Pertamina pastikan kualitas BBM dengan pengelolaan “impurities” kilang
Pertamina Tegaskan Kualitas BBM dengan Pengelolaan Impurities di Kilang
Pertamina pastikan kualitas BBM dengan pengelolaan – Jakarta, Senin – PT Pertamina Patra Niaga terus berupaya menjaga kualitas produk bahan bakar minyak (BBM) yang dihasilkan, melalui penerapan metode pengelolaan impurities secara optimal di lingkungan kilang pengolahan. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, dalam pernyataannya di Jakarta, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen dengan menjamin mutu BBM seperti bensin, solar, dan avtur. Proses ini, lanjut Roberth, dilakukan sejak awal hingga akhir produksi, mulai dari pengolahan mentah di kilang, pengujian di laboratorium, hingga distribusi ke masyarakat.
Pertamina Patra Niaga memahami bahwa impurities—yaitu zat-zat pengotor yang secara alami terkandung dalam minyak mentah—dapat memengaruhi performa dan kualitas BBM. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan melakukan tiga tahapan pengelolaan impurities yang dirancang secara terpadu. Proses ini tidak hanya memastikan bahwa bahan bakar tetap memenuhi standar, tetapi juga menjaga kelangsungan operasional industri hilir migas serta kepercayaan publik terhadap produk yang dihasilkan.
Tahapan Pengelolaan Impurities di Kilang Pertamina
Langkah pertama adalah seleksi dan pencampuran minyak mentah menggunakan Crude Acceptance Matrix (CAM). Dengan sistem ini, Pertamina mampu mengoptimalkan fleksibilitas operasional kilang. Meski minyak mentah yang memiliki kadar impurities tinggi masih bisa diolah, perusahaan memastikan konsistensi kualitas produk akhir. Selain itu, tahap blending dilakukan untuk menyeimbangkan komposisi bahan baku, sehingga menghasilkan BBM yang sesuai standar nasional dan internasional.
“Pengelolaan impurities adalah bagian penting dalam rangkaian proses produksi BBM untuk menjaga keandalan dan mutu produk,” ujar Roberth.
Tahap kedua melibatkan pre-treatment dan chemical treatment. Pada proses ini, kadar air, garam, sulfur, nitrogen, serta logam berat seperti nikel, vanadium, dan merkuri diturunkan menggunakan teknologi desalter, hydrotreating, dan injeksi bahan kimia pelindung korosi. Teknologi desalter, misalnya, digunakan untuk menghilangkan air yang terkandung dalam minyak mentah, sementara hydrotreating membantu mengurangi sulfur yang bisa menyebabkan polusi udara.
Proses pre-treatment ini juga melibatkan pengujian berkala di laboratorium, di mana setiap tahap produksi dipantau secara ketat. Dengan demikian, perusahaan memastikan bahwa impurities tidak menghambat efisiensi kilang atau mengurangi daya tahan produk. Roberth menekankan bahwa teknologi ini memberikan dampak signifikan, terutama dalam menghasilkan BBM yang ramah lingkungan dan bermutu tinggi.
Manfaat BBM Euro 4 dari Pengelolaan Impurities
Tahap terakhir fokus pada asset integrity dan reliability, yaitu memastikan kilang beroperasi aman serta berkelanjutan. Hal ini dilakukan melalui penggunaan material antikorosi, inspeksi berkala, serta pemeliharaan rutin. Dengan pendekatan ini, Pertamina tidak hanya memperpanjang usia kilang, tetapi juga mengurangi risiko kerusakan akibat korosi yang memengaruhi kualitas BBM.
“Pengelolaan impurities tak hanya menjaga keandalan kilang, tetapi juga memberikan pengalaman berkendara yang lebih nyaman bagi konsumen,” jelas Roberth.
Dari tiga tahapan tersebut, Pertamina mampu menghasilkan BBM standar Euro 4. Produk-produk seperti Pertamax Turbo, Pertamax Green, dan Pertamina Dex memiliki kandungan sulfurnya lebih rendah dibandingkan BBM yang tidak memenuhi standar ini. Keunggulan Euro 4 terletak pada efisiensi pembakaran yang lebih baik, sehingga konsumsi bahan bakar berkurang. Selain itu, pengurangan emisi gas buang berdampak positif pada lingkungan, mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesehatan masyarakat.
Menurut Roberth, pengelolaan impurities juga berkontribusi pada keberlanjutan pasokan energi nasional. Dengan memastikan BBM yang dihasilkan memenuhi standar internasional, Pertamina mendukung ketersediaan energi yang andal dan berkualitas. Ini menjadi fondasi komitmen perusahaan dalam menjaga stabilitas industri migas Indonesia, khususnya di tengah tantangan global seperti fluktuasi harga minyak dan kebutuhan energi yang meningkat.
Pengelolaan impurities tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis. Melalui pendekatan ini, Pertamina memperkuat posisi sebagai penyedia bahan bakar yang terpercaya. Selain menjaga kualitas produk, perusahaan juga memastikan bahwa kilang-kilangnya beroperasi secara efektif, dengan meminimalkan hambatan dari zat-zat pengotor. Proses yang dipadukan dengan teknologi canggih ini, dijelaskan Roberth, merupakan bagian dari upaya meningkatkan daya saing sektor energi nasional.
Kualitas BBM yang dihasilkan Pertamina juga berdampak pada kinerja mesin kendaraan. BBM Euro 4 yang memiliki kadar sulfurnya lebih rendah, misalnya, mengurangi risiko korosi, sehingga mesin mobil tahan lama dan memperpanjang usia pakai. Dengan demikian, konsumen tidak hanya mendapatkan produk yang lebih ekonomis, tetapi juga lebih ramah lingkungan. Roberth menambahkan bahwa penurunan emisi dari BBM Euro 4 merupakan langkah nyata dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan.
Sebagai bagian dari Pertamina, perusahaan ini terus berinovasi untuk menjawab tantangan pasar dan kebutuhan konsumen. Pengelolaan impurities yang terstruktur dan diawasi secara ketat menjadi bukti komitmen Pertamina Patra Niaga dalam memberikan nilai tambah kepada masyarakat. Proses ini juga membantu meningkatkan kepercayaan publik terhadap keandalan produk BBM yang dijual di pasar Indonesia.
Dengan menerapkan tiga tahapan ini di enam kilang yang beroperasi, Pertamina memastikan bahwa setiap liter BBM yang sampai ke konsumen telah melewati standarisasi yang ketat. Roberth menegaskan bahwa upaya ini tidak hanya untuk memenuhi regulasi pemerintah, tetapi juga sebagai respons terhadap permintaan konsumen akan BBM yang lebih bersih, efisien, dan memenuhi standar internasional. Proses pengelolaan impurities, katanya, adalah langkah krusial dalam membangun industri migas yang berkelanjutan dan inovatif.
