Perang Iran Belum Kelar, Israel Mau Caplok Wilayah Negara Arab Ini

Jakarta, CNBC Indonesia – Netanyahu, Perdana Menteri Israel, berjanji akan terus menyerang Iran hingga konflik berakhir, sementara pihak Israel mengumumkan rencana menguasai sebagian area selatan Lebanon untuk membentuk “zona penyangga defensif”. Pernyataan ini mengurangi peluang deeskalasi, meski presiden AS Donald Trump menyatakan masih ada kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri pertikaian.

Dalam pertemuan dengan kepala staf militer, sebagaimana dilaporkan The Guardian, Kamis (26/3/2026), Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut pasukan negara akan “mengendalikan jembatan-jembatan yang tersisa dan zona keamanan hingga Sungai Litani”. Ia merujuk pada sungai yang bermuara ke Laut Mediterania, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel. Katz menegaskan bahwa semua jembatan di atas Sungai Litani, yang dianggap sebagai jalur penting Hizbullah, “telah diledakkan dan pasukan Israel akan mengendalikan yang tersisa”.

“Masih banyak lagi yang akan datang,” ujar Netanyahu, yang sejalan dengan pandangan tiga pejabat Israel yang memperkirakan Iran kurang mungkin menerima tuntutan AS dalam negosiasi putaran berikutnya.

Komando Garda Revolusi Islam Iran, dalam pernyataan Selasa, mengancam akan meluncurkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke wilayah Israel utara dan dekat Gaza “tanpa pengekangan” jika negara itu tidak menghentikan serangan di Lebanon serta Palestina.

Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan sayap kanan Israel Bezalel Smotrich mengungkap visi ekspansionis dengan menyatakan bahwa Israel harus “menerapkan kedaulatan” di wilayah selatan Lebanon. Pernyataan ini memicu kekhawatiran internal dan eksternal, sekaligus menunjukkan keinginan untuk memperluas pengaruh militer.

Lebanon semakin terlibat dalam konflik regional ketika Israel melakukan bombardir dan bertarung dengan Hizbullah di selatan. Pemerintah negara tersebut mengusir duta besar Iran, Mohammad Reza Shibani, dengan menyatakannya sebagai persona non grata, memaksa diplomat itu meninggalkan tanah air sebelum Minggu. Tindakan ini menunjukkan pergeseran dari pengaruh Iran yang berlangsung puluhan tahun.

Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menginginkan Hizbullah menghentikan serangan terhadap Israel, mengatakan bahwa membalas kepemimpinan Iran “tidak ada hubungannya dengan kita”. Hizbullah mengecam keputusan tersebut sebagai langkah yang memihak Israel dan memperdalam perpecahan.

Dalam situasi yang semakin rumit, Dubes Saudi mengungkap keputusan terkait nasib ibadah haji 2026, sementara pihak Iran menganggap respons Trump sebagai “skakmat” terhadap usaha perdamaian. Pernyataan ini mencerminkan ketegangan antara upaya mediasi AS dan ambisi militer negara-negara Arab lainnya.

Ada Perang, Dubes Saudi Ungkap Nasib Ibadah Haji 2026-Ini Keputusannya