Key Issue: Gempa magnitudo 5,9 di Manado dipicu aktivitas Lempeng Laut Maluku
Gempa Magnitudo 5,9 di Manado Dipicu oleh Aktivitas Lempeng Laut Maluku
Key Issue – Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi saksi bisik peristiwa gempa bumi tektonik yang terjadi pada Jumat pagi, 12 Mei 2023. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa gempa berkekuatan 5,9 ini diakibatkan oleh deformasi batuan di dalam Lempeng Laut Maluku. Dalam pernyataan resmi, BMKG menegaskan bahwa aktivitas tektonik tersebut berdampak pada wilayah sekitar Manado, memicu getaran yang dirasakan oleh masyarakat.
Deteksi dan Analisis BMKG
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada pukul 08.05.09 WIB. Dengan berdasarkan hasil pemodelan matematis, ia menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menyebabkan tsunami. “Gempa tersebut tidak memberikan tanda-tanda keberadaan gelombang laut yang signifikan,” kata Wijayanto. Episenter gempa berada di koordinat 1,17° LU dan 126,14° BT, atau lebih tepatnya di laut, 117 kilometer arah tenggara Kota Bitung.
“Pemantauan yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa kedalaman hiposenternya mencapai 38 kilometer, sehingga gempa ini termasuk jenis dangkal,” tambah Wijayanto.
Menurut penjelasan Wijayanto, lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya menunjukkan bahwa gempa tergolong dangkal. Hal ini memengaruhi intensitas guncangan yang dirasakan di sekitar wilayah terdampak. Analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa patahan yang menjadi penyebab gempa memiliki pergerakan geser naik (oblique thrust), yang berarti terdapat kekuatan tekan dan geseran pada lapisan batuan bawah tanah.
Wilayah yang Dirasakan Getaran
Menurut laporan intensitas guncangan, dampak gempa terasa nyata di Pulau Batang Dua, dengan skala intensitas III-IV pada skala MMI. Di wilayah ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, terutama pada siang hari. “Penduduk mengeluhkan bahwa guncangan terasa kuat, seperti ada truk besar yang melintas di dekat rumah mereka,” ujar Wijayanto.
Guncangan juga menyebar ke daerah Sofifi, Halmahera Barat, Tidore, dan Kota Manado. Di sana, intensitas getaran berada pada level II-III MMI, dengan getaran yang bisa dirasakan oleh orang di dalam ruangan. “Gempa tersebut tidak mengguncang bangunan tinggi, namun masyarakat tetap merasa kaget,” lanjut Wijayanto. Menurutnya, intensitas guncangan berkurang seiring jarak dari pusat gempa.
Kondisi Setelah Gempa
Selama pemantauan dilakukan, sistem BMKG belum menemukan indikasi adanya gempa susulan (aftershock) setelah pukul 08.20 WIB. “Pada waktu tersebut, aktivitas gempa sudah menunjukkan penurunan amplitudo,” jelas Wijayanto. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat tetap waspada dan tidak terburu-buru. “Situasi bisa berubah kapan saja, terutama jika ada aktivitas geofisika yang tidak terduga.”
Wijayanto menekankan bahwa warga sekitar perlu memastikan keamanan tempat tinggal mereka. “Jika ada bangunan yang retak atau rusak, segera hindari untuk mencegah risiko terjatuh atau kecelakaan lainnya,” tambahnya. Ia juga meminta masyarakat tidak terpengaruh oleh isu yang belum terbukti kebenarannya, seperti klaim gempa berpotensi menghasilkan tsunami besar.
Pelajaran dari Gempa Dangkal
Menurut para ahli geofisika, gempa dangkal seperti ini sering kali tidak berdampak signifikan pada permukaan tanah, tetapi bisa menyebabkan kepanikan di kalangan masyarakat. Wijayanto menambahkan bahwa faktor kedalaman hiposenternya yang hanya 38 kilometer memperkuat kekuatan getaran, tetapi tidak meningkatkan risiko tsunami. “Kedalaman yang dangkal membuat energi gempa terdistribusi secara merata, bukan hanya di dasar laut,” jelasnya.
Di Manado, beberapa warga melaporkan bahwa guncangan terasa selama sekitar 10 detik, dengan intensitas yang berbeda-beda tergantung lokasi. “Di daerah yang lebih dekat, seperti Pulau Batang Dua, getaran terasa jelas, sementara di bagian lain, hanya dirasakan oleh orang yang sedang berada di dalam rumah,” katanya. BMKG terus memantau situasi melalui jaringan sensor seismik yang tersebar di seluruh Indonesia.
Proses Pemantauan dan Persiapan
Setelah gempa terjadi, BMKG segera melakukan evaluasi terhadap data yang terkumpul. “Kami menganalisis gelombang seismik dan mencari pola yang bisa memprediksi kemungkinan gempa susulan atau perubahan struktur bumi di sekitar daerah terdampak,” terang Wijayanto. Ia menambahkan bahwa hasil analisis menunjukkan bahwa risiko tsunami tidak signifikan, karena kedalaman gempa tidak cukup untuk memicu gelombang laut besar.
Para ahli juga menyoroti pentingnya sistem pemantauan gempa yang terus berjalan. “Setiap gempa, terlepas dari magnitudo, menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kehati-hatian masyarakat dan kebijakan antisipasi bencana,” ujarnya. Wijayanto menegaskan bahwa Lempeng Laut Maluku masih aktif, sehingga potensi gempa berulang perlu dipertimbangkan. “Kami akan terus memantau aktivitas tektonik di daerah tersebut untuk memberikan informasi terkini kepada publik.”
Dalam upaya meminimalkan risiko, BMKG memberikan panduan kepada warga untuk tetap tenang, menghindari bangunan yang tidak stabil, dan mengikuti informasi dari lembaga resmi. Meski gempa ini tidak berdampak besar, situasi di Sulawesi Utara tetap menjadi perhatian utama karena daerah tersebut memiliki sejarah aktivitas gempa yang sering terjadi. “Kota Manado dan sekitarnya memang termasuk zona rawan gempa, sehingga warga perlu terbiasa dengan skenario seperti ini,” pungkas Wijayanto.
Sebagai tambahan, BMKG juga menyampaikan bahwa gempa 5,9 ini termasuk dalam kategori gempa yang tidak memerlukan evakuasi darurat. “Namun, kami tetap mengingatkan masyarakat agar selalu memperhatikan tanda-tanda peringatan dini, terutama di daerah yang rawan kejadian gempa berulang,” imbuhnya. Dengan memperkuat sistem pemantauan dan edukasi masyarakat, BMKG berupaya meningkatkan kesiapan menghadapi bencana alam yang bisa terjadi kapan saja.
