Mengenal Pulau Qeshm, Kunci Strategis Iran di Perang Lawan AS-Israel
Pulau Qeshm, yang terletak di Selat Hormuz, menjadi sorotan internasional setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas. Sebagai pulau terbesar di Teluk Persia, tempat ini kini tidak hanya dikenal karena keindahannya alamiah, tetapi juga sebagai benteng pertahanan yang penting bagi Iran. Laporan Al Jazeera menjelaskan bahwa Qeshm berada sekitar 22 km dari Bandar Abbas dan memiliki luas sekitar 1.445 km persegi.
Posisi Geografis dan Strategis
Pulau ini memegang peran kritis dalam mengontrol jalur utama ke Selat Hormuz, yang merupakan rute distribusi energi global terpenting. Dengan lokasi yang ideal, Qeshm menjadi titik strategis bagi negara-negara besar sepanjang sejarah, termasuk Portugis dan Inggris, yang mengincarnya karena ketersediaan sumber air dan peran perdagangan yang vital.
Dalam konteks konflik terkini, Qeshm berubah menjadi wilayah pertahanan utama Iran. Analis militer menggambarkannya sebagai “kapal induk yang tak bisa digoyahkan”, yang berfungsi sebagai basis untuk operasi perang asimetris Teheran. Pensiunan Brigadir Jenderal Lebanon, Hassan Jouni, menyatakan bahwa pulau ini menyimpan “kemampuan Iran yang luar biasa” melalui jaringan fasilitas bawah tanah, yang disebut “kota rudal”.
“Sistem ini dirancang untuk mengendalikan atau bahkan menutup Selat Hormuz,” ujar Hassan Jouni.
Kontroversi muncul setelah serangan udara AS pada 7 Maret, yang menargetkan fasilitas desalinasi di Qeshm. Pemerintah Iran menyebut tindakan tersebut sebagai “kejahatan terang-terangan” karena mengganggu pasokan air bersih ke sekitar 30 desa. Sebagai reaksi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan serangan ke pangkalan militer AS di Bahrain, yang dianggap sebagai pusat peluncuran serangan ke Qeshm.
Dampak pada Aliran Energi Global
Langkah ini langsung memengaruhi lalu lintas energi internasional. Iran sempat mengancam untuk menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz, hampir menghentikan pengiriman minyak dan gas. Saat ini, hanya sedikit kapal yang boleh melewati wilayah tersebut setelah negosiasi antara Teheran dan pemerintah Trump. Konvoi militer menjadi solusi untuk menjaga keamanan jalur energi.
Di balik ketegangan militer, Qeshm tetap memiliki nilai sejarah yang kaya. Wilayah ini pernah dikenal dengan nama-nama seperti Oaracta dari penjelajah Yunani atau Abarkawan dalam catatan geografi Islam. Kini, sekitar 148.000 penduduk tinggal di sana, menghadapi ironi antara keindahan alam dan ancaman konflik modern.
Kekayaan Ekosistem dan Warisan Geologi
Pulau ini juga dikenal karena ekosistem uniknya, seperti hutan bakau Hara dan Geopark Qeshm yang diakui UNESCO. Dengan posisi strategis dan kekuatan militer yang terus berkembang, Qeshm berperan sebagai episentrum baru dalam persaingan pengendalian energi abad ke-21.
