BMKG: Kalsel didominasi zona merah karhutla pada Senin
BMKG: Kalsel Didominasi Zona Merah Karhutla pada Senin
BMKG – Menyusul kondisi cuaca yang kian mengering, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan bahwa wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) tengah berada dalam kondisi tinggi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Senin, 15 Juni 2026. Laporan dari prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor Banjarmasin, Putri Cahyaningsih, menyebut bahwa data spasial hingga pukul 07.00 Wita menunjukkan dominasi zona merah yang mencakup 13 kabupaten dan kota di Kalsel. Area ini berpotensi menyebabkan ledakan kebakaran akibat kekeringan ekstrem yang terjadi.
Kondisi zona merah menurut BMKG menggambarkan daerah dengan kemudahan terbakar sangat tinggi, sehingga setiap titik api bisa dengan cepat menyebar. Menurut Putri, parameter Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang digunakan dalam analisis menunjukkan bahwa bahan bakar seperti alang-alang, rumput kering, dan serasah daun sudah berada dalam kondisi sangat kering. Hal ini memudahkan api menyebar cepat dan memperparah kejadian karhutla di berbagai lokasi.
“Analisis BMKG menunjukkan bahwa bahan bakar ringan di permukaan lahan, seperti alang-alang, rumput kering, dan serasah daun, berada dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api,” jelas Putri Cahyaningsih.
Dari hasil pemantauan satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, dan NOAA20, BMKG mencatat adanya satu titik panas berkategori sedang di Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin. Titik api ini terdeteksi pada koordinat Bujur 115.2324 dan Lintang -2.9391, yang menunjukkan aktivitas panas di permukaan lahan. Meski belum terjadi kebakaran besar, titik panas ini menjadi indikasi awal bahwa potensi karhutla bisa meningkat jika tidak diawasi secara intensif.
BMKG menekankan bahwa kondisi cuaca kering yang berlangsung di Kalsel saat ini memperbesar ancaman terhadap kebakaran hutan dan lahan. Sebagai contoh, enam daerah yang terpantau paling rentan terhadap api meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, dan Kabupaten Kotabaru. Seluruh wilayah di daerah-daerah tersebut masuk ke dalam zona merah, artinya mereka tidak memiliki perlindungan alami terhadap api.
Kebakaran hutan dan lahan di Kalsel bukanlah kejadian baru. Pada beberapa tahun terakhir, daerah ini sering menjadi korban karhutla yang merusak ekosistem dan mengganggu kehidupan masyarakat. BMKG menilai bahwa kekeringan yang terjadi sekarang merupakan faktor utama yang memicu tingkat keparahan kebakaran. Dengan kelembapan tanah yang rendah, vegetasi kering bisa menjadi penyebab utama api yang meluas.
Menghadapi situasi ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Pemantauan lapangan dianggap krusial untuk mengantisipasi kebakaran sejak dini. Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas manusia seperti pembakaran sampah, kebocoran minyak, atau pembangunan di hutan harus diperketat. Peringatan ini juga ditujukan kepada masyarakat agar mereka lebih hati-hati dalam melakukan kegiatan di luar ruangan, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Pencegahan Karhutla Diutamakan
BMKG menegaskan bahwa pencegahan lebih baik daripada penanggulangan. Sebab, jika api sudah menyebar, dampaknya bisa sangat parah, termasuk menimbulkan asap yang mengganggu kesehatan masyarakat dan menyebabkan polusi udara. Untuk mempercepat respons, BMKG juga meminta masyarakat segera melaporkan titik api atau indikasi kebakaran melalui layanan informasi Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor. Layanan ini bisa diakses melalui nomor telepon (0511) 4705198 atau WhatsApp 08115042371.
Menurut data BMKG, zona merah di Kalsel mencakup hampir seluruh wilayah, sehingga tingkat kerawanan kebakaran hampir sama di semua kabupaten/kota. Kondisi ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya karhutla. Dengan lingkungan yang kering, setiap percikan api bisa menjadi titik awal perluasan kebakaran yang memakan korban besar.
Kebakaran hutan dan lahan juga berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Pada musim kemarau, kebakaran bisa mengganggu pertanian, kehutanan, serta kegiatan wisata. Oleh karena itu, BMKG meminta semua pihak untuk bersiap sejak hari ini. Penambahan upaya pencegahan, seperti pembuatan jalur pengendalian api dan penggunaan alat pemadam, dianjurkan untuk dilakukan secara bersamaan.
Pemerintah daerah sebaiknya memanfaatkan data BMKG sebagai bahan referensi dalam merencanakan strategi pencegahan. Dengan memahami pola kekeringan dan tingkat kerentanan wilayah, upaya pencegahan bisa lebih efektif. Sementara itu, masyarakat dianjurkan untuk melibatkan diri dalam kegiatan pembersihan sampah dan pengendalian api di lingkungan sekitar. Semua tindakan ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya karhutla yang mengancam kesehatan dan lingkungan.
Dalam situasi seperti ini, BMKG mengingatkan bahwa kekeringan bukan hanya berdampak pada cuaca, tetapi juga terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Jika tidak diatasi dengan cepat, dampaknya bisa mengguncang berbagai sektor. Oleh karena itu, upaya pengendalian harus terus dilakukan hingga kondisi cuaca kembali stabil. Dengan kesadaran dan kerja sama yang baik, Kalsel masih memiliki peluang untuk menghindari kejadian karhutla yang lebih besar.
Ketua BMKG Regional Kalimantan, yang belum disebutkan nama lengkapnya, menambahkan bahwa tahun ini, kondisi kekeringan tergolong lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada tingkat kemudahan terbakar yang mencapai angka tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Jadi, pemerintah daerah diimbau untuk melakukan langkah-langkah yang lebih proaktif dalam menghadapi ancaman ini.
BMKG juga memberikan prediksi bahwa kondisi kekeringan akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Dengan demikian, setiap orang, terutama yang tinggal di daerah rawan, harus siap menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran. Persiapan dan kewaspadaan diperlukan untuk mengurangi kerugian yang mungkin terjadi. Dengan menggabungkan data BMKG dan upaya dari masyarakat, Kalsel bisa menjadi daerah yang lebih aman dari karhutla.
