Survei: Separuh warga AS tak lagi percaya akan “American Dream”
Survei: Separuh Warga AS Tak Lagi Percaya akan “American Dream”
Survei – Washington – Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh The Associated Press dan NORC Center for Public Affairs Research, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat Amerika terhadap konsep “American Dream” mulai memudar. Survei tersebut dirilis pada Senin dan mencakup 2.596 orang dewasa yang diwawancara secara daring serta melalui telepon antara 16-20 April. Margin of error survei ini sebesar 2,6 persen, yang memberi gambaran mengenai tingkat keakuratannya.
Pengamatan Umum tentang Negara
Dari hasil survei, sekitar 30 persen responden menilai bahwa ada negara-negara yang lebih baik daripada Amerika Serikat. Angka ini meningkat 19 persen dibandingkan survei serupa yang dilakukan pada Juni 2016. Perubahan ini mencerminkan kecemasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan sosial negara mereka saat ini. Di sisi lain, 44 persen warga AS masih menganggap Amerika sebagai salah satu negara hebat di dunia, namun angka ini turun dari 55 persen yang tercatat sepuluh tahun lalu. Perbedaan ini menunjukkan pergeseran pendapat tentang nilai-nilai nasional yang dipegang.
“Hasil survei ini menunjukkan bahwa perasaan optimis mengenai masa depan Amerika sedang mengalami penurunan signifikan,” kata salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut.
Sikap Terhadap Prinsip “American Dream”
Secara khusus, survei menyoroti sikap masyarakat terhadap prinsip “American Dream,” yang menggambarkan harapan bahwa usaha keras akan membawa keberhasilan. Sebanyak separuh dari peserta survei mengatakan bahwa prinsip ini kini tidak lagi relevan. Dari kelompok ini, 34 persen percaya bahwa “American Dream” pernah tercapai, sementara 15 persen meyakini bahwa konsep tersebut tidak pernah berjalan seperti harapan. Perbedaan ini mencerminkan perdebatan mengenai apakah idealisme yang dipromosikan selama beberapa dekade masih berlaku.
Selain itu, survei juga menyoroti perbedaan antara generasi muda dan tua. Hanya 22 persen dari warga Amerika yang berusia di bawah 30 tahun meyakini bahwa “American Dream” masih dapat dicapai, dibandingkan dengan 46 persen dari lapisan usia di atas 60 tahun. Perbedaan ini mungkin dipengaruhi oleh realitas kehidupan yang dihadapi tiap kelompok usia. Generasi muda cenderung menghadapi tantangan ekonomi yang lebih berat, seperti biaya pendidikan tinggi dan ketidakstabilan pasar kerja.
Penyebab Penurunan Kepercayaan
Dalam survei tersebut, responden mengaitkan penurunan kepercayaan terhadap “American Dream” dengan berbagai faktor, termasuk biaya hidup yang tinggi, harga perumahan yang melambung, dan kesulitan berkarier. Kondisi ekonomi seperti inflasi, kenaikan upah yang tidak signifikan, serta persaingan ketat di pasar kerja menjadi beban berat bagi banyak orang. Di kota-kota besar seperti New York atau San Francisco, harga properti yang melonjak membuat impian memiliki rumah sendiri menjadi mustahil bagi sebagian besar masyarakat.
Biaya hidup yang terus meningkat juga mengurangi kemampuan masyarakat untuk menabung dan mempersiapkan masa depan. Bayar gaji yang tidak mampu menutupi pengeluaran rutin membuat banyak orang merasa bahwa harapan mereka untuk menikmati kehidupan yang lebih baik tidak tercapai. Selain itu, kesulitan dalam menemukan pekerjaan yang stabil dan adanya pergeseran ke pasar kerja fleksibel berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap kesuksesan melalui usaha keras.
Perbandingan dengan Tahun Lalu
Jika dibandingkan dengan survei Juni 2016, angka kepercayaan terhadap “American Dream” menurun secara signifikan. Dalam survei tersebut, hanya 30 persen responden yang percaya bahwa Amerika Serikat masih menjadi tempat yang ideal untuk menggapai mimpi. Perubahan ini terjadi di tengah berbagai peristiwa seperti krisis ekonomi, perubahan kebijakan, serta dampak globalisasi yang merusak kesetaraan kesempatan. Namun, angka ini tidak menunjukkan penurunan seragam di semua kelompok demografi.
Banyak responden menyatakan bahwa perubahan ini terjadi karena meningkatnya ketidakadilan sosial. Mereka mengatakan bahwa keberhasilan tidak lagi tergantung pada usaha individu, melainkan pada faktor eksternal seperti ketimpangan pendapatan dan akses ke sumber daya. Di tengah krisis pendidikan dan kenaikan pengangguran, banyak orang merasa bahwa mimpi mereka untuk meraih kehidupan yang lebih baik semakin jauh dari kenyataan. Selain itu, krisis lingkungan dan perubahan iklim juga dinilai sebagai ancaman terhadap harapan yang pernah dianggap mustahil.
Perspektif Global dan Konteks Sejarah
Survei ini tidak hanya mengukur opini warga AS, tetapi juga memberikan gambaran tentang perspektif global terhadap negara ini. Banyak responden menyebutkan bahwa negara-negara dengan sistem sosial yang lebih kuat, seperti Swedia atau Kanada, menjadi alternatif yang lebih menarik. Hal ini mengindikasikan bahwa “American Dream” tidak lagi menjadi standar utama untuk menilai kualitas hidup di sebuah negara. Dalam konteks sejarah, konsep ini pernah menjadi simbol utama kebebasan dan kemakmuran, tetapi kini mengalami tantangan serius.
Para peneliti mengatakan bahwa survei ini memberikan wawasan tentang bagaimana perubahan sosial dan ekonomi memengaruhi perspektif masyarakat. “American Dream” yang sebelumnya dianggap sebagai pondasi dari kehidupan bermasyarakat kini dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks. Kebanyakan responden menyatakan bahwa keberhasilan tidak lagi bisa dijamin hanya dengan kerja keras, tetapi juga membutuhkan ke
