Special Plan: Wali Kota Jaksel minta ASN terapkan budaya kerja 3K layani masyarakat

Wali Kota Jaksel Mintai ASN Terapkan Budaya Kerja 3K untuk Layani Masyarakat

Special Plan – Jakarta, Senin – Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menekankan pentingnya para aparatur sipil negara (ASN) menerapkan prinsip dasar Komunikasi, Koordinasi, dan Kolaborasi (3K) dalam menjalankan tugas pemerintahan serta memberikan pelayanan yang optimal kepada warga. Ia mengharapkan dukungan dan kerja sama dari seluruh jajaran dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. “Saya yakin, dengan menerapkan prinsip 3K, seluruh tim bisa menciptakan suasana kerja yang harmonis dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya dalam apel pagi pertama yang dihadiri ratusan ASN di halaman Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

“Saya berharap dapat diterima, didukung, dan bekerja sama dengan seluruh jajaran sebagai bagian dari keluarga besar Kota Administrasi Jakarta Selatan dalam mengemban amanah dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Syafrin Liputo.

Syafrin mengungkapkan rasa syukurnya atas pelantikan resmi sebagai Wali Kota Jakarta Selatan pada 1 Juni 2026. Menurutnya, kesuksesan tugas ke depan bergantung pada kolaborasi yang kuat antara semua elemen Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan. “Komitmen bersama dan kepercayaan yang saling diberikan akan menjadi fondasi kuat untuk mewujudkan visi pembangunan yang lebih baik,” imbuhnya. Ia juga mengajak seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) untuk terus berinovasi dalam menghadirkan solusi yang terukur, akuntabel, dan mampu mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.

Pendekatan 3K sebagai Panduan Utama

Dalam pidatonya, Syafrin menegaskan bahwa budaya kerja 3K adalah kunci utama dalam mengatasi masalah yang kompleks. Ia menjelaskan bahwa komunikasi menjadi dasar untuk memastikan semua pihak memiliki visi dan arah yang sama. “Tanpa komunikasi yang jelas, kekacauan bisa terjadi, bahkan dalam upaya yang seharusnya menyatu,” katanya.

“Komunikasi saja tidak cukup. Harus ada koordinasi yang baik dan kolaborasi yang kuat agar setiap persoalan dapat diselesaikan secara tuntas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucap Syafrin.

Koordinasi, menurutnya, adalah cara untuk menyelaraskan langkah dan tujuan antar OPD agar tidak terjadi tumpang tindih atau kesenjangan dalam pelaksanaan program. “Setiap departemen memiliki fungsi yang berbeda, tetapi keberhasilan Kota Jakarta Selatan tidak terlepas dari sinergisitas antara semua pihak,” tambahnya. Sementara kolaborasi dianggap sebagai alat untuk menyelesaikan masalah secara holistik, dengan melibatkan berbagai stakeholder dalam proses pengambilan keputusan.

Tantangan Pembangunan dan Strategi untuk Menghadapinya

Syafrin mengingatkan bahwa tantangan pembangunan di masa depan akan semakin beragam, baik dari segi teknis maupun sosial. “Kita harus siap menghadapi perubahan yang cepat, dengan perencanaan yang matang dan kemampuan adaptif dari seluruh tim,” ujarnya. Ia menekankan perlunya pendekatan kerja tim yang solid, di mana setiap OPD menjadi bagian dari keseluruhan sistem pemerintahan.

Menurut Syafrin, keberhasilan yang telah dicapai oleh Jakarta Selatan hingga kini adalah bukti dari kinerja kolektif semua perangkat daerah. “Banyak capaian yang telah kami raih, baik dalam infrastruktur maupun pelayanan publik, dan ini harus terus dipertahankan serta ditingkatkan,” katanya. Ia berharap ASN tidak hanya fokus pada tugas individual, tetapi juga saling mendukung untuk menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif.

“Mari kita jadikan momentum ini sebagai awal yang baik untuk memperkuat komitmen, meningkatkan kinerja, dan menghadirkan pemerintahan yang semakin efektif serta kolaboratif, sehingga prestasi Jakarta Selatan terus meningkat,” ucap Syafrin.

Di sisi lain, Syafrin menyoroti pentingnya pelayanan publik yang berintegritas dan profesional. Ia menegaskan bahwa ASN harus selalu responsif terhadap kebutuhan warga, serta mampu beradaptasi dengan dinamika lingkungan sosial yang terus berkembang. “Pelayanan yang cepat dan efektif adalah salah satu indikator keberhasilan pemerintahan yang baik,” tambahnya.

Dalam menyusun rencana kerja, Syafrin meminta seluruh OPD untuk menjadikan hasil sebagai acuan utama. “Setiap tindakan harus diukur berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat, sehingga tidak ada pekerjaan yang sia-sia,” jelasnya. Ia juga menekankan perlunya komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas, karena masyarakat memiliki hak untuk mengetahui bagaimana sumber daya dan dana digunakan dalam menjalankan program-program kota.

Komitmen Bersama untuk Masa Depan

Syafrin menyampaikan bahwa apel pagi perdana ini bukan hanya simbolis, tetapi juga menjadi titik awal untuk membangun semangat kerja yang lebih produktif. “Kita harus melihat ini sebagai momentum untuk memperkuat sinergi antar OPD dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inisiatif-inisiatif inovatif,” katanya. Ia berharap para ASN selalu bersemangat dalam menyelesaikan tugas, dengan menjadikan masyarakat sebagai pusat keberhasilan.

Menurut Syafrin, budaya kerja 3K tidak hanya mempercepat proses penyelesaian masalah, tetapi juga mencegah kesalahan yang bisa terjadi karena informasi yang tidak selaras. “Koordinasi yang baik akan mengurangi duplikasi tugas, sementara kolaborasi mendorong keberagaman ide dan solusi yang lebih optimal,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa penerapan prinsip ini adalah langkah strategis untuk menjawab tantangan ke depan, seperti peningkatan kebutuhan warga akan layanan digital dan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan.

Dengan memperkuat budaya kerja 3K, Syafrin yakin Jakarta Selatan bisa menjadi contoh dalam pelayanan publik yang efektif. “Kita harus terus belajar dari pengalaman masa lalu, tetapi juga mengeksplorasi kemungkinan baru untuk memastikan kemajuan yang berkelanjutan,” pungkasnya. Apel pagi tersebut menjadi peristiwa penting yang menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.