Key Issue: Saat kemarau memanjang, Indonesia perkuat siaga karhutla
Saat Musim Kemarau Berlangsung Lama, Indonesia Tingkatkan Kesiapsiagaan Karhutla
Jakarta – Pada musim kemarau tahun ini, gejala kering terasa lebih dini dari biasanya. Wilayah-wilayah tertentu mulai mengalami kekeringan yang memengaruhi kelembapan tanah dan air gambut. Meski puncak musim kemarau belum tiba, pemerintah telah mempercepat persiapan menghadapi risiko kebakaran yang meningkat. Proyeksi menunjukkan kemungkinan curah hujan mencapai tingkat terendah dalam tiga dekade terakhir, memperpanjang durasi kemarau dan memperkuat tekanan terhadap hutan serta lahan gambut.
Kondisi Iklim Menyebabkan Ancaman Tersembunyi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fase musim kering akan meluas sejak pertengahan tahun dan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026. Fase ini rentan terhadap perubahan lingkungan yang perlahan berdampak, seperti daun mengering, tanah kehilangan air, dan gambut mengandung bara yang tidak terlihat. Ancaman kebakaran pun berkembang secara diam-diam, berpotensi menjadi api yang sulit dipadamkan dan menyebar ke wilayah lain.
Kinerja 2025: Penurunan Luas Kebakaran
Di tengah kondisi iklim yang menantang, Indonesia mencatat penurunan signifikan dalam luas kebakaran pada 2025. Data menunjukkan area yang terbakar sekitar 213.984 hektare, dibandingkan 376.805 hektare di 2024. Perbaikan ini menunjukkan efektivitas upaya pencegahan yang lebih intens. Namun, kontrasnya jelas ketika dibandingkan dengan 2019, saat luas kebakaran mencapai lebih dari 1,6 juta hektare.
Pola Karhutla Berulang dengan Tekanan Iklim
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukanlah kejadian acak, melainkan siklus yang terkait pola iklim dan kondisi lahan. Dengan munculnya titik api lebih dini di beberapa daerah, seperti Riau, kesiapsiagaan diuji lebih awal. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa wilayah bergambut menjadi fokus utama, karena air gambut yang kering bisa berubah menjadi sumber api yang sulit dikendalikan.
Kemunculan titik panas pada 2025 mencapai sekitar 2.705 titik, turun lebih dari 90 persen dibandingkan 29.341 titik pada 2019. Angka ini mencerminkan kombinasi perbaikan manajemen, peningkatan pengawasan, serta partisipasi masyarakat melalui restorasi gambut dan patroli di daerah rawan. Meski capaian ini menggambarkan kemajuan, tantangan baru muncul: ekspektasi terhadap sistem kini lebih tinggi, dan penurunan curah hujan yang ekstrem bisa menguji keberhasilan sebelumnya.
“Kebakaran hutan dan lahan bukanlah peristiwa acak, melainkan pola berulang yang mengikuti siklus iklim dan tekanan terhadap lahan,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq.
Dengan durasi kemarau yang memanjang dan pola curah hujan yang berubah, Indonesia berupaya menghadapi tantangan ini dengan pendekatan berbasis sistem. Namun, perlu konsistensi dalam mengelola lahan gambut dan memantau kondisi lingkungan agar risiko kebakaran tidak meningkat lagi di masa depan.
