Key Discussion: Megawati terima kunjungan Dubes Korsel dan UEA di kediamannya

Key Discussion: Megawati Terima Dubes Korsel dan UEA

Key Discussion – Senin petang menjadi momen penting bagi Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima RI dan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Di kediaman resminya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, beliau menerima kunjungan dari dua duta besar secara terpisah. Kunjungan pertama dilakukan oleh Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Yoon Soon-gu, kemudian disusul oleh Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA), Abdulla Salem Obaid Al Dhaheri.

Key Discussion dengan Duta Besar Korea Selatan

Pertemuan dengan Dubes Yoon Soon-gu dihadiri oleh beberapa tokoh PDIP. M. Prananda Prabowo, putra Megawati yang juga Ketua DPP PDIP, mendampingi sang ibu. Rokhmin Dahuri dan Ahmad Basarah sebagai anggota DPP PDIP juga hadir. Dubes Yoon mengungkapkan kekagumannya terhadap ruangan pertemuan di kediaman Megawati yang menyimpan sejarah bangsa.

Dubes Yoon merasa sangat beruntung dapat bertemu langsung dengan keluarga Soekarno. Pernyataan beliau mencerminkan rasa hormat yang mendalam terhadap sejarah Indonesia. Pertemuan ini menjadi bagian dari Key Discussion yang membahas berbagai isu strategis regional.

“Saya terhormat karena hari ini bisa bertemu Ibu Megawati dan bisa berkunjung ke ruangan ini. Sejarah bangsa Indonesia ada di ruangan ini. Saya melihat banyak foto Presiden Soekarno, foto Ibu Megawati dan saya bertemu dengan Ibu dan anak Ibu secara langsung,” kata Dubes Yoon dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Megawati dan Prananda Prabowo tersenyum mendengar ucapan tersebut. Pembahasan kemudian beralih ke isu Semenanjung Korea. Dubes Yoon sangat mengapresiasi perhatian yang diberikan Megawati terhadap situasi di Korea. Pengalaman, keahlian, serta kedekatan Megawati dengan kedua negara Korea menjadi modal berharga sebagai perantara dialog damai.

“Ibu Mega punya pengalaman, keahlian serta kedekatan dengan dua negara yakni Korea Utara dan Korea Selatan. Sehingga menjadi modal sebagai perantara bagi kedua negara untuk mau bersama melakukan dialog damai di meja perundingan,” sebut Dubes Yoon.

Dubes Korsel menekankan pentingnya dialog dengan Korea Utara tanpa batasan syarat apapun. Megawati kemudian berbagi pengalamannya sebagai utusan perdamaian Korea Selatan pada masa pemerintahan Presiden Kim Dae Jung dari Partai Demokrat. Beliau mengusulkan pertemuan dan reuni antarkeluarga yang terpisah akibat pembagian Korea di garis batas Pamunjon. Selain itu, Megawati juga mendorong kerjasama ekonomi antara kedua negara serumpun tersebut.

Presiden Korea Selatan saat ini berasal dari Partai Demokrat yang sama dengan Kim Dae Jung, sehingga posisi mengenai Semenanjung Korea sejalan dengan pendahulunya. Dubes Yoon menilai Megawati merupakan tokoh ideal sebagai utusan khusus untuk perdamaian kedua Korea. Beliau berjanji akan menyampaikan seluruh hasil pembicaraan kepada Presiden Lee Jae-myung.

Key Discussion dengan Duta Besar UEA

Setelah menerima Dubes Korsel, Megawati melanjutkan agenda dengan menerima kunjungan Duta Besar UEA, Abdulla Salem Al Dhaheri. Pada kesempatan ini, pendamping Megawati bertambah dengan kehadiran Andi Widjajanto sebagai Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat Partai serta Hilmar Farid, Direktur Eksekutif Megawati Institute. Key Discussion kali ini fokus pada penguatan kerjasama bilateral.

Kedekatan antara Megawati dan Dubes Al Dhaheri semakin kuat setelah kunjungan Megawati ke UEA pada awal Februari lalu. Dubes Al Dhaheri menyampaikan salam hangat dari Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

“Terima kasih telah mampir berkunjung ke rumah saya di Abu Dhabi pada Februari lalu. Saya meneruskan salam hangat dari Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Dia tahu pertemuan ini dan mengirimkan salam hangat kepada Ibu,” kata Dubes Al Dhaheri.

Diskusi yang berlangsung mencakup berbagai isu geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. Kedua belah pihak juga membahas peluang kerja sama lebih erat di berbagai sektor. Megawati mendorong penguatan kerjasama antara Pemerintah UEA dengan Megawati Institute, terutama dalam bidang toleransi beragama, Pancasila, serta kajian pemikiran tokoh pendiri bangsa kedua negara.

Dalam kapasitasnya sebagai Dewan Pengarah BRIN, Megawati juga meminta penguatan kerjasama antara BRIN dengan Pemerintah UEA. Salah satu contoh nyata adalah penelitian mangrove yang telah berhasil dilaksanakan di Bali. Kunjungan ini menandai pentingnya peran Megawati sebagai jembatan diplomasi Indonesia dengan negara-negara mitra strategis di Asia dan Timur Tengah. Key Discussion ini membuktikan komitmen Indonesia dalam memperkuat hubungan internasional.