Kodam Imam Bonjol benarkan dua warga kena peluru nyasar di kampus UNP

Kodam Imam Bonjol Konfirmasi Insiden Peluru Nyasar di Kampus UNP

Peristiwa Terjadi Selasa Pagi, Dua Warga Sipil Diduga Terkena Tembakan

Kodam Imam Bonjol benarkan dua warga – Sebuah insiden peluru nyasar yang menimpa dua warga sipil di lingkungan kampus Universitas Negeri Padang (UNP) pada Selasa (2/6) sore telah dikonfirmasi oleh Komando Daerah Militer (Kodam) XX Tuanku Imam Bonjol. Peristiwa ini terjadi saat satuan Batalyon Infanteri (Yonif) TP 897/Singgalang sedang menjalani latihan menembak. Menurut informasi yang dihimpun, peluru tersebut jatuh di area kampus yang tidak terduga, menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sekitar.

Kapendam Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Kolonel Kav Taufiq, menyatakan bahwa investigasi sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. “Saat ini tim penyelidik masih memeriksa lokasi dan menyimpulkan apakah peluru tersebut terlempar secara tidak sengaja atau ada faktor lain yang memicu insiden ini,” ujar Taufiq.

Menurut laporan awal, dua korban yang terkena peluru berada di dekat area latihan yang dilakukan Yonif TP 897/Singgalang. Latihan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan keterampilan tembak yang rutin diadakan oleh satuan tersebut. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, seperti cuaca buruk atau kurangnya pengawasan, peluru bisa menyasar area yang tidak terencana.

UNP, yang berlokasi di Kota Padang, Sumatra Barat, merupakan institusi pendidikan tinggi yang memiliki banyak pengunjung, termasuk mahasiswa, dosen, serta masyarakat umum. Karena kejadian ini terjadi di tengah aktivitas akademik, rasa khawatir terhadap dampak sosial dan psikologis terhadap siswa serta staff kampus menjadi sorotan utama. “Kami telah berkoordinasi dengan pihak kampus untuk memastikan semua warga sudah aman dan tidak terjadi kepanikan berlebihan,” terang Taufiq.

Kapendam juga menjelaskan bahwa latihan menembak yang berlangsung pada hari itu merupakan bagian dari latihan bersenjata yang dilakukan sejumlah anggota pasukan. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan prajurit dalam situasi lapangan. Namun, karena area latihan tidak terpantau sepenuhnya, muncul kemungkinan peluru menyasar ke wilayah yang tidak diharapkan.

Sebagai langkah pencegahan, Kodam XX Tuanku Imam Bonjol telah mengambil beberapa tindakan. Pertama, mereka melakukan peninjauan langsung ke lokasi kejadian untuk mengecek kondisi dua warga yang terkena. Kedua, pihak militer berkomitmen untuk memperketat pengawasan selama latihan menembak di masa mendatang. “Kami sedang menyusun rencana penguatan rasio dan alur tembakan agar tidak terulang lagi,” tambah Taufiq.

Menurut data yang diperoleh, latihan tersebut berlangsung di sekitar area kampus UNP, yang berdekatan dengan jalan raya dan tempat tinggal warga sipil. Meski begitu, pihak Kodam menegaskan bahwa latihan tersebut sudah diatur dengan baik. “Tidak semua peluru mungkin terlempar ke luar area latihan, tetapi kita tetap memperhatikan pengamanan sekitarnya,” jelas Kapendam.

Di sisi lain, Universitas Negeri Padang juga memberikan pernyataan resmi terkait kejadian ini. Rektor UNP menyampaikan bahwa pihak kampus telah memberi peringatan sebelum latihan dimulai, dan para mahasiswa serta warga yang berada di area tersebut didorong untuk tetap waspada. “Meski ini adalah latihan militer, kita berharap seluruh pihak tetap bisa menjaga keselamatan,” ucap rektor.

Kolonel Kav Taufiq menambahkan bahwa dua warga yang terkena peluru nyasar tidak mengalami cedera serius dan sedang dalam perawatan. “Pihak medis menilai kondisi mereka stabil dan tidak memerlukan tindakan darurat,” kata Kapendam.

Peristiwa ini juga memicu perdebatan di antara masyarakat dan pihak berwenang. Sebagian warga menyampaikan kekecewaan karena latihan menembak dilakukan di daerah yang padat penduduk, sementara pihak militer menegaskan bahwa langkah tersebut sudah sesuai dengan protokol operasional. “Kami memahami kekhawatiran masyarakat, dan itu menjadi bahan evaluasi bagi kami,” lanjut Taufiq.

Menurut laporan, peluru nyasar tersebut jatuh di dekat bangunan fakultas yang sedang dalam renovasi. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini menyebabkan kerusakan ringan pada struktur bangunan tersebut. Pihak kampus segera melakukan pemeriksaan terhadap bangunan dan memastikan tidak ada bahaya lebih lanjut.

Kodam XX Tuanku Imam Bonjol juga menyatakan bahwa peluru yang menyasar tersebut berasal dari senapan yang digunakan oleh anggota Yonif TP 897/Singgalang. Senapan tersebut ditembakkan dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tetapi karena kondisi cuaca yang mendung, peluru bisa meleset ke arah yang tidak terduga. “Kami sedang mengecek apakah ada faktor cuaca yang berpengaruh terhadap akurasi tembakan,” ungkap Kapendam.

Sebagai bagian dari investigasi, Kodam juga mengundang tim independen dari luar untuk meninjau proses latihan dan tindakan pengamanan yang dilakukan. Tim ini akan memeriksa catatan operasional, serta memastikan bahwa semua aturan keselamatan telah diikuti. “Kami ingin memastikan kejadian ini tidak mengulangi kesalahan serupa di masa depan,” jelas Taufiq.

Di samping itu, pihak Kodam berencana untuk memperkenalkan sistem pengamanan lebih modern di area latihan, termasuk penggunaan alat deteksi yang dapat menangkap peluru nyasar sebelum mencapai wilayah sipil. “Ini adalah langkah untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap operasi militer di kawasan perkotaan,” tukas Kapendam.

Insiden ini juga menjadi pelajaran bagi seluruh anggota Yonif TP 897/Singgalang. Sejumlah prajurit yang terlibat dalam latihan diberi penjelasan tambahan tentang pentingnya kehati-hatian dalam situasi seperti ini. “Setiap prajurit diwajibkan untuk memperhatikan lingkungan sekitar sebelum menembak, terutama di area yang ramai,” tambah Taufiq.

Peristiwa ini menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat. Beberapa warga meminta pihak militer untuk mengambil tindakan lebih serius, sementara yang lain menilai bahwa latihan menembak adalah bagian dari kegiatan rutin yang tidak bisa dihindari. Meski demikian, Kodam XX Tuanku Imam Bonjol menegaskan komitmen untuk memperbaiki prosedur pengamanan.

Kapendam Taufiq juga menambahkan bahwa pihak militer telah melakukan koordinasi dengan pihak kampus sebelum latihan dimulai. Koordinasi ini bertujuan untuk menghindari konflik antara aktivitas militer dan kegiatan akademik. “Kita harus saling mendukung, tetapi juga saling menjaga,” pungkasnya.