Topics Covered: IHSG naik 7,5 persen dipicu rencana buyback BUMN dan kenaikan BI-Rate

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Melonjak 7,5 Persen di Tengah Rencana Buyback BUMN dan Penguatan BI-Rate

Topics Covered – Jakarta, Selasa – Pasar saham di Indonesia hari ini terekam penguatan signifikan, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup naik 7,57 persen ke level 5.746,65. Kenaikan ini terjadi setelah program buyback saham perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki negara (BUMN) menjadi sorotan, serta keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.

Kebijakan Buyback BUMN Jadi Sentimen Utama

Rencana pembelian kembali saham oleh BUMN, khususnya anggota Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), dinilai sebagai faktor pendorong utama kenaikan IHSG. Pada sesi II perdagangan hari ini, sejumlah perusahaan besar membahas rencana ini di sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh DPR RI, Danantara Indonesia, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN. Tujuannya adalah menjaga stabilitas harga saham di tengah tekanan dari sentimen pasar global dan dalam negeri.

“Pembahasan serta rencana buyback saham big caps seperti Himbara menjadi sentimen utama yang mendorong penguatan IHSG,” kata Arjun Ajnawi, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Selasa.

Menurut Arjun, diskusi tersebut memperkuat kepercayaan investor terhadap kemampuan BUMN dalam mengelola aset dan menjaga kepercayaan pasar. “Rapat DPR bersama Kementerian BUMN, Danantara, serta Himbara dilakukan untuk mengkoordinasikan strategi dalam memastikan nilai saham tetap stabil,” tambahnya.

Kenaikan BI-Rate Stabilkan Kurs Rupiah

Selain rencana buyback, kenaikan suku bunga acuan BI juga berkontribusi pada penguatan IHSG. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menegaskan prioritas kebijakan, yaitu penguatan nilai tukar rupiah dan menjadi jangkar inflasi. Arjun mengungkapkan bahwa keputusan BI menunjukkan komitmen untuk mengurangi risiko tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia.

“Kenaikan BI-Rate hari ini memperkuat penopangan kurs rupiah, sekaligus meningkatkan daya tarik investasi portofolio ke Indonesia,” ujar Arjun.

Langkah BI juga diharapkan mendorong aliran dana asing ke pasar lokal, terutama di sektor-sektor yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan. Namun, Arjun mengingatkan bahwa kenaikan IHSG yang signifikan hari ini berpotensi memicu kemungkinan pengambilan profit (profit taking) oleh pelaku pasar, terutama sebelum sesi perdagangan Rabu (9/6/2026) mendatang.

Penguatan di Sektor Komoditas

Kenaikan IHSG diperkuat oleh kinerja positif saham-saham di sektor komoditas. Pemerintah menjamin tidak akan menerapkan mekanisme gross split dalam skema ekspor, sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap pengurangan nilai keuntungan eksportir. Hal ini memperbaiki outlook pasar, terutama di tengah optimisme atas harga komoditas global yang mulai membaik.

Dalam data perdagangan hari ini, IHSG tetap berada di zona hijau sejak pembukaan hingga penutupan sesi pertama. Penguatan terjadi secara bertahap, dengan beberapa sektor menunjukkan respons yang beragam. Menurut Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh dari sebelas sektor mengalami kenaikan, dengan sektor barang baku menjadi pemenang terbesar dengan peningkatan 9,71 persen. Diikuti oleh sektor energi (9,04 persen) dan sektor industri (8,24 persen).

Saham-saham yang melonjak adalah BABY, AHAP, CTTH, MHKI, dan PSKT. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah GMTD, GRIA, CTBN, DPUM, dan MPMX. Total frekuensi transaksi saham mencapai 2.714.279 kali, dengan volume perdagangan 45,06 miliar lembar saham senilai Rp27,93 triliun. Dari jumlah tersebut, 678 saham naik, 89 saham menurun, dan 48 saham tidak bergerak.

Perkembangan Pasar Regional Asia

Sementara di bursa saham regional Asia, indeks Nikkei Jepang menguat 1,92 persen ke 65.251,00, sedangkan indeks Shanghai China naik 1,28 persen ke 4.010,03. Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,37 persen ke 24.565,90, sementara indeks Straits Times Singapura menguat 1,20 persen ke 5.023,67. Penguatan di Asia tampaknya bersifat umum, dengan beberapa negara mengambil langkah kebijakan yang berdampak positif pada pasar modal.

Arjun Ajnawi menambahkan bahwa penguatan IHSG hari ini tidak hanya terkait dengan faktor internal seperti kebijakan BUMN dan BI, tetapi juga dipengaruhi oleh pergerakan pasar global. Ia memperkirakan bahwa dinamika ini akan terus berlanjut, terutama jika ekspor berjalan lancar dan inflasi tetap terkendali. “Penguatan IHSG yang besar sekarang bisa jadi momentum untuk investor memperoleh keuntungan, tetapi perlu diwaspadai adanya volatilitas di sesi berikutnya,” jelasnya.

Dalam analisisnya, Arjun menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah dalam mengelola sektor ekspor dan keuangan. Ia memprediksi bahwa jika keputusan buyback BUMN dan kenaikan BI-Rate diterapkan secara efektif, pasar saham akan tetap sehat dalam jangka menengah. “Dengan dukungan dari kebijakan moneter yang stabil, IHSG berpotensi menguat lebih lanjut selama beberapa minggu ke depan,” ujarnya.

Sebaliknya, saham-saham yang turun bisa menjadi indikasi risiko tersembunyi di sektor tertentu. Arjun menyarankan para investor untuk memantau kinerja perusahaan-perusahaan yang memiliki eksposur tinggi terhadap pasar ekspor, karena fluktuasi harga komoditas bisa memengaruhi laba bersih mereka. “Meski IHSG naik, tidak semua saham akan mengikuti tren yang sama,” katanya.

Perkembangan pasar saham hari ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Dengan adanya kebijakan pembelian kembali saham dan peningkatan suku bunga, pelaku pasar merasa lebih yakin akan kebijakan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan perekonomian. Namun, Arjun memperingatkan bahwa momentum ini tidak akan bertahan lama jika faktor-faktor eksternal seperti inflasi global atau gejolak politik mengganggu kepercayaan investor.

Kenaikan IHSG juga menimbulkan harapan baru bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI. Pasar keuangan diharapkan bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, terutama dalam konteks p