Key Discussion: Kemkomdigi: AI berpotensi jadi “killer content” 5G

Kemkomdigi: AI berpotensi jadi “killer content” 5G

Key Discussion – Jakarta – Dalam upayanya meningkatkan pemanfaatan teknologi 5G di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyoroti kecerdasan buatan sebagai faktor kunci yang bisa mempercepat adopsi jaringan generasi kelima. AI, atau kecerdasan buatan, dianggap memiliki potensi besar untuk menjadi aplikasi utama yang mendorong pertumbuhan layanan digital berbasis kecepatan internet tinggi. Seiring berkembangnya kebutuhan akan konektivitas canggih, Kemkominfo percaya bahwa AI bisa menjadi pendorong utama bagi penerapan 5G di berbagai sektor.

AI Sebagai “Killer Content” yang Mengubah Pola Penggunaan Jaringan

Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kemkominfo, Denny Setiawan, menyampaikan pandangan ini dalam diskusi di ajang Selular Award 2026 di Jakarta, Senin. Menurut Denny, industri telekomunikasi selama ini terus mencari aplikasi yang mampu menjadi penggerak utama adopsi 5G. “Kita selalu berpikir, apa yang bisa menjadi ‘killer content’ 5G? Mungkin AI inilah jawabannya, dan kelihatannya benar,” ujarnya dalam wawancara. Denny menekankan bahwa kemajuan teknologi AI membuka peluang baru untuk mengoptimalkan jaringan 5G, terutama karena karakteristik trafik data yang berbeda dibandingkan era 4G.

“Kita selalu berpikir, apa yang bisa menjadi ‘killer content’ 5G? Mungkin AI inilah jawabannya, dan kelihatannya benar,” kata Denny dalam diskusi Selular Award 2026.

Berbeda dengan layanan 4G yang dominan berupa aktivitas unduh data, penggunaan AI diharapkan menciptakan pola trafik yang lebih kompleks. Denny menjelaskan bahwa AI membutuhkan kapasitas jaringan yang lebih kuat untuk memproses informasi secara real-time dan mengakses data dalam jumlah besar. “Perkembangan AI akan mengubah cara kita menggunakan internet, dari sekadar mengunduh ke aktivitas yang memerlukan interaksi dinamis dan respons cepat,” tambahnya. Karena itu, pemerintah menilai bahwa pengembangan AI dan 5G harus berjalan secara bersamaan agar bisa saling mendukung.

Kemajuan Teknologi AI dan Peluangnya di Era Digital

Denny Setiawan memprediksi bahwa kecepatan pertumbuhan AI di Indonesia akan semakin pesat, terutama dengan adanya pasar digital domestik yang luas. Populasi pengguna internet di wilayah ASEAN mencapai sekitar satu pertiga dari total penduduk, dan ini menjadi fondasi untuk mendorong penggunaan layanan berbasis AI. “Dengan basis pasar yang signifikan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat inovasi teknologi canggih,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan AI di era digital bergantung pada infrastruktur pendukung yang memadai, termasuk ketersediaan spektrum frekuensi, jaringan serat optik, dan pusat data.

Menurut Denny, ekosistem pendukung ini tidak hanya mempercepat pemanfaatan AI, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi digital nasional. Dengan memadukan kecerdasan buatan dan 5G, pemerintah bisa menciptakan nilai tambah di berbagai bidang, seperti pendidikan, bisnis, dan pelayanan publik. Ia mencontohkan bahwa penggunaan AI di bidang pendidikan dapat meningkatkan efisiensi proses belajar-mengajar, sementara di sektor usaha, teknologi ini bisa membantu otomatisasi dan pengambilan keputusan berbasis data.

Peran Infrastruktur dalam Mendukung Integrasi AI dan 5G

Untuk memastikan keberlanjutan penggunaan AI dan 5G, pemerintah terus berupaya memperkuat infrastruktur digital. Hal ini mencakup pengembangan jaringan serat optik, pembangunan kabel laut, serta perluasan akses internet di daerah-daerah terpencil. “Tanpa infrastruktur yang memadai, potensi AI tidak bisa sepenuhnya dimanfaatkan,” jelas Denny. Ia juga menyebutkan bahwa penyediaan spektrum frekuensi yang cukup menjadi prioritas, karena sangat berpengaruh terhadap kinerja jaringan 5G.

Denny menekankan bahwa integrasi AI dengan 5G tidak hanya menjadi tren teknologi, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan nasional. “Kombinasi antara kecerdasan buatan dan jaringan berkecepatan tinggi bisa menciptakan inovasi yang mengubah cara hidup dan kerja masyarakat,” tambahnya. Contohnya, layanan kesehatan bisa lebih efisien dengan bantuan AI untuk diagnostik awal, sementara transportasi bisa ditingkatkan melalui sistem pengaturan lalu lintas yang berbasis data waktu nyata. Dengan demikian, ekosistem digital yang kuat akan menjadi fondasi untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Saya sendiri pakai AI bikin paparan cepat, Pak. Mahasiswa apalagi. Konsultan bisa-bisa, tapi jadi lebih produktif,” ujarnya.

Denny Setiawan juga menyoroti manfaat AI dalam meningkatkan produktivitas di berbagai sektor. Ia menjelaskan bahwa teknologi ini tidak hanya berguna bagi perusahaan besar, tetapi juga bisa diterapkan oleh usaha kecil maupun individu. “AI bisa mempermudah tugas-tugas yang sebelumnya memakan waktu, baik untuk pengusaha maupun masyarakat umum,” tambahnya. Dengan adanya 5G, penggunaan AI bisa lebih efektif karena memungkinkan transfer data yang cepat dan konsisten, sehingga mempercepat proses pengolahan informasi.

Pemimpin Kementerian Komunikasi dan Digital ini yakin, dengan peningkatan infrastruktur dan dukungan kebijakan, AI akan menjadi pendorong utama penggunaan 5G di Indonesia. Ia memproyeksikan bahwa dampak AI akan terasa nyata dalam beberapa tahun ke depan, terutama karena kebutuhan akan layanan digital yang lebih canggih semakin meningkat. “Jika kita bisa menyelaraskan pengembangan AI dan 5G, Indonesia bisa menjadi contoh sukses dalam ekosistem digital yang inovatif,” pungkas Denny. Dengan demikian, pemerintah terus berupaya mendorong kolaborasi antara sektor teknologi dan industri untuk mencapai tujuan tersebut.

Kemkominfo juga menekankan bahwa keberhasilan pemanfaatan AI dalam 5G akan ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam mengadopsi teknologi ini. Dengan memperkenalkan pendidikan digital dan pelatihan keterampilan baru, pemerintah berharap mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi AI. “Dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, akan menjadi kunci untuk membangun ekosistem AI yang berkelanjutan,” tutup Denny. Ia optimis bahwa kecerdasan buatan akan menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia dalam era transformasi digital.