IHSG diproyeksi bergerak datar dan cenderung menguat tipis pekan depan

Jakarta – Menurut pengamat pasar modal Reydi Octa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami gerakan stabil dan mengalami kenaikan kecil dalam beberapa hari mendatang. Ini disebabkan oleh kondisi pasar yang belum sepenuhnya memasuki fase peningkatan pasca pengaruh faktor global serta domestik, sekaligus adanya ketertarikan investor terhadap gejolak baru yang mungkin muncul.

“IHSG diprediksi akan mengalami gerakan mendatar dengan kecenderungan kenaikan kecil, berdasarkan pola rebound teknikal setelah tekanan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pergerakan pasar masih terbatas sambil menunggu penyebab peningkatan yang lebih jelas,” kata Reydi saat dihubungi Antara di Jakarta, Minggu.

Faktor internasional memengaruhi sentimen pasar

Dalam proyeksinya, Reydi menyoroti bahwa sentimen dari pasar global tetap akan memengaruhi pergerakan IHSG. Hal ini berkaitan dengan kebijakan suku bunga The Fed, fluktuasi imbal hasil obligasi AS, serta dinamika politik global dan harga komoditas. “Sentimen positif mungkin muncul dari kenaikan pasar internasional dan pelambatan ketegangan geopolitik,” tambahnya.

Kontribusi faktor domestik dalam peningkatan IHSG

Di sisi dalam negeri, Reydi memperkirakan perhatian pelaku pasar akan tertuju pada respons investor asing terhadap rencana MSCI dan tingkat kepercayaan terhadap sektor lokal. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia, data inflasi, serta nilai tukar rupiah juga menjadi penentu aliran dana asing ke pasar saham domestik.

“Kebijakan suku bunga BI, perkembangan rating indeks global, data inflasi, serta laju rupiah akan memengaruhi apakah aliran modal asing bisa stabil atau tetap memantau situasi,” jelas Reydi.

Reydi juga menyebutkan bahwa investor saat ini lebih memilih pendekatan defensif dan selektif, dengan fokus pada saham besar serta likuid. “Investor cenderung memilih saham big caps dan likuid, sementara rotasi ke sektor berbasis komoditas dan energi terjadi sebagai dampak dari tekanan geopolitik global,” ujarnya.

Sebagai referensi, data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/4) sore menunjukkan IHSG naik 150,91 poin atau 2,07 persen ke level 7.458,50. Sementara indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan, meningkat 12,57 poin atau 1,71 persen ke 746,47. Volume transaksi saham mencapai 2.287.124 kali, dengan total saham yang diperdagangkan sebanyak 42,94 miliar lembar senilai Rp18,12 triliun. Dari jumlah tersebut, 485 saham menguat, 181 saham turun, dan 153 saham stagnan.