Rusia Diduga Berikan Data Intelijen yang Meningkatkan Akurasi Serangan Iran ke Pangkalan AS
Media Kompas melaporkan bahwa Rusia mengirim data intelijen kepada Iran, yang dinilai memperkuat kemampuan negara itu menargetkan pangkalan militer AS dan infrastruktur strategis di Timur Tengah. Empat sumber yang memahami situasi ini menyatakan bahwa bantuan intelijen Rusia menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasi serangan rudal serta drone Iran beberapa hari terakhir. Dukungan ini, kata sumber, memungkinkan Teheran mengidentifikasi posisi kapal perang, radar militer, dan sistem komunikasi milik Washington secara lebih efektif.
Pengungkapan oleh Washington Post
Informasi tentang bantuan intelijen dari Rusia pertama kali diungkap oleh The Washington Post. Menurut sumber yang menyadari masalah ini, Moskow menyediakan data mengenai letak pasukan AS di wilayah Timur Tengah. Bantuan tersebut, menurut laporan, memudahkan Iran dalam mengevaluasi kerusakan dari serangan udara yang dilancarkan. Namun, tidak ada bukti bahwa Rusia secara langsung memandu penargetan rudal atau drone.
Kapan Serangan Iran Dimulai?
Serangan rudal dan drone Iran terhadap pangkalan AS serta target lain di kawasan tersebut dimulai setelah operasi udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel melawan Teheran pada 28 Februari 2026. Langkah Rusia menyebarkan data intelijen ke Iran dianggap mencerminkan dampak geopolitik yang semakin luas dari konflik antara dua negara. Situasi ini juga mengancam kapal, pesawat, dan pangkalan militer AS yang beroperasi di wilayah Timur Tengah.
Analisis Nicole Grajewski
Menurut Nicole Grajewski, seorang pengamat hubungan Rusia dan Iran, jaringan satelit Rusia memungkinkan Moskow menyampaikan informasi lebih cepat dan akurat kepada Teheran. “Mereka tampaknya menargetkan sistem komando dan kendali pasukan AS,” ujarnya dalam analisis. Grajewski mengamati bahwa pola serangan Iran menunjukkan peningkatan kualitas intelijen, terutama dalam fokus pada radar militer dan infrastruktur komunikasi. Ini berbeda dengan konflik sebelumnya antara Iran dan Israel pada Juni tahun lalu, yang lebih berupa serangan berkelanjutan.
Kapasitas Satelit Iran Terbatas
Iran memang memiliki sejumlah satelit militer, tetapi kapasitasnya dianggap jauh lebih terbatas dibandingkan jaringan satelit Rusia. Grajewski menilai bahwa bantuan intelijen dari Moskow mengubah strategi serangan Iran, yang kini mirip dengan taktik militer Rusia dalam perang di Ukraina. Strategi tersebut biasanya dimulai dengan serangan drone berkelompok untuk menghancurkan infrastruktur, lalu diikuti dengan peluncuran rudal balistik.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran
Dalam wawancara dengan NBC News, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa negaranya mendapatkan dukungan politik dari Rusia dan Tiongkok. “Mereka mendukung kami secara politik dan lainnya,” katanya. Meski mengakui kerja sama militer antara Iran dan Rusia telah berlangsung lama, Araghchi menolak memberi detail tentang bantuan militer dari kedua negara tersebut. “Saya tidak akan memberikan detail kerja sama kami dengan negara lain di tengah perang,” tambahnya.
Respons Donald Trump
Presiden AS Donald Trump menganggap laporan bantuan intelijen Rusia kepada Iran sebagai isu minor. Ketika seorang wartawan mengajukan pertanyaan, Trump menyebutnya sebagai “pertanyaan bodoh.” “Itu masalah yang mudah dibandingkan dengan apa yang kita lakukan di sini,” ujarnya dalam diskusi meja bundar di East Room. Ia juga menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran berjalan efektif, tanpa menyebutkan lebih lanjut mengenai dampak bantuan intelijen Rusia.
