Panglima pastikan TNI AU kelola lahan 236.048 hektar jadi kebun tebu

TNI AU Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Ekspansi Perkebunan Tebu Nasional

Panglima pastikan TNI AU kelola lahan 236 – Jakarta – Upaya strategis untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia terus digalakkan oleh Tentara Nasional Indonesia. Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, mengumumkan bahwa jajaran militer ini akan memaksimalkan pemanfaatan lahan seluas 236.048 hektar yang dialokasikan khusus untuk pengembangan perkebunan tebu. Inisiatif besar ini merupakan bagian dari komitmen TNI untuk mendukung program prioritas pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kolaborasi Strategis untuk Musim Panen 2026

Dalam kerangka kerja sama yang komprehensif, TNI Angkatan Udara telah menjalin sinergi dengan berbagai pihak, termasuk Sinergi Gula Nusantara, sektor swasta, serta asosiasi petani. Kolaborasi multidimensi ini bertujuan untuk mendampingi seluruh lahan yang telah ditetapkan pada musim panen tahun 2026 mendatang. Potensi produksi yang diharapkan dari program ini mencapai angka yang sangat signifikan, yaitu 18,386 juta ton tebu.

Panglima TNI menyampaikan informasi ini secara langsung saat memberikan paparan resmi di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Acara Panen Raya Serentak yang diselenggarakan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada hari Jumat menjadi momentum penting untuk mengkomunikasikan rencana strategis ini kepada publik dan para pemangku kepentingan.

“TNI Angkatan Udara bersama Sinergi Gula Nusantara, swasta, dan asosiasi petani pada musim panen tahun 2026 ini mendampingi lahan seluas 236.048 hektar dengan potensi produksi 18,386 juta ton tebu,” kata Agus saat memberikan paparan di depan Prabowo di acara Panen Raya Serentak di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat.

Kontribusi Signifikan terhadap Target Gula Nasional

Agus Subiyanto menjelaskan lebih lanjut bahwa dari pengelolaan lahan yang sangat luas tersebut, TNI AU diperkirakan mampu menghasilkan 1,36 juta ton gula. Angka produksi ini bukan sekadar pencapaian biasa, melainkan diklaim setara dengan kontribusi sebesar 45,05 persen terhadap target gula nasional yang ditetapkan untuk tahun 2026. Pencapaian ini akan memberikan dampak positif yang besar bagi stabilitas pasokan gula di dalam negeri.

Lahan tebu yang dikelola oleh TNI AU tidak terpusat di satu wilayah saja, melainkan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mayoritas dari lahan tersebut dikelola oleh jajaran lanud di daerah masing-masing, menciptakan jaringan produksi yang terdesentralisasi namun terkoordinasi dengan baik. Pendekatan ini memungkinkan efisiensi logistik dan distribusi yang lebih optimal.

Contoh Nyata di Lanud Abdulrachman Saleh

Salah satu contoh konkret dari program ini adalah Lanud Abdulrachman Saleh yang saat ini akan diresmikan oleh Panglima TNI bersama Presiden Prabowo. Fasilitas ini menjadi salah satu pusat pengelolaan tebu yang paling penting dalam jaringan nasional. Luas lahan siap panen di fasilitas ini mencapai 800,5 hektar dengan estimasi hasil mencapai 72.045 ton.

“Di Lanud Abdulrachman Saleh yang akan langsung dipimpin oleh Bapak Presiden, luas siap panen mencapai 800,5 hektar dengan estimasi hasil 72.045 ton dengan nilai diterima pabrik rata-rata 720.000 per ton,” kata Agus.

Dampak Jangka Panjang bagi Kemandirian Nasional

Agus Subiyanto memastikan bahwa program pengelolaan tebu yang dilakukan oleh TNI AU ini akan terus berlanjut dalam jangka panjang. Program ini dirancang tidak hanya sebagai inisiatif sementara, melainkan sebagai strategi berkelanjutan guna mendukung kemandirian negara terhadap kebutuhan gula. Dengan demikian, TNI diharapkan mampu berkontribusi secara signifikan dalam memperkuat stok pangan nasional.

Program ini juga mencerminkan transformasi peran TNI dari sekadar lembaga pertahanan menjadi mitra strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Melalui pemanfaatan lahan yang efisien dan kolaborasi dengan sektor swasta, TNI AU telah membuktikan bahwa pendekatan militer dapat memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Keberlanjutan program ini akan menjadi indikator penting dalam mengukur keberhasilan strategi ketahanan pangan Indonesia di masa depan.