Senjata Canggih AS Serang Iran, Incar 1.000 Orang Dalam 24 Jam
Jakarta, CNBC Indonesia – Pentagon tengah mengembangkan sistem senjata canggih yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menyerang Iran. Alat ini dijanjikan mampu menghancurkan seribu korban dalam waktu sehari. Dalam penjelasan, tiga sumber menyebutkan bahwa senjata tersebut adalah Maven Smart Systems, karya Palantir, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan data.
Sistem Maven dianggap mampu memberikan analisis mendalam terhadap data rahasia dari satelit, pengintaian, dan sumber intelijen lainnya. Dengan AI Claude milik Anthropic, alat ini bisa memproses informasi secara real-time untuk menentukan target dan prioritas serangan. Dua sumber tambahan menambahkan bahwa Maven sudah merekomendasikan ratusan lokasi potensial sebelum operasi diluncurkan.
Dalam alat tersebut terdapat AI Claude milik Anthropic dikutip dari Yahoo News, Kamis (5/3/2026).
Sistem ini juga diklaim memiliki kemampuan untuk mempercepat evaluasi dampak serangan setelah diluncurkan. Selain itu, dapat mengurangi kemungkinan Iran melakukan respons militer. Sebelumnya, Claude pernah digunakan dalam menghentikan rencana teror terhadap presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Namun, ini adalah pertama kalinya teknologi tersebut diterapkan dalam operasi besar.
Seorang sumber menjelaskan bahwa Maven, yang terintegrasi dengan Claude, memberikan keunggulan signifikan dalam perencanaan serangan. Meski demikian, posisi Anthropic di AS sedang diperdebatkan. Pentagon sempat melarang penggunaan teknologi mereka akibat kesepakatan ketat tentang pembatasan akses. Trump pun melarang lembaga pemerintah menggunakan alat tersebut beberapa jam sebelum serangan terhadap Iran dimulai.
Menurut laporan, instansi pemerintah diberi tenggat waktu enam bulan untuk mengganti teknologi Anthropic secara bertahap. Dalam proses ini, dua sumber menyatakan bahwa militer AS tetap menggunakan Maven sambil menunggu solusi pengganti.
Terkait hal ini, seorang sumber mengungkapkan bahwa Iran masih menyimpan senjata ampuh untuk mengejutkan Amerika. Dalam inspeksi terbaru, meutya memicu isu ketidakpatuhan Iran terhadap perjanjian. Kebijakan ini juga menyebutkan kemungkinan penggunaan teknologi lain dalam operasi serangan.
