Warga Desa Gunung Putri Situbondo kesulitan air bersih saat kemarau
Warga Desa Gunung Putri Situbondo Alami Kekurangan Air Bersih Saat Kemarau
Warga Desa Gunung Putri Situbondo kesulitan – Di tengah musim kemarau yang terus berlangsung, warga Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, ketika sumber mata air utama yang biasa digunakan masyarakat mulai mengering. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa debit air di sumber tersebut telah berkurang drastis, sehingga mereka harus mengambil air dari jarak yang lebih jauh, sekitar satu kilometer, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Perubahan Pola Pengambilan Air
Menurut salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, keluarga mereka terpaksa berjalan kaki ke sumber air yang lebih jauh setiap hari. “Dulu, kami bisa mengambil air dari sumber yang dekat, tapi sekarang harus jauh lebih keras. Terutama saat cuaca terik, jalanan berlumpur, dan ember harus dibawa sejauh satu kilometer,” ujar warga itu. Kondisi ini memaksa masyarakat mengubah rutinitas mereka, dengan menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga untuk mengisi kebutuhan air sehari-hari.
“Kami harus mengambil air lebih awal di pagi hari agar tidak terlambat. Kalau tidak, air di rumah bisa habis dalam sehari,” kata warga lainnya, Rina, 45 tahun, yang telah tinggal di desa tersebut selama 15 tahun. Ia menambahkan bahwa kondisi ini terjadi setiap musim kemarau, namun tahun ini lebih parah karena hujan tidak kunjung datang sejak bulan April lalu.
Kemarau yang berlangsung lebih lama dari biasanya menyebabkan permukaan air di danau dan sungai turun signifikan. Sejumlah sumber menyebut bahwa kondisi ini berdampak pada kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak dan lansia yang kesulitan berjalan jauh. “Anak-anak sering merasa lelah karena harus membawa ember berisi air setiap pagi. Selain itu, air yang diambil dari sumber jauh terkadang kurang bersih dan perlu diolah lebih lanjut,” jelas Rina.
Pola Hidup yang Berubah
Ketersediaan air bersih yang terbatas memaksa warga Desa Gunung Putri mengambil langkah kreatif untuk mengatasi masalah ini. Beberapa keluarga menggunakan sumur bor yang dikelola secara bersama, sementara yang lain mengandalkan air dari sungai yang masih bisa diakses. Namun, kualitas air dari sumber tersebut sering kali tercemar oleh sampah dan kotoran yang mengendap, membuat warga khawatir akan kesehatan mereka.
“Pernah ada hari di mana air di sumber tersebut sangat keruh dan bau. Kami harus menyaring air menggunakan tisu atau batu karang agar bisa diminum,” ungkap seorang warga, Teguh, 38 tahun. Ia menekankan bahwa masalah ini bukan hanya tentang ketersediaan, tetapi juga kualitas air yang semakin menurun.
Karena jarak sumber air yang jauh, warga juga mengalami peningkatan biaya transportasi. Beberapa orang mengelola kendaraan roda dua untuk membawa air ke rumah, sementara yang lain menggunakan kekerabatan untuk saling bantu-membantu. Meski demikian, pihak desa masih berupaya memperbaiki kondisi dengan menggalakkan penghematan air dan memperbaiki infrastruktur penyimpanan.
Upaya Pemda dan Masyarakat
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Situbondo telah mengirimkan tim untuk mengevaluasi kondisi sumber air di desa tersebut. Tim tersebut menemukan bahwa kurangnya curah hujan dan peningkatan kebutuhan air untuk pertanian menyebabkan penggunaan air yang tidak terkendali. “Kami sedang berupaya mengembangkan sistem distribusi air yang lebih efisien, termasuk membangun pompa air untuk mengalirkan air dari sumber yang lebih dalam,” kata Kepala Dinas, Bambang, dalam wawancara terpisah.
Di sisi lain, warga Desa Gunung Putri berupaya mengatasi kekeringan dengan menanam tanaman yang membutuhkan air lebih sedikit. Sejumlah petani juga memperbaiki sistem irigasi untuk mengoptimalkan penggunaan air. Namun, upaya ini masih terbatas karena keterbatasan dana dan tenaga. “Kami memohon bantuan dari pemerintah pusat untuk menangani masalah ini secara serius,” ujar salah satu tokoh masyarakat, Suryadi, yang juga pengurus kelompok tani lokal.
Kondisi Lingkungan yang Menurun
Seiring berjalannya waktu, kekeringan juga memengaruhi kondisi lingkungan sekitar. Tanah di sekitar sumber air mulai retak karena penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air secara berlebihan. “Kami melihat bahwa tanah di sekitar sumber air semakin gembur, bahkan ada bagian yang mulai mengalami erosi,” kata seorang warga, yang mengambil air di pagi hari.
Para ahli menilai bahwa fenomena ini bisa terjadi karena perubahan iklim yang semakin ekstrem. “Musim kemarau di Jawa Timur semakin lama, sehingga sumber air alami seperti danau dan sungai sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Dr. Dian, ahli lingkungan dari Universitas Brawijaya. Ia menambahkan bahwa desa-desa yang bergantung pada sumber air alami perlu memiliki rencana cadangan air untuk menghadapi situasi seperti ini.
Sementara itu, para warga Desa Gunung Putri masih berharap bahwa hujan akan datang segera untuk mengembalikan kehidupan normal. Mereka juga berharap pemerintah daerah bisa memberikan bantuan yang lebih besar, seperti pembangunan embung atau saluran air tambahan. “Kalau air tidak datang, kami takut kebutuhan sehari-hari akan semakin sulit terpenuhi,” kata Rina, yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Kebutuhan Air dan Kehidupan Sehari-Hari
Kurangnya pasokan air bersih juga memengaruhi kegiatan sehari-hari seperti mandi, cuci, dan masak. Warga memperkirakan bahwa mereka akan menghabiskan sekitar 20 liter air per hari untuk kebutuhan dasar, namun pasokan hanya mencukupi sekitar 10 liter. “Kami harus mengurangi penggunaan air, bahkan saat memasak. Kalau tidak, air akan habis sebelum hari Jumat,” kata Teguh.
Sejumlah warga yang memiliki akses ke air minum kemasan juga menggunakan opsi ini sebagai solusi sementara. Namun, harga air kemasan yang mahal membuat mereka terpaksa memilih cara lain. “Kalau membeli air kemasan, biayanya bisa mencapai Rp 5.000 per liter, sedangkan air dari sumber jauh harganya lebih murah, tapi tidak selalu bersih,” jelas Rina.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Situbondo, kekeringan tahun ini mengakibatkan penurunan 30 persen pada produksi pertanian di daerah tersebut. “Karena air terbatas, sebagian besar petani memutuskan untuk menanam tanaman yang bisa bertahan di musim kemarau, seperti kacang dan jagung,” kata Kepala Desa, Idris, dalam wawancara. Ia menambahkan bahwa desa tersebut belum memiliki cadangan air yang memadai, sehingga masyarakat terus memantau kondisi sumber air secara berkala.
Situasi ini juga memicu munculnya keluhan dari warga tentang kualitas hidup yang semakin menurun. “Kami merasa lebih
