Koops TNI Habema ajak kelompok bersenjata tempuh jalan damai di Papua

Koops TNI Habema Ajak Kelompok Bersenjata Menuju Jalan Damai di Papua

Koops TNI Habema ajak kelompok bersenjata – Jakarta – Komando Operasi Tentara Nasional Indonesia (Koops TNI) Habema mengeluarkan ajakan kepada kelompok bersenjata di wilayah Papua untuk beralih dari aksi kekerasan ke jalan damai. Tujuan utamanya adalah menciptakan lingkungan keamanan yang mendukung berbagai kegiatan publik serta pembangunan di daerah tersebut. Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf. M. Wirya Arthadiguna, dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis, mengungkapkan bahwa keamanan adalah fondasi penting dalam pelaksanaan operasi militer, bukan tujuan akhir. Dengan situasi yang stabil, masyarakat Papua dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari secara normal, termasuk mendapatkan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi.

Aksi Kekerasan dan Harapan untuk Damai

Wirya menjelaskan bahwa upaya untuk mencapai keamanan merupakan langkah awal agar seluruh sektor masyarakat bisa berkembang. “Kami mengajak para saudara kita yang masih memilih jalan kekerasan untuk melihat manfaat dari pendekatan damai,” katanya. Ia menekankan bahwa pintu kembali kepada keluarga, masyarakat, dan kehidupan yang lebih baik selalu terbuka bagi siapa pun yang bersedia mengubah cara berpikir dan berperilaku. Harapan ini ditegaskan dalam rangka menangani konflik yang telah memakan korban, seperti insiden kontak tembak di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.

“Setiap kehilangan nyawa merupakan duka yang tidak kita harapkan. Kami berharap peristiwa seperti ini tidak terus berulang sehingga masyarakat Papua dapat hidup dalam suasana yang aman, damai, dan penuh harapan,” ujarnya.

Menurut Wirya, Papua membutuhkan ruang yang lebih luas untuk pembangunan dibandingkan terus-menerus berada dalam konflik. Ia menambahkan bahwa kegiatan pelayanan publik, seperti pendidikan dan kesehatan, tidak akan berkembang optimal jika masyarakat tetap dalam keadaan tidak tenang. Oleh karena itu, ia mengajak kelompok bersenjata untuk melibatkan diri dalam proses penyelesaian sengketa melalui dialog, bukan tindakan fisik yang memicu kerusakan lebih lanjut.

Detail Insiden Kontak Tembak di Kampung Mamba

Insiden yang terjadi Rabu (1/7) menjadi momentum bagi Koops TNI Habema untuk memberikan pernyataan. Pada malam hari, personel pengamanan mendeteksi empat individu yang bergerak menuju pos keamanan. Setelah memberikan peringatan secara bertahap, aksi mereka tidak direspons, sehingga terjadi tembakan antara pasukan TNI dan kelompok bersenjata sekitar pukul 22.00 WIT. Seorang laki-laki meninggal dunia dalam kejadian tersebut, dan setelah penyisiran dilakukan keesokan harinya, jenazahnya ditemukan bersama sebuah parang.

Berdasarkan identifikasi oleh aparat keamanan, korban diketahui bernama Okto Tigau. Ia disebut sebagai anggota TPNPB-OPM dan menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya. Koops TNI Habema menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Okto Tigau serta berharap insiden serupa tidak terulang. Dalam pernyataannya, Wirya menegaskan bahwa kejadian tersebut adalah bentuk kehilangan nyawa yang tidak terelakkan, tetapi langkah-langkah yang diambil tetap berdasarkan aturan yang berlaku.

“Kami juga mengajak saudara-saudara kita yang masih memilih jalan kekerasan untuk mempertimbangkan opsi damai. Pintu kembali kepada keluarga, masyarakat, dan kehidupan yang lebih baik selalu terbuka,” kata Wirya dalam keterangan resmi.

Pelaksanaan Operasi Berdasarkan Aturan yang Jelas

Wirya menjelaskan bahwa seluruh tindakan yang dilakukan personel Koops TNI Habema mengikuti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang TNI. Undang-undang ini menjadi dasar dalam pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang, serta aturan pelibatan (rules of engagement) yang diterapkan dalam setiap kegiatan lapangan. “Tindakan prajurit dilakukan secara profesional, proporsional, dan akuntabel, dengan tetap memprioritaskan keselamatan masyarakat sipil,” ujarnya.

Dalam konteks operasi, Wirya menekankan pentingnya keselamatan bagi warga sipil sebagai prioritas utama. Ia menyatakan bahwa setiap tembakan atau aksi militer dilakukan hanya untuk menghadapi ancaman yang nyata, tanpa mengorbankan kehidupan masyarakat secara berlebihan. Selain itu, tim gabungan juga memastikan bahwa proses penyisiran dan identifikasi korban dilakukan dengan transparan, sesuai ketentuan yang berlaku. Jenazah Okto Tigau diserahkan kepada tokoh adat setempat untuk penanganan sesuai tradisi dan aturan.

Dengan kejadian di Kampung Mamba, Koops TNI Habema memberikan kesempatan bagi kelompok bersenjata untuk mengambil langkah konkret menuju perdamaian. “Kita perlu menanamkan harapan bahwa perbedaan dapat diselesaikan melalui komunikasi, bukan kekerasan,” imbuh Wirya. Ia berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi semua pihak, termasuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses penyelesaian konflik.

Menurut Wirya, pendekatan jalan damai bukan hanya menguntungkan kelompok bersenjata, tetapi juga mendukung keberlanjutan pembangunan Papua. Dengan lingkungan yang aman, pemerintah dan lembaga pendidikan dapat menjangkau lebih banyak warga, sementara fasilitas kesehatan bisa beroperasi maksimal tanpa gangguan. Ia menegaskan bahwa TNI tidak hanya menjadi penjaga keamanan, tetapi juga mitra yang berperan aktif dalam menciptakan kondisi terbaik bagi masyarakat.

Harapan untuk keadaan yang lebih baik juga menjadi motivasi bagi Koops TNI Habema dalam setiap tindakan mereka. Dengan memperkuat komunikasi dan kerja sama, mereka berupaya membangun kepercayaan antara masyarakat dan institusi keamanan. “Kami terus menekankan bahwa setiap aksi harus berlandaskan prinsip profesionalisme dan keadilan,” tambah Wirya. Ia menekankan bahwa penegakan hukum dan pencegahan konflik adalah bagian dari upaya menyeluruh untuk kesejahteraan wilayah Papua.

Koops TNI Habema yakin bahwa jalan damai adalah solusi jangka panjang untuk konflik di Papua. Dengan mengubah pola kehidupan dari kekerasan ke dialog, masyarakat bisa kembali merasakan kebebasan dan kestabilan. Pernyataan tersebut sejalan dengan visi pemerintah untuk Papua yang lebih harmonis, sejahtera, dan berkeadilan. Ia berharap kejadian di Kampung Mamba menjadi titik balik bagi kelompok bersenjata untuk berubah arah dan membangun masa depan yang lebih baik bersama.