Important Visit: Pengamat: Piala dunia jadi motivasi anak muda tekuni dunia olahraga
Pengamat: Piala Dunia 2026 Berikan Ruang Baru untuk Karier Anak Muda di Dunia Olahraga
Important Visit – Di tengah era digital yang semakin cepat, perhelatan Piala Dunia 2026 dinilai sebagai ajang besar yang bisa memicu minat generasi muda Indonesia terhadap dunia olahraga. Menurut Mohammad Kusnaeni, seorang pengamat sepak bola yang akrab disapa Bung Kus, turnamen ini bukan hanya menginspirasi anak muda untuk menjadi atlet, tetapi juga membuka jalan bagi mereka yang ingin menggeluti profesi pendukung dalam olahraga. Dalam sebuah wawancara bersama RRI Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Bung Kus menekankan bahwa kompetisi sepak bola internasional memiliki peran penting dalam mengubah persepsi masyarakat tentang karier di bidang olahraga.
“Piala Dunia sebelumnya sudah banyak memberikan contoh nyata bagaimana pemain berbakat muncul dan menjadi panutan bagi banyak remaja Indonesia,” ujar Bung Kus.
Dia menjelaskan bahwa Piala Dunia bukan hanya sekadar ajang pertandingan, tetapi juga menjadi ajang edukasi yang mampu menggambarkan berbagai peluang profesi dalam industri sepak bola. Menurutnya, perhelatan tersebut membuka wawasan tentang komponen-komponen krusial yang membangun ekosistem olahraga, seperti teknologi, manajemen, serta tim pendukung yang berperan besar dalam keberhasilan suatu pertandingan.
Bung Kus menyoroti bahwa tidak semua karier di dunia sepak bola terfokus pada posisi pemain utama. Ada banyak profesi yang juga menarik minat, seperti dokter tim, psikolog olahraga, manajer klub, dan pekerja yang mengurus kondisi lapangan. “Masyarakat sering kali hanya melihat pemain di lapangan, tetapi lupa bahwa sebuah pertandingan berjalan karena kerja sama dari berbagai sektor,” katanya.
Menurutnya, salah satu contoh nyata dari profesi yang tak terlihat tapi vital adalah peran groundsman, atau ahli rumput. “Groundsman membutuhkan pendidikan khusus dan sertifikasi, sehingga mereka bisa menjaga kondisi lapangan agar optimal,” ujarnya. Di Indonesia, ia menyoroti bahwa kekurangan groundsman menyebabkan kondisi lapangan yang tidak seimbang, meskipun banyak stadion memiliki anggaran besar.
“Sepak bola adalah suatu ekosistem yang terdiri dari puluhan komponen yang saling mendukung. Tanpa komponen itu, tak ada namanya pertandingan sepak bola,” ujarnya.
Bung Kus juga menekankan bahwa siaran Piala Dunia melalui TVRI, yang menjadi stasiun resmi di Indonesia, bisa menjadi sarana penting untuk menjangkau anak muda. Ia berharap siaran tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan wawasan mengenai profesi yang terkait dengan sepak bola. “Dengan menceritakan peran dokter tim atau psikolog, anak muda bisa merasa bahwa karier di bidang olahraga lebih beragam dan menarik,” katanya.
Di sisi lain, Bung Kus menyoroti bahwa Piala Dunia juga memiliki dampak sosial dan budaya yang tidak kalah penting. “Turnamen ini mengajarkan nilai persamaan, bahkan seorang Lionel Messi pun mendapatkan perlakuan yang sama dengan pemain lain di lapangan,” ucapnya. Hal ini membuktikan bahwa dalam sepak bola, setiap individu, terlepas dari status atau kepopuleran, harus mematuhi aturan yang sama.
Menurutnya, keberhasilan sebuah tim tidak hanya bergantung pada keterampilan pemain, tetapi juga pada konsistensi kerja sama seluruh anggota ekosistem. “Dari manajemen hingga pemeliharaan stadion, semua komponen saling terhubung dan memegang peran kritis,” tambah Bung Kus. Ia berharap Piala Dunia 2026 bisa menjadi bahan referensi bagi anak muda untuk memahami bahwa olahraga adalah industri yang kompleks dan berpotensi tinggi.
Piala Dunia 2026: Kapan dan Di Mana?
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah, dengan total 104 pertandingan yang digelar dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Lokasi penyelenggaraan mencakup 16 kota di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Masyarakat Indonesia bisa menyaksikan tayangan resmi Piala Dunia melalui TVRI, yang bekerja sama dengan RRI dan ANTARA memberikan berbagai informasi secara daring maupun platform media sosial.
Di samping itu, Bung Kus menekankan bahwa perhelatan ini juga membuka peluang untuk mengeksplorasi aspek ekonomi dan budaya. “Piala Dunia bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga membangun kesadaran publik mengenai potensi kegiatan olahraga dalam memajukan ekonomi lokal dan memperkuat identitas nasional,” ujarnya. Dengan menyebarkan informasi ini, masyarakat bisa melihat bahwa sepak bola memiliki peran yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari.
Impak Sosial dan Pendidikan
Dia menyampaikan bahwa pertandingan sepak bola di televisi sering kali memperlihatkan aspek teknis dan fisik yang menarik, tetapi kurang memperkenalkan kontribusi dari pekerja pendukung. “Saya berharap tayangan Piala Dunia bisa menyoroti peran-peran yang tidak terlihat tetapi penting, seperti ahli rumput atau psikolog,” ujarnya. Ia percaya bahwa penekanan pada berbagai aspek ini akan membantu anak muda mengenal lebih dalam tentang dunia olahraga.
Bung Kus juga menggarisbawahi bahwa penyiaran Piala Dunia perlu dirancang agar mampu membangun kemandirian dan minat dalam bidang olahraga. “Media tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga bisa menjadi penggerak bagi anak muda untuk mengejar karier yang lebih bervariasi,” katanya. Dengan cara ini, generasi muda Indonesia diharapkan bisa merasakan bahwa olahraga adalah pilihan karier yang menjanjikan.
Kehadiran Piala Dunia 2026 juga dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat terhadap olahraga. “Tidak semua orang menyukai sepak bola, tetapi dengan menampilkan konten yang informatif dan edukatif, minat terhadap olahraga bisa berkembang,” ujarnya. Hal ini relevan dengan kondisi saat ini di mana banyak anak muda memilih karier di bidang teknologi atau bisnis, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk memilih olah
