BAIS TNI: Panutan dan Pengamat Utama bagi Panglima TNI

Sebuah insiden penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS yang dilakukan oleh anggota TNI dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) menarik perhatian publik. Keterlibatan lembaga ini dalam aksi kekerasan terhadap warga sipil memicu pertanyaan mengenai peran BAIS sebagai mata dan telinga Panglima TNI dalam mengawasi ancaman dari luar negeri. Meski BAIS dirancang untuk mendukung pertahanan negara, kejadian tersebut menimbulkan kecurigaan terhadap fungsinya dalam situasi sipil.

Pengakuan dan Penolakan Mabes TNI

Dalam konferensi pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, mengungkap bahwa keempat pelaku insiden tersebut bertugas di Denma BAIS. “Keempat pelaku bertugas di Denma (Detasemen Markas) BAIS TNI,” kata Yusri. Selain itu, ia menjelaskan bahwa BAIS merupakan unit inti yang memastikan ketersediaan informasi strategis untuk keputusan TNI.

“Oleh karena itu, di mana pun sekiranya ada situasi mengancam, pasti ada rekan-rekan kami yang bertugas di situ. Mereka melakukan tugas negara,” ujar Mayjen Freddy Ardianzah, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, saat menjelaskan tugas Mayor SS yang ditangkap polisi.

Pada 29 Agustus 2025, seorang perwira BAIS ditangkap oleh polisi saat berada di dekat pom bensin di Pejompongan, Jakarta Pusat. Identitasnya terungkap melalui kartu identitas yang terpampang di media sosial, mengarah pada Mayor SS. Pihak Mabes TNI membantah bahwa anggota BAIS tersebut menjadi provokator, menyatakan bahwa tugasnya adalah mengawasi potensi ancaman.

Struktur dan Fungsi BAIS TNI

BAIS TNI beroperasi secara tersembunyi dan berada langsung di bawah komando Mabes TNI. Struktur organisasi ini dipimpin oleh perwira tinggi dengan pangkat sesuai matra: letjen untuk AD, marsekal madya untuk AU, dan laksamana madya untuk AL. Saat ini, jabatan Kabais dijabat oleh Letjen Yudi Abdimantyo, yang bertanggung jawab langsung kepada Panglima TNI.

Unit ini berbeda dengan Badan Intelijen Negara (BIN) yang melaporkan kepada Presiden. BAIS fokus pada intelijen kemiliteran, termasuk pemantauan kekuatan alutsista musuh dan ancaman terhadap kedaulatan militer. Sementara BIN lebih menekankan intelijen nasional secara makro. Lembaga serupa di Polri, Badan Intel dan Keamanan, mengurus keamanan dalam negeri dan deteksi dini kriminal.

BAIS di Tengah Konflik Global

Pada 2026, peran BAIS semakin penting karena pergeseran pola konflik global yang lebih banyak melibatkan perang asimetris dan ancaman siber. Selain itu, anggota BAIS juga dikirim ke kedutaan besar Indonesia di luar negeri untuk menjalankan fungsi diplomasi militer. Mereka bertugas sebagai atase pertahanan, berperan sebagai sensor awal dalam memantau dinamika militer global.

Insiden penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, menunjukkan bahwa BAIS tidak hanya aktif di lingkungan militer, tetapi juga terlibat dalam situasi sipil. Meski Mabes TNI membela tindakan anggotanya, publik masih mengkritik keterlibatan BAIS dalam aksi demonstrasi yang memanas di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Agustus 2025.