Karir Militer Try Sutrisno: Dari Kegagalan di Tes Fisik hingga Jabatan Tinggi

Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden keenam Indonesia, meninggal dunia pada usia 90 tahun. Ia wafat setelah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, selama sekitar dua minggu akibat dehidrasi. Meninggalkan jejak keberhasilan yang membanggakan, karier militer Try dimulai dari dasar hingga mencapai puncaknya.

Masa Muda dan Awal Karir

Sebelum menembus posisi strategis, Try Sutrisno mengalami kegagalan di ujian fisik saat mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) tahun 1959. Namun, kejadian itu justru menjadi titik balik. Mayjen Gusti Pangeran Harya (GPH) Djatikusumo, Kasad pertama sejak 1948, memperhatikan sosoknya dan memanggil Try untuk mengikuti tes psikologis di Bandung. Setelah lulus, ia membangun kariernya dari akar rumput, dengan dimulai aktif tugas di Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur.

Di ATEKAD, Try bertemu dengan Benny Moerdani, yang kemudian menjadi teman dekat. Pada 1957, ia sempat terlibat dalam operasi perang melawan gerakan PRRI, kelompok separatis di Sumatra. Ketekunan dan semangatnya akhirnya membawa ia naik ke level lebih tinggi.

Jabatan Tertinggi sebagai Panglima ABRI

Dari tahun 1972 hingga 1974, Try menjalani pelatihan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Perannya sebagai ajudan Soeharto mempercepat kariernya. Setelah tiga tahun mengemban tugas tersebut, ia ditugaskan menjadi Panglima Kodam XVI/Udayana pada 1978. Satu tahun kemudian, posisinya melompat menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya.

Dalam periode jabatannya, Try tidak hanya bertugas militer tetapi juga aktif dalam kampanye konservasi gajah Sumatra serta menangkal penyelundupan timah. Pada 1982, ia dipercayakan menjadi Panglima Kodam V/Jaya di Jakarta. Tahun 1986, Try Sutrisno memegang jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), sementara pada 1988-1993, ia menjadi Panglima ABRI.

Dalam sebuah pidato, Prabowo menyebutkan bahwa Try Sutrisno bukan sosok ambisius yang tidak segan menggunakan cara apa pun untuk meraih jabatan. Ia mengakui bahwa karirnya di dunia militer lebih pada prestasi dan integritas.

Kisah Pribadi dan Jejak Pengabdian

Try Sutrisno mengungkapkan bahwa ia tidak pernah bermimpi menjadi Wakil Presiden. Setelah pensiun dari ABRI, ia ingin fokus pada keluarga, tetapi nasib berubah. Meninggal di RSPAD Gatot Subroto pada Senin 2 Maret 2026 pukul 07.00 WIB, ia meninggalkan warisan besar dalam sejarah TNI dan bangsa Indonesia.

Dalam upacara pemakaman, jenazah Try Sutrisno akan disalatkan di Masjid Sunda Kelapa, lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Sebelum wafat, ia sempat mencicil rumah dinas selama 15 tahun karena tidak memiliki dana tunai. Meski menjabat Panglima ABRI, ia tetap menjaga sifat sederhana.

Dua putra Try Sutrisno, Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi dan Letjen Kunto Arief Wibowo, melanjutkan jejak sang ayah. Karier militer Try, yang dimulai dari kegagalan, berubah menjadi penghargaan luar biasa bagi bangsa. Ia adalah contoh nyata tentang perjuangan dan ketekunan yang berbuah keberhasilan.

“Siapa sangka bocah penyemir sepatu itu menjadi Panglima,” kata Prabowo dalam pidatonya, menyoroti perjalanan Try dari posisi rendah hingga mencapai puncak karier militer.