Topics Covered: Mendukbangga: Bahasa kasih kunci jaga keharmonisan keluarga

Mendukbangga: Bahasa Kasih Menjadi Kunci Jaga Keharmonisan Keluarga

Topics Covered – Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar webinar bertema “Bahasa Kasih dalam Keluarga” secara daring pada Jumat (12/6). Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya komunikasi hangat dan pemahaman karakter dalam membangun hubungan keluarga yang harmonis, terutama di tengah tantangan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup modern.

Pendekatan Baru Dalam Memperkuat Hubungan Keluarga

Menteri Mendukbangga/Wakil Kepala BKKBN, Wihaji, menekankan bahwa bahasa kasih adalah elemen penting yang bisa menjadi alat untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga. Ia mengungkapkan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga penguasaan terhadap komunikasi berbasis kasih sayang dan pemahaman karakter dinilai sebagai kunci utama dalam menjaga keutuhan hubungan.

“Keluarga yang harmonis akan menjadi perisai bagi generasi muda dalam menghadapi perubahan dunia yang cepat. Dengan memahami bahasa kasih, sikap, serta cinta, sebagian besar masalah dapat diatasi,” ujar Wihaji dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.

Dalam era di mana teknologi semakin berkembang dan pola hidup masyarakat terus berubah, pendekatan lama dalam membangun hubungan keluarga dinilai kurang efektif. Wihaji menegaskan bahwa diperlukan metode baru, ilmu yang lebih dalam, dan cara komunikasi yang lebih manusiawi untuk menciptakan lingkungan keluarga yang sehat. Menurutnya, kemampuan memahami bahasa kasih dan karakter setiap anggota keluarga menjadi bekal penting agar mereka mampu beradaptasi dengan dinamika zaman.

Personality Types dan Pemahaman Emosional dalam Komunikasi

Seorang pakar neurosains dan konsultan keluarga, Aisah Dahlan, memberikan perspektif tambahan tentang peran bahasa kasih dalam dinamika keluarga. Menurut Aisah, watak manusia adalah sifat bawaan yang diturunkan secara genetik, tetapi perbedaan watak tidak boleh menjadi alasan untuk menilai seseorang sebagai baik atau buruk. Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki keunikan dalam kepribadiannya yang perlu dihargai dan dipahami.

“Watak bukanlah sesuatu yang statis. Meski program watak tertanam sejak lahir, kita bisa membentuknya melalui pengaruh lingkungan, pendidikan, dan nilai-nilai yang diterapkan sehari-hari,” kata Aisah.

Aisah menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan, pola asuh orang tua, nilai budaya, serta pilihan pasangan hidup memainkan peran kritis dalam membentuk kepribadian seseorang. Ia menambahkan bahwa pemahaman ini menjadi lebih praktis ketika dikaitkan dengan empat tipe kepribadian utama: sanguinis (ceria), koleris (tesa), plegmatis (tenang), dan melankolis (perfeksionis). Setiap tipe memiliki cara berkomunikasi dan interaksi yang berbeda, yang perlu dikenali oleh orang tua dan anggota keluarga untuk meminimalkan konflik.

Menurut Aisah, tipe sanguinis cenderung menyukai interaksi sosial dan ekspresi emosi yang terbuka, sementara koleris lebih memprioritaskan kejelasan dan keputusan yang tegas. Plegmatis, di sisi lain, biasanya menunjukkan sikap tenang dan stabil, sedangkan melankolis lebih sensitif terhadap detail dan kebutuhan akan kesempurnaan. Dengan mengenali karakteristik masing-masing, keluarga dapat merancang pendekatan komunikasi yang lebih efektif, baik dalam menyelesaikan masalah maupun membangun hubungan saling percaya.

Langkah Praktis Membangun Keluarga Harmonis

Kemendukbangga/BKKBN mengajak seluruh keluarga di Indonesia untuk terus memperkuat kualitas interaksi antaranggota melalui bahasa kasih yang tulus. Dalam praktiknya, ini bisa dilakukan dengan cara saling mendengarkan, mengekspresikan perhatian melalui kata-kata yang hangat, serta menghargai perbedaan karakter. Wihaji mengingatkan bahwa empati dan kepekaan terhadap kebutuhan anggota keluarga adalah hal yang tidak boleh diabaikan.

Pendekatan ini juga relevan dalam menghadapi tantangan modern, seperti kurangnya waktu bersama akibat pekerjaan sibuk atau penggunaan media sosial yang mengurangi komunikasi langsung. Aisah menyarankan bahwa keluarga perlu mengadaptasi metode komunikasi yang lebih modern, tetapi tetap menjaga inti dari bahasa kasih, yaitu kehangatan dan kepedulian. “Dengan menggabungkan ilmu baru dan tradisi lama, kita bisa menciptakan keluarga yang seimbang antara teknologi dan kehangatan emosional,” tambahnya.

Webinar yang digelar tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Harganas ke-33, yang bertujuan memperkuat peran keluarga dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik. Menurut Wihaji, pendekatan ini tidak hanya memperbaiki hubungan dalam keluarga, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan sosial secara keseluruhan. Ia berharap program seperti ini bisa menjadi referensi bagi masyarakat dalam merancang komunikasi yang lebih manusiawi di tengah era digital.

Dalam kesimpulan, baik Menteri Wihaji maupun Pakar Aisah Dahlan sepakat bahwa bahasa kasih adalah elemen kunci dalam menjaga keharmonisan keluarga. Dengan memahami watak dan kepribadian setiap individu, serta menerapkan komunikasi yang penuh empati, keluarga bisa menjadi unit yang kuat dan tangguh, bahkan di tengah perubahan yang terus-menerus. Webinar ini diharapkan menjadi wadah untuk memperkaya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pendekatan ini dalam kehidupan sehari-hari.

Peran Bahasa Kasih dalam Memperkuat Kualitas Keluarga

Menurut Aisah Dahlan, penggunaan bahasa kasih tidak hanya tentang ucapan, tetapi juga tindakan nyata yang menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan emosional anggota keluarga. Ia mencontohkan bahwa seseorang yang memiliki tipe kepribadian melankolis mungkin membutuhkan dukungan yang lebih terstruktur, sementara sanguinis mungkin lebih responsif terhadap penghargaan spontan. Dengan mengenali ini, keluarga bisa menyesuaikan gaya komunikasi dan dukungan yang diberikan.

Di sisi lain, Wihaji menyampaikan bahwa perubahan teknologi seharusnya tidak mengurangi keharmonisan keluarga. Justru, teknologi bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat komunikasi, asalkan digunakan secara bijak. Ia menekankan bahwa keharmonisan keluarga tidak tergantung pada alat komunikasi yang digunakan, tetapi pada keaslian dan kepekaan terhadap bahasa kasih yang diberikan.

Para peserta webinar menyampaikan bahwa materi ini sangat relevan dalam menjawab tantangan zaman. Beberapa peserta mengakui