Danantara pastikan risiko investasi tak ganggu aset BUMN

Danantara pastikan risiko investasi tak ganggu aset BUMN

Danantara pastikan risiko investasi tak ganggu – Di Jakarta, Minggu, Direktur Utama Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Dony Oskaria menyatakan bahwa lembaga tersebut dibangun dengan mekanisme perlindungan risiko yang jelas sejak awal. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi fondasi utama. Menurutnya, pemisahan tugas antara pengelolaan aset dan investasi merupakan langkah penting dalam menghindari dampak langsung dari risiko investasi terhadap keberlanjutan BUMN.

Sebagai bagian dari rencana strategis, Danantara dirancang dengan dua fungsi yang berbeda namun saling mendukung. Fungsi pertama adalah pengelolaan portofolio BUMN, sementara fungsi kedua berkaitan dengan pengelolaan investasi. “Dari awal kita sudah mendesain, kita pecah,” ujarnya. “Di Danantara ada dua unit: Danantara Asset Management yang bertugas sebagai konsolidator BUMN, dan Danantara Investment Management yang berperan sebagai instrumen investasi,” tambahnya.

“Kita memisahkan tugas tersebut agar aktivitas investasi tidak langsung berdampak ke aset-aset BUMN yang dikelola. Dengan demikian, keberlanjutan lembaga ini sangat bergantung pada kualitas pengelolaan perusahaan-perusahaan negara yang tergabung dalam portofolio,” jelas Dony.

Dony menjelaskan bahwa pemisahan ini bukan hanya untuk memperjelas peran, tetapi juga untuk menciptakan sistem yang lebih efisien. Menurutnya, BUMN yang diakuisisi oleh Danantara Asset Management akan dikelola secara terpisah dari kegiatan investasi. “Dana yang digunakan untuk investasi tidak berasal langsung dari aset pokok BUMN, melainkan dari dividen yang dihasilkan melalui pengelolaan perusahaan-perusahaan negara secara optimal,” katanya.

Dalam konteks pengelolaan keuangan, dividen menjadi sumber utama dana investasi. Hal ini memberikan jaminan bahwa dana yang dialokasikan untuk investasi tidak menguras aset utama BUMN. “Dividen yang dihasilkan oleh Danantara Asset Management kemudian digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,” imbuh Dony. Ia menekankan bahwa pendekatan ini memungkinkan lembaga tersebut berperan sebagai penggerak ekonomi tanpa mengorbankan kesehatan keuangan BUMN.

Menyikapi perhatian publik terhadap pengelolaan aset negara, Dony menegaskan bahwa pemisahan fungsi ini menjadi elemen kunci dalam desain Danantara. “Pemisahan ini perlu dijelaskan kepada masyarakat agar mereka memahami alasan pemerintah merancang lembaga ini,” katanya. Ia menambahkan bahwa penjelasan tersebut penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap kebijakan pengelolaan aset dan investasi.

Dony juga menggarisbawahi bahwa governance dalam pengelolaan BUMN harus diterapkan secara ketat. Menurutnya, sistem ini memastikan bahwa keputusan investasi diambil berdasarkan prinsip kehati-hatian, bukan hanya untuk keuntungan jangka pendek. “Dengan fondasi governance yang baik, Danantara dapat menjalankan perannya sebagai alat pengelolaan aset negara yang berkelanjutan,” katanya.

Menurut Dony, pemisahan tugas antara aset dan investasi juga membantu dalam mengevaluasi kinerja masing-masing bagian secara terpisah. “Kita bisa mengukur keberhasilan pengelolaan aset BUMN tanpa terpengaruh oleh fluktuasi hasil investasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan respons terhadap tantangan yang dihadapi dalam memastikan kestabilan aset negara di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks.

Dalam upaya menciptakan keseimbangan, Danantara juga menekankan pentingnya transparansi dalam semua proses. “Masyarakat perlu melihat bagaimana dana investasi digunakan dan hasilnya diukur secara objektif,” kata Dony. Ia menjelaskan bahwa transparansi ini menjadi dasar untuk menilai apakah strategi yang diambil benar-benar mendukung tujuan jangka panjang lembaga tersebut, yaitu memperkuat ekonomi nasional melalui manajemen aset yang profesional.

Menurutnya, pengelolaan aset dan investasi yang terpisah memberikan ruang bagi fokus yang lebih tajam. “Aset BUMN harus dikelola dengan prinsip konservatif, sementara investasi diberikan kesempatan untuk bergerak lebih dinamis,” katanya. Dony juga mengungkapkan bahwa keberhasilan Danantara tidak hanya tergantung pada keberlanjutan BUMN, tetapi juga pada kemampuan memanfaatkan dana investasi untuk menciptakan nilai tambah.

Secara keseluruhan, Desain Danantara dirancang agar mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas aset negara. Dengan pemisahan fungsi yang jelas, lembaga tersebut diharapkan bisa menjadi pusat kepercayaan dalam pengelolaan investasi nasional. “Kita ingin menciptakan sistem yang bisa bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi,” tutur Dony. Ia menegaskan bahwa ini adalah langkah strategis untuk memastikan aset BUMN tetap menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang bangsa.

Langkah ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi institusi lain dalam mengelola aset negara. Dony berharap dengan adanya Danantara, kinerja BUMN dapat dinilai secara lebih objektif. “Pemisahan fungsi ini memberikan wawasan lebih jelas tentang bagaimana aset dan investasi dikembangkan secara terpisah,” katanya. Ia menekankan bahwa kehati-hatian dalam pengambilan keputusan tetap menjadi prinsip utama, baik dalam mengelola aset BUMN maupun melakukan investasi baru.

Dengan pendekatan ini, keberlanjutan Danantara dianggap lebih terjamin. Pemisahan tugas juga memudahkan evaluasi kinerja, karena setiap bagian memiliki tujuan dan parameter pengukuran yang berbeda. “Ini adalah upaya untuk menciptakan sistem yang lebih mudah dipantau dan diakui oleh berbagai pihak,” ujarnya. Dony menutup wawancara dengan harapan bahwa lembaga tersebut mampu menjalankan perannya dengan baik dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia.