Pertamina manfaatkan teknologi untuk konservasi penyu sisik
Malang, Jawa Timur (ANTARA) – Dalam upaya menjaga kelangsungan hidup penyu sisik, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) OSES menggandeng teknologi sebagai alat bantu untuk melindungi satwa langka tersebut. Perusahaan berkomitmen untuk mendorong konservasi yang lebih efektif melalui partisipasi aktif masyarakat, dengan dukungan sistem pengawasan modern.
“Konservasi adalah tentang harapan. Kami ingin memastikan perlindungan penyu sisik juga diperkuat dengan teknologi yang mendukung partisipasi masyarakat,” ujar Indra Darmawan, Head of Communication, Relations & CID PHE OSES dalam keterangan resmi yang diterima di Malang, Jawa Timur, Kamis.
Penyu sisik dinyatakan sebagai spesies Terancam Punah oleh IUCN, sehingga setiap tindakan perlindungan menjadi kritis untuk menjaga populasi. Dengan pendekatan yang menggabungkan teknologi dan kerja sama masyarakat, PHE OSES berkontribusi pada pembentukan sistem konservasi yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Program Tiga Perisai merupakan implementasi teknologi yang dirancang untuk memperkuat upaya konservasi di Pulau Sabira. Melalui kerja sama dengan Karang Taruna 03 Pulau Sabira dan BKSDA Jakarta, PHE OSES memasang kamera CCTV di dua titik pendaratan penyu. Ini menjadi inovasi penting dalam mengamankan telur dari ancaman berbagai faktor.
Kamera CCTV memungkinkan pemantauan aktivitas di area rawan secara lebih efektif, terutama pada malam hari saat penyu naik ke pantai. Selain itu, fasilitas ini juga membantu merekam dan mengawasi secara langsung, menggantikan pengawasan manual yang sebelumnya digunakan.
“Masih terdapat praktik pengambilan telur penyu oleh oknum yang perlu diminimalkan melalui pengawasan yang lebih optimal. Dengan adanya CCTV ini, kami harap pengawasan bisa lebih maksimal,” kata Luruh Pulau Harapan M. Nuralim.
Selain CCTV, PHE OSES juga menyediakan berbagai sarana pendukung seperti rak penetasan, alat pemantau suhu dan kelembaban, gazebo, serta perlengkapan monitoring. Semua fasilitas ini mendukung metode semi alami yang dilakukan oleh tim konservasi lokal untuk meningkatkan keberhasilan penetasan.
Sejak tahun 2025, sekitar 4.000 telur penyu dari 31 kali pendaratan berhasil diamankan. Capaian ini menunjukkan pentingnya penguatan sistem pengawasan dan sarana prasarana dalam menjaga keberlanjutan konservasi di kawasan tersebut.
