Prabowo Jelaskan Diplomasi BoP ke Ulama

Pertemuan yang diadakan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis malam (5/3), menjadi kesempatan untuk mendiskusikan langkah-langkah Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP). Selama pertemuan tersebut, Prabowo Subianto menjelaskan strategi diplomasi yang diterapkan oleh pemerintah. Hadir dalam forum silaturahmi ini, di antaranya Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal Muhadjir Effendy, Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid, serta Ketua Umum Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf.

Dalam kesempatan itu, Muhadjir Effendy mengatakan bahwa Presiden Prabowo menjelaskan latar belakang pengambilan keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BoP. Menurutnya, langkah tersebut bukan diambil secara mendadak, tetapi melalui komunikasi intensif dengan pemimpin negara-negara di wilayah Timur Tengah, khususnya Teluk. “Beliau menegaskan bahwa keterlibatan di BoP melalui proses panjang, sudah dibicarakan dengan beberapa pemimpin negara yang ada di wilayah tersebut,” tutur Muhadjir.

“Setelah lama berada di luar, sekarang kita mencoba berjuang dari dalam. Insya Allah, apa yang akan beliau lakukan nanti tetap dalam koridor konstitusi Indonesia, terutama pembukaan UUD, serta tetap berkomitmen pada tujuan awal, yaitu terciptanya dua negara yang damai, Palestina dan Israel,” ujarnya.

Muhadjir menambahkan bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina tetap menjadi prioritas pemerintah. “Kita harus terus berupaya apapun resikonya, agar tujuan BoP terwujud. Di perjanjian 20 poin, poin 19 dan 20 jelas menyatakan bahwa BoP bertujuan menciptakan negara Palestina yang berdampingan dengan Israel,” jelasnya.

Sementara itu, Nusron Wahid mengatakan pemerintah tetap terbuka terhadap kritik publik terkait partisipasi Indonesia di BoP. Namun, ia menekankan bahwa jalur diplomasi tetap dipilih sebagai strategi utama untuk menyelesaikan konflik. “Diplomasi ini dianggap jalan terbaik untuk menciptakan perdamaian, bukan melalui peperangan,” tuturnya.

“Kalau ada saran yang menyarankan hal lain, pemerintah tidak anti kritik. Kita mendengarkan sambil menganalisis situasi, lalu membuktikan di lapangan bahwa BoP bisa menjadi solusi,” katanya.

Yahya Cholil Staquf juga menyatakan bahwa kehadiran Indonesia di BoP bisa dimanfaatkan untuk mendorong penurunan eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. “Jika perlu, Indonesia bisa menawarkan agar agenda BoP dijeda hingga ada pembicaraan untuk deeskalasi dan perdamaian perang Amerika-Israel melawan Iran,” imbuhnya.

“Forum ini berpotensi menjadi alat diplomasi yang efektif, mendorong terjadinya perdamaian lebih luas di kawasan,” jelasnya.