Important Visit: Megawati ziarah ke makam Bung Karno di Blitar

Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar

Important Visit – Jakarta, Minggu – Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, yang juga ketua umum DPP PDI Perjuangan, melakukan ziarah ke makam Soekarno, proklamator dan mantan presiden pertama RI, di Blitar, Jawa Timur. Kegiatan ini dilaksanakan pada sore hari, menandai kunjungan yang kembali menghadirkan penghormatan terhadap perjuangan seorang bapak pendiri bangsa. Sebagai bentuk penghormatan dan refleksi, Megawati memilih momen ziarah untuk mengingat nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh ayahandanya.

Perjalanan dari Bali ke Blitar

Megawati tiba di Blitar setelah melakukan perjalanan dari Bali, dengan mendarat di Bandara Dhoho Kediri. Rombongan presiden langsung disambut oleh barisan kader yang telah menunggu dengan antusias. Ribuan pendukung dari Blitar dan Malang memadati lokasi untuk menyambut sang putri dari Soekarno. Kehadiran mereka mencerminkan pentingnya simbol-simbol kebangsaan dalam masyarakat.

“Berziarah ke makam Bung Karno adalah cara Ibu Megawati untuk merawat api perjuangan yang tak pernah padam. Di tengah dinamika bangsa yang semakin kompleks, Bung Karno mengajarkan bahwa pemimpin harus selalu kembali ke akar, ke rakyat, dan ke nilai-nilai Pancasila,” kata Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam siaran pers yang diterima di Jakarta.

Sebelum memasuki kompleks makam, Megawati berada dalam rombongan yang juga melibatkan putranya, M. Prananda Prabowo, serta cicitnya. Anggota keluarga besar lainnya, seperti Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno, turut mendampinginya. Rombongan perlahan bergerak menuju tempat persemayaman Soekarno, yang merupakan situs sejarah penting bagi bangsa Indonesia.

Dalam momen yang penuh makna, Megawati berdoa di makam sang proklamator sebelum memulai interaksi dengan rakyat. Ia keluar kompleks makam dengan menggandeng Prananda Prabowo, kemudian melambaikan tangan kepada penduduk yang menunggu dengan semangat. Tindakan ini memperkuat kesan dekatnya Megawati dengan rakyat, sekaligus menggambarkan dedikasinya terhadap nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh ayahandanya.

Tradisi yang Berkelanjutan

Sejak 2023, Megawati rutin mengunjungi makam Bung Karno sebagai bagian dari tradisi yang telah dijalankannya. Kegiatan ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga upaya untuk mengingatkan masyarakat tentang perjuangan nasional yang pernah dilakukan Soekarno. Ziarah tersebut sering kali bertepatan dengan momen politik penting, seperti peringatan haul atau even nasional.

Dalam ziarah kali ini, Megawati hadir bersama Sukmawati Soekarnoputri, saudara perempuan dari Bung Karno, yang turut berpartisipasi dalam memperingati haul ke-54. Selain itu, kegiatan tersebut juga bertepatan dengan peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), yang menjadi acuan penting dalam sejarah diplomasi Indonesia. Kehadiran Sukmawati dan sejumlah tokoh lain menegaskan bahwa ziarah ini merupakan perayaan kolektif bagi generasi Soekarno.

Sebagai bentuk penghormatan, Megawati juga mengajak partisipasi dari keluarga besar dan anggota DPP PDI Perjuangan. Rombongan elite partai, termasuk Deddy Yevri Sitorus, Hasto Kristiyanto, Darmadi Durianto, Ronny Talapessy, dan Said Abdullah, menyertai perjalanan tersebut. Mereka ditemani oleh sahabat Megawati, Connie Rahakundini Bakrie, serta anggota DPR RI Samuel Wattimena. Kehadiran mereka menegaskan peran partai dalam menjaga warisan Soekarno.

Pada 21 Juni 2024, Megawati berziarah dalam rangka haul ke-54 Bung Karno, sementara pada November 2025, ia kembali ke Blitar untuk memperingati 70 tahun KAA. Ziarah pada 29 Maret 2026 juga melibatkan berbagai tokoh keluarga, seperti Guruh Soekarnoputra, yang berlangsung bersamaan dengan doa bagi bangsa. Setiap kali mengunjungi makam, Megawati sering kali mencerminkan momentum nasional, termasuk Bulan Bung Karno tahun 2026, yang menandai penghargaan khusus terhadap tokoh sentral Republik Indonesia.

Di tengah kegiatan, Megawati menunjukkan keakraban dengan masyarakat. Usai berdoa, ia berjalan mendekati kerumunan rakyat, menarik tangan tiga anak, satu lelaki dan dua perempuan, sebelum berdialog dengan mereka. Interaksi ini memberi kesan bahwa Megawati tidak hanya menghormati sejarah, tetapi juga berkomunikasi langsung dengan rakyat. Kegiatan tersebut ditutup dengan pamitan kepada masyarakat dan perjalanan menuju mobil, di mana seorang ibu berkaos kuning memanggilnya “Bunda Mega” sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.

Sebagai bagian dari tradisi, ziarah ke Blitar menjadi momen penting dalam agenda politik Megawati. Kehadirannya menegaskan kembali komitmen PDI Perjuangan terhadap nilai-nilai Pancasila dan spirit proklamasi kemerdekaan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang mengenang peran Soekarno sebagai penulis pancasila dan pengusung persatuan bangsa. Dengan mengunjungi makam tersebut, Megawati memperkuat kesan bahwa perjuangan kebangsaan tidak pernah berakhir, melainkan terus berlanjut melalui generasi berikutnya.

Perayaan ini memperlihatkan bagaimana sejarah tetap relevan dalam konteks politik modern. Megawati, yang dianggap sebagai salah satu perwakilan keturunan Bung Karno, menjadikan ziarah sebagai media untuk menyampaikan pesan kepemimpinan yang berakar pada prinsip-prinsip dasar. Dengan melakukan hal ini, ia mengingatkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya tentang kemenangan masa lalu, tetapi juga tentang tuntutan masa kini.

Dalam suasana yang penuh semangat, Megawati tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga menjadi simbol dari kontinuitas kepemimpinan nasional. Setiap langkahnya di Blitar menunjukkan bagaimana seorang tokoh politik mampu menggabungkan tradisi sejarah dengan kebutuhan sosial dan politik saat ini. Kehadiran ribuan pendukung di sampingnya menegaskan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Soekarno masih hidup dalam masyarakat, bahkan di tengah tantangan-tantangan baru.