Special Plan: Komisi XIII sebut program ketahanan pangan Imipas jadi terobosan
Transformasi Pemasyarakatan Melalui Inovasi Program Ketahanan Pangan di Lapas Warungkiara
Special Plan – Jakarta – Komisi XIII DPR RI, dalam kunjungannya ke Lapas Kelas IIA Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, memberikan apresiasi terhadap upaya Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) dalam mewujudkan model pemasyarakatan modern. Wakil Ketua Komisi XIII, Dewi Asmara, menyoroti bahwa program ketahanan pangan yang dijalankan lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia menjadi terobosan baru dalam peningkatan kualitas layanan dan integrasi warga binaan ke masyarakat.
Dalam kunjungan yang dilaksanakan Rabu (26 Januari 2026), Dewi mengungkapkan bahwa transformasi yang dilakukan oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto tidak hanya memberikan manfaat bagi para warga binaan, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. “Pemasyarakatan kini tidak hanya fokus pada integrasi warga binaan ke masyarakat, tetapi sudah mampu melibatkan mereka secara langsung dalam berbagai kegiatan sosial,” jelas Dewi. Ia menambahkan bahwa program ini membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan bisa menjadi wadah untuk berkontribusi secara nyata kepada lingkungan sekitar.
“Jadi biasanya yang melakukan CSR itu biasanya BUMN, Tapi ini para warga binaan dengan ketahanan pangan, dengan bimbingan arahan Pak Menteri dan Pak Dirjen sudah bisa bermanfaat di seluruh Indonesia,”
Dalam kegiatan bakti sosial yang dihadiri Dewi, ia menyaksikan beberapa proyek yang menunjukkan kemajuan di Lapas Warungkiara. Salah satunya adalah pengerjaan bedah rumah yang dilakukan warga binaan. Rumah-rumah yang sebelumnya tidak layak huni kini telah diubah menjadi tempat tinggal yang lebih nyaman, termasuk masjid di Kampung Warungkiara yang menjadi bagian dari lingkungan Lapas tersebut. Program ini, kata Dewi, merupakan hasil dari panen raya yang dilakukan warga binaan dalam rangka meningkatkan produksi pangan secara mandiri.
Proyek bedah rumah tersebut menggunakan bahan konstruksi yang unik. Dalam pengerjaannya, warga binaan memanfaatkan batako press, paving blok, serta struktur dari limbah sisa pembakaran batu bara, yaitu fly ash dan bottom ash (FABA). Bahan-bahan ini diproduksi oleh warga binaan di Lapas Kelas I Tangerang. “Penggunaan material yang dihasilkan oleh warga binaan menunjukkan komitmen mereka dalam mengoptimalkan sumber daya lokal,” tutur Dewi. Ia juga menyoroti bahwa pengerjaan proyek ini diselesaikan dalam waktu 19 hari, dengan melibatkan para warga binaan secara aktif.
Dewi menyebut bahwa keberhasilan program ini tidak hanya menjadi contoh nyata transformasi pemasyarakatan, tetapi juga mendukung visi Astacita Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. “Kita seringkali melihat sisi negatif dari lapas, tetapi hari ini kita bisa melihat bagaimana lembaga tersebut bisa menjadi pusat kegiatan positif,” kata politisi perempuan itu. Ia berharap media dapat memberikan liputan yang lebih seimbang, agar masyarakat lebih mengenal peran lapas dalam pembangunan sosial.
Kemenimipas, menurut Dewi, telah melakukan berbagai upaya untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke masyarakat. Selain program ketahanan pangan, lembaga tersebut juga mengembangkan berbagai kegiatan seperti peternakan ayam petelur, domba, sapi, serta budidaya sayuran dan hortikultura. “Hasil dari program ketahanan pangan ini menjadi pangan yang memenuhi kebutuhan warga binaan, dengan sebagian besar berasal dari setiap lapas yang memiliki tanah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sekitar 50 persen bahan makanan untuk warga binaan di Lapas Warungkiara dihasilkan secara mandiri.
Dewi menekankan bahwa program ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup warga binaan, tetapi juga menciptakan keterlibatan langsung mereka dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. “Dengan kegiatan seperti ini, para warga binaan bisa berperan sebagai agen perubahan yang memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar,” katanya. Ia juga meminta Kemenimipas terus memperkuat inovasi dalam bidang ketahanan pangan dan kepedulian sosial, agar transformasi yang dilakukan tetap berjalan harmonis.
Dalam kunjungan tersebut, Dewi mengapresiasi kontribusi Menteri Agus Andrianto dalam memimpin program ketahanan pangan. Ia menilai, inisiatif ini tidak hanya mengubah wajah lapas, tetapi juga memberikan harapan bagi warga binaan yang ingin kembali menjadi bagian dari masyarakat. “Kemenimipas mampu menunjukkan bahwa pemasyarakatan bisa menjadi ruang untuk berkontribusi kepada negara dan masyarakat,” pungkas Dewi.
Program Pemanfaatan Limbah dan Kontribusi Sosial
Kemenimipas menggencarkan program pemanfaatan limbah dalam pembangunan infrastruktur lapas. Bahan konstruksi seperti FABA yang diproduksi oleh warga binaan di Lapas Kelas I Tangerang menjadi salah satu contoh nyata inovasi dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Selain itu, program ini juga mengurangi dampak lingkungan dari limbah batu bara, yang biasanya dianggap sebagai sampah.
Menurut Dewi, pendekatan ini menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat hukuman, tetapi juga bisa menjadi pusat kreativitas dan pembelajaran. “Program ini memperlihatkan bagaimana warga binaan tidak hanya diberi kesempatan belajar, tetapi juga diberdayakan untuk berkontribusi kepada masyarakat,” jelasnya. Ia menilai bahwa keberhasilan Lapas Warungkiara dalam melaksanakan program ketahanan pangan menjadi model yang bisa diikuti oleh lapas lain di seluruh Indonesia.
Kemenimipas, kata Dewi, terus berupaya untuk memperkuat keberlanjutan program ketahanan pangan. Ia menegaskan bahwa inovasi ini memberikan dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan warga binaan. “Kita bisa melihat bahwa pemasyarakatan kini berorientasi pada pemulihan, bukan hanya penjara,” ujarnya. Ia menyebut bahwa program ini memberikan momentum bagi kehidupan sosial warga binaan, dengan melibatkan mereka dalam kegiatan yang bermanfaat bagi sekitarnya.
Komitmen Terhadap Keterpaduan Sosial dan Ekonomi
Dewi Asmara menyoroti bahwa keberhasilan Lapas Warungkiara menjadi bukti bahwa pemasyarakatan bisa menjadi bagian dari solusi masalah pangan dan ekonomi di daerah. Ia menegaskan bahwa program ini memperlihatkan bagaimana warga binaan tidak hanya diubah secara moral, tetapi juga secara ekonomi. “Dengan membangun ketahanan pangan, mereka bisa memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dalam perekonomian masyarakat,” kata Dewi.
Ia juga menyebut bahwa Kemenimipas menggandeng berbagai pihak untuk memastikan program ini berjalan efektif. Dalam pengerjaan proyek bedah rumah, misalnya, lembaga tersebut bekerja sama dengan warga binaan di Lapas Kelas I Tangerang. “Kolaborasi ini memperkuat upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup warga binaan,” tambahnya. Dewi berharap program serupa bisa dilakukan di lapas lain, agar dampaknya lebih luas.
Menurut Dewi, inisiatif Kemenimipas ini memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Dengan mengubah rumah dan tempat ibadah menjadi lebih layak, lapas tidak hanya menjadi tempat penjara, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan wilayah. “Program ini membuktikan bahwa pemasyarakatan bisa menjadi mitra dalam pembangunan lokal,” ujarnya. Ia menilai bahwa keberhasilan ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan lebih lanjut.
Perspektif Masa Depan Pemasyarakatan
Dewi berharap program ketahanan pangan Kemenimipas menjadi salah satu bentuk keberhasilan yang akan dijadikan dasar untuk pengembangan lebih lanjut. Ia menyebut bahwa transformasi ini perlu terus ditingkatkan agar keberhasilan bisa diperoleh secara berkelanjutan. “Kemenimipas harus tetap menjadi contoh dalam menjalankan transformasi yang inovatif dan berdampak nyata,” pungkas Dewi.
Kemensipas, dalam meninjau proyek-proyek yang dilaksanakan, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari visi pembangunan pemasyarakatan yang modern. Dengan pendekatan ini, para warga binaan tidak hanya diberi kesempatan untuk belajar, tetapi juga diberdayakan dalam berbagai aspek kehidupan. Dewi menyebut bahwa tagline Kemenimipas, “Imipas bergerak prima, pelayanan luar biasa,” menjadi bukti komitmen mereka untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan keberhasilan program.
