tantangan tersebut berkaitan dengan dimensi budaya Jakarta, termasuk kualitas kurasi kegiatan yang belum selalu konsisten serta kalender acara yang masih terfragmentasi dan belum berkelanjutan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa kegiatan budaya tidak cukup hanya dilihat sebagai agenda tunggal. Festival, pertunjukan seni, wisata, kegiatan olahraga, dan kehadiran digital perlu terhubung dalam arah pengembangan yang sama. Dengan pengelolaan yang lebih terpadu, berbagai aktivitas tersebut dapat saling memperkuat citra Jakarta sebagai kota dengan kehidupan budaya yang dinamis.

Pemerintah sebagai Pemantik Kolaborasi

Menurut Atika, peran pemangku kepentingan dalam ekosistem budaya perlu disusun dengan melibatkan pemerintah, pelaku seni, komunitas, penyelenggara acara, sektor swasta, dan masyarakat. Pemerintah diharapkan berada pada tahap awal sebagai pemantik, pemicu, sekaligus pendorong agar ekosistem dapat bergerak dan bekerja secara berkesinambungan.

“Pemerintah harusnya berada di awal sebagai pemantik, pemicu, dan kemudian juga sebagai pendorong, sehingga ekosistem ini bergerak dan bekerja,” ujar Atika.

Perumusan peran tersebut menjadi penting karena pengembangan budaya membutuhkan kerja bersama, bukan capaian yang berdiri sendiri. Pemerintah dapat membantu menciptakan arah dan dukungan, sementara para pelaku dalam ekosistem dapat memperkuat kualitas program, kreativitas, serta keberlanjutan kegiatan. Kolaborasi yang terencana juga dapat membantu mengurangi fragmentasi agenda budaya yang selama ini menjadi tantangan.

Dalam konteks festival internasional, kualitas kurasi menjadi salah satu unsur yang perlu diperhatikan. Kurasi yang konsisten dapat membuat kegiatan memiliki identitas yang lebih kuat dan pengalaman yang lebih bermakna bagi pengunjung. Selain itu, kalender kegiatan yang saling terhubung memungkinkan publik, wisatawan, dan pelaku industri kreatif memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai agenda budaya Jakarta sepanjang tahun.

Budaya dan Posisi Jakarta sebagai Kota Global

Atika menilai budaya memiliki peran penting dalam menentukan posisi Jakarta sebagai kota global. Dalam Global City Index, salah satu dimensinya adalah pengalaman budaya dengan rasio 15 persen. Pengalaman budaya tersebut mencakup seni visual dan pertunjukan, wisatawan mancanegara, kegiatan olahraga, hingga kehadiran daring.

Karena itu, peran pemangku kepentingan dalam ekosistem budaya tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan acara, tetapi juga dengan upaya membangun pengalaman kota secara menyeluruh. Panggung budaya yang dikelola dengan baik dapat memperluas daya tarik Jakarta, baik bagi warga maupun pengunjung dari luar negeri. Kehadiran kegiatan yang teratur dan berkualitas juga dapat memperlihatkan kekuatan budaya Jakarta dalam persaingan antarkota dunia.

Pengelolaan ekosistem yang menaungi berbagai panggung budaya dinilai dibutuhkan agar posisi Jakarta dapat terus meningkat. Setiap aspek, mulai dari seni, pariwisata, olahraga, hingga ruang digital, dapat berkontribusi apabila diarahkan dalam kerangka yang saling mendukung. Pendekatan ini juga membuka peluang bagi pelaku budaya untuk berpartisipasi dalam pengembangan kota.

Berdasarkan Global Cities Index 2025 yang dirilis lembaga internasional Kearney, Jakarta naik dari peringkat 74 menjadi peringkat 71 dunia dari total 158 kota. Kenaikan tersebut menjadi gambaran bahwa penguatan berbagai dimensi kota, termasuk budaya, perlu terus dilakukan secara terintegrasi.

FAQ tentang Ekosistem Budaya Jakarta

Mengapa peran pemangku kepentingan perlu dirumuskan?

Perumusan peran diperlukan agar setiap pihak memahami kontribusinya dalam mengembangkan kegiatan budaya. Pembagian peran yang jelas dapat membantu menciptakan kolaborasi yang lebih terarah serta mendukung keberlanjutan agenda budaya.

Apa tantangan budaya yang disoroti Bappeda DKI Jakarta?

Tantangan yang disoroti mencakup kualitas kurasi festival internasional yang belum konsisten serta kalender kegiatan yang masih terfragmentasi dan belum berkelanjutan.

Bagaimana budaya mendukung Jakarta sebagai kota global?

Budaya berkontribusi terhadap pengalaman kota melalui seni visual, pertunjukan, wisatawan mancanegara, kegiatan olahraga, dan kehadiran daring. Pengelolaan yang baik dapat memperkuat daya tarik Jakarta dalam jajaran kota global dunia.

Related Reading