Topics Covered: Trump ancam serang Iran lagi jika gagal capai kesepakatan nuklir

Trump Mengancam Serangan Militer terhadap Iran Jika Kesepakatan Nuklir Tak Berhasil

Topics Covered – Washington, 14 Juni – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan dalam wawancara dengan The New York Times bahwa jika Iran tidak berhasil mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, ia akan mengambil tindakan militer terhadap Teheran. Ini terjadi menjelang negosiasi yang dijadwalkan dimulai di Swiss pada Jumat (14/6), menurut sumber pemberitaan. Trump menyatakan, kesepakatan tersebut berpotensi membuat Selat Hormuz “bebas bea masuk secara permanen,” tetapi ia mengancam akan mengambil langkah serangan jika Iran tidak memenuhi syarat.

Kesepakatan Damai dan Blokade yang Dicabut

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Senin (15/6), mengumumkan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan perdamaian setelah negosiasi intensif. Dalam pernyataannya, pihak-pihak terlibat menyatakan penghentian operasi militer di seluruh lini, termasuk di Lebanon. Trump mengonfirmasi perjanjian ini, menyebutnya “sekarang sudah lengkap,” dan dengan antusias menulis di platform Truth Social: “Selamat kepada semuanya! Saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, serta pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal di dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!”

“Selat Hormuz akan menjadi jalur bebas bea masuk, dan AS akan memastikan penghentian blokade. Kapal bisa berlayar tanpa hambatan,” tulis Trump.

Terlepas dari pencapaian ini, Trump mengakui bahwa kesepakatan tersebut masih menghadapi penolakan dari pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan menyerang Iran pada 28 Februari lalu dan blokade pelabuhan Iran setelah Selat Hormuz ditutup menjadi “keuntungan besar” bagi Amerika, berdasarkan wawancaranya.

Peluncuran Serangan dan Dampaknya

Selama wawancara, Trump menyinggung serangan Israel terhadap pinggiran selatan Beirut pada Minggu pagi (14/6), yang menewaskan tiga orang dan melukai lima belas. Serangan tersebut terjadi meskipun gencatan senjata yang disepakati melalui mediasi Pakistan masih berlaku. Trump mengkritik tindakan Israel, menyebutnya “seharusnya tidak terjadi” saat AS dan Iran hampir menyelesaikan perjanjian.

“Dia orang yang sangat sulit, dan jujur saja, dia seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena melakukan ini. Jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan selama dua jam,” ujar Trump.

Gencatan senjata antara AS dan Iran diumumkan pada 8 April 2023, setelah perang yang meletus pada 28 Februari. Trump menganggap tindakan militer ini membuka peluang bagi AS untuk menegaskan pengaruhnya di Timur Tengah. Namun, ia juga menyadari bahwa terdapat kompromi yang dibutuhkan untuk mengakhiri ketegangan, seperti penangguhan bea masuk di Selat Hormuz selama 60 hari.

Perbandingan dengan Kesepakatan Obama dan Penyesuaian Syarat

Trump menegaskan bahwa perjanjian dengan Iran saat ini berbeda dari kesepakatan nuklir 2015 yang dibuat pemerintahan Obama. Dalam wawancara, ia mengatakan bahwa kerangka kerja baru ini akan memastikan Iran “tidak dapat mengembangkan atau membeli senjata nuklir.” Meskipun demikian, ia mengakui bahwa komitmen tersebut bukan hal baru, karena Iran sudah terikat dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir sejak 1970-an.

Menurut The New York Times, Trump menekankan bahwa pihak Iran masih menegosiasikan apakah akan menangguhkan pengayaan uranium selama 20 tahun. Ia mengisyaratkan kemungkinan penangguhan selama 15 tahun, tetapi menyatakan bahwa Iran akan tetap terbatasi dalam tingkat pengayaan uranium yang “tidak akan pernah dapat digunakan oleh militer.”

“Kita akan memastikan Iran tidak mungkin mengembangkan senjata nuklir, meski mereka sebelumnya sudah menyetujui kewajiban serupa di perjanjian lama. Ini adalah langkah yang lebih aman untuk kita semua,” tutur Trump.

Kesepakatan Obama membatasi aktivitas nuklir Iran, termasuk pengayaan uranium pada tingkat rendah. Namun, setelah Trump menarik AS dari perjanjian tersebut pada 2018, Iran secara perlahan melebihi batasan, memperluas program pengayaan uranium dan mengancam AS di Teluk. Kini, Trump berupaya menyeimbangkan antara keamanan regional dan kepentingan nuklir Iran.

Proses Negosiasi dan Tantangan yang Dihadapi

Dalam tiga bulan negosiasi yang dipimpin oleh utusan khusus presiden Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, para pejabat Iran berulang kali menekankan bahwa Teheran tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium guna tujuan sipil. Trump menyatakan bahwa pihaknya masih berupaya memastikan Iran menangguhkan kegiatan tersebut selama 20 tahun, meski ia menyadari adanya ketegangan dalam proses.

Menurut laporan, keputusan Trump untuk menyerang Iran pada Februari lalu dan mengunci blokade pelabuhan Teheran telah memicu reaksi dari Teheran. Pemimpin Iran mengambil langkah pembalasan terhadap sekutu AS di Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz. Dengan kesepakatan yang baru dicapai, AS berharap bisa mengembalikan arus minyak ke selat tersebut, yang merupakan lalu lintas strategis.

Tidak semua syarat perjanjian terungkap sepenuhnya, tetapi Trump yakin bahwa komitmen Iran terhadap pengayaan uranium sudah cukup untuk memastikan stabilitas jangka panjang. Meski demikian, pihaknya masih mengawasi perkembangan negosiasi, termasuk keberhasilan Iran dalam memenuhi kewajiban yang dijanjikan.

Langkah-langkah Terkini dan Harapan ke Depan

Sebagai akibat dari kesepakatan ini, Trump menyatakan bahwa AS dan Iran akan fokus pada dialog regional untuk menentukan masa depan. Ia mengatakan bahwa ini adalah upaya untuk menghindari konflik yang berkepanjangan, tetapi juga menegaskan bahwa AS tetap siap mengambil langkah ekstra jika Iran tidak kooperatif. “Kita punya alternatif yang sangat kuat, dan itu selalu siap digunakan,” tambahnya.

Analisis oleh The New York Times menunjukkan bahwa keberhasilan kesepakatan ini bergantung pada kepercayaan Iran terhadap komitmen AS. Trump berharap bahwa negosiasi ini akan menjadi dasar untuk stabilisasi Timur Tengah, tetapi ia juga memperingatkan bahwa jika Iran tetap memperlebar kebijakan nuklirnya, AS akan kembali menunjukkan kekuatan militer. Dengan berbagai langkah yang diambil, Trump ingin menciptakan keseimbangan antara keamanan regional dan kepentingan diplomatik.

Secara keseluruhan, Trump melihat kesepakatan sebagai keberhasilan besar, meski ia mengakui bahwa prosesnya tidak mudah. “Kita membuat perubahan yang signifikan, dan ini adalah langkah penting untuk masa depan,” ujarnya. Dengan mengakhiri perang dan menegaskan kembali kemitraan, Trump berharap bisa memperkuat posisi AS di Timur Tengah tanpa mengorbankan kepentingan nuklir Iran.