Main Agenda: Iperindo harap dukungan BBM subsidi perkuat industri galangan
Iperindo Berharap Pemerintah Memberikan Dukungan BBM Subsidi untuk Menguatkan Industri Galangan
Main Agenda – Dari Jakarta, Iperindo mengungkapkan kebutuhan akan bantuan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dalam mendukung operasional industri galangan kapal. Lembaga yang menjadi wadah pengusaha di bidang pembuatan kapal serta sarana lepas pantai tersebut menilai, adanya subsidi BBM akan berdampak signifikan dalam meningkatkan daya saing dan menjamin kelangsungan usaha sektor maritim nasional. Ketua Umum Iperindo, Anita Puji Utami, dalam pernyataan resmi mengatakan, “Pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal diharapkan bisa menikmati BBM subsidi dari pemerintah.” Pernyataan ini disampaikan pada Senin di Jakarta.
Tantangan Ekonomi Global yang Menekan Industri
Kenaikan biaya produksi yang terus-menerus menjadi hambatan utama bagi industri galangan kapal nasional. Anita menyoroti bahwa perubahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir memperparah tekanan ini. Tantangan tambahan datang dari kenaikan harga energi dan bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan kapal baru atau perbaikan kapal. Peningkatan biaya tersebut, menurut Anita, berdampak langsung terhadap keberlanjutan operasional industri.
Dalam konteks global, Anita mengungkapkan bahwa ketidakpastian ekonomi yang meningkat memicu persaingan lebih ketat. Konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat, menyebabkan gangguan pada jalur perdagangan internasional, seperti Selat Hormuz. Dampaknya, harga berbagai komoditas dan material yang dibutuhkan industri galangan kapal mengalami peningkatan signifikan. “Pelaku usaha masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri, sehingga kenaikan harga langsung memengaruhi keuntungan mereka,” jelas Anita.
“Pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal diharapkan bisa menikmati BBM subsidi dari pemerintah.”
Data yang dikumpulkan Iperindo menunjukkan, harga solar B40 naik hingga 89,19% dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan serupa juga terjadi pada LPG 12 kilogram yang meningkat 16,16% dan LPG 50 kilogram yang naik 26,51%. Selain itu, harga plat baja, bahan utama dalam pembuatan kapal, tercatat naik antara 7 hingga 12,60%. Cat kapal juga mengalami kenaikan sekitar 21%, yang semakin membebani biaya produksi galangan.
Untuk memperkuat daya tahan industri, Anita menegaskan perlunya dukungan BBM subsidi. “Pemerintah harus memperhatikan penggunaan bahan bakar industri di galangan kapal agar biaya operasional tetap terjangkau,” ujarnya. Tidak hanya itu, ia menyebutkan komponen pendukung seperti zinc anode dan aluminium anode juga mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 12,87% dan 13,61%. Oli mesin serta bahan plastik juga mengalami kenaikan biaya antara 15 hingga 40%, dan 30 hingga 50%.
Dependensi pada Bahan Baku Impor
Ketergantungan tinggi pada bahan baku impor menjadi tantangan lain yang dihadapi industri galangan kapal. Anita menuturkan bahwa sekitar 45% dari kebutuhan material dan peralatan industri berasal dari luar negeri. Hal ini membuat sektor ini rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing. “Pada masa dolar masih stabil, banyak kontrak yang ditandatangani, tapi saat proses pengadaan, harga bahan baku meningkat drastis,” katanya.
Menurut Anita, perubahan kurs dolar yang tajam memaksa pelaku usaha menghadapi biaya tambahan yang tidak terduga. “Kenaikan biaya ini menyebabkan penyesuaian tarif reparasi kapal,” tambahnya. Galangan kapal yang mengalami kenaikan biaya produksi terpaksa menaikkan harga jasa perbaikan kapal. Tingkat kenaikan diperkirakan mencapai sekitar 20%, sebagai upaya mengimbangi peningkatan pengeluaran.
Kebutuhan Konsistensi dalam Penawaran Harga
Kenaikan biaya produksi juga memengaruhi proyek pembangunan kapal baru yang sedang berjalan. Para pelaku industri sedang berdiskusi dengan pemilik kapal mengenai kemungkinan aplikasi eskalasi biaya. Anita menegaskan bahwa keberlanjutan industri sangat bergantung pada kebijakan pemerintah yang konsisten. “Industri maritim nasional perlu didukung agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan global,” katanya.
Ia menambahkan, sektor galangan kapal memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan industri maritim. Dengan adanya BBM subsidi, pelaku usaha bisa mengurangi beban biaya operasional, sehingga meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat daya saing. “Kebutuhan bahan bakar industri harus tetap terpenuhi, apalagi dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil,” pungkas Anita.
Menurut Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia, perusahaan galangan kapal, penyesuaian tarif reparasi kapal adalah langkah tak terhindarkan. “Biaya produksi yang naik mengharuskan galangan melakukan penyesuaian harga untuk menjaga kualitas jasa yang diberikan,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa kenaikan harga material dan bahan baku bisa berdampak jangka panjang jika tidak ditangani secara cepat.
Untuk mencegah penurunan kemampuan produksi, Iperindo menyerukan kebijakan pemerintah yang lebih proaktif. Kebutuhan akan subsidi BBM tidak hanya memengaruhi biaya langsung, tapi juga berdampak pada kemampuan galangan kapal untuk menarik investasi. “Dukungan ini bisa menjadi perisai untuk menjaga stabilitas sektor maritim Indonesia,” kata Anita. Ia berharap adanya kebijakan yang mempertimbangkan kondisi ekonomi industri secara keseluruhan, termasuk penggunaan BBM subsidi untuk menekan inflasi di sektor produksi.
Dengan memperkuat daya tahan industri galangan kapal, Iperindo optimis sektor maritim nasional bisa bertahan dalam tantangan global. “Kita perlu menyelaraskan kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha agar kolaborasi berjalan efektif,” pungkas Anita. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memastikan keberlanjutan industri galangan, yang menjadi tulang punggung sektor maritim Indonesia.
